
"Tempat apa yang menurutmu paling seru ?" tiba-tiba Karel memberikan pertanyaan, Mora yang mendengar itu pun menjawab sesuai pendapatnya.
"Banyak, ada mall, taman bermain, pusat kota, museum, pantai, atau mungkin puncak." seru Mora menyebutkan semua tempat yang ia suka.
"Museum, kamu sering kesana ?" tanya Karel
"Tidak juga, aku lebih sering ke pantai sih atau kalau ngga puncak." seru Mora, ia jadi teringat dengan Arsen saat membahas soal tempat wisata seperti ini.
"Kamu tertarik untuk kemana gitu ?" ucap Karel kembali, Mora menoleh, ucapan itu seperti sebuah tawaran, Mora berfikir kembali.
"Gimana kalau kita ke museum trus sore nya ke pantai ?" ucap Mora dengan nada riang di akhiri dengan tawa pelan. Dia yakin Karel tak akan setuju, mana mau orang seperti Karel menghabiskan waktu nya untuk ke pantai.
"No bad" Karel segera melajukan mobil nya menuju museum, tangan nya terulur untuk menggenggam tangan gadisnya. Sesekali mengusapnya dengan lembut.
"Tapi kamu beneran udah sembuh kan by" Karel menatap Mora dengan lembut. Takut-takut jika ternyata Mora masih merasakan sakit.
"Sakit nya cuma pas awal-awal kok"
"Tapi bukannya kamu masih dalam masa itu ?" Mora terkekeh saat melihat wajah Karel yang memerah. Ia menganggukkan kepala nya.
"Biasanya sampai satu Minggu, tapi kalau sakitnya biasa nya cuma 1 hari doang waktu awalan."
"Apa kamu ngga cape nanti, kalau semisal berkeliling museum ?" ucap Karel ragu, ia benar-benar ragu dan ingin membatalkan niatnya untuk jalan-jalan dengan Mora.
"Kamu meragukan aku, dulu waktu kuliah aku aktif banget, sampai waktu masa seperti ini pun aku ikut banyak sekali kegiatan, dari pagi sampai petang. Tapi semuanya ngga bikin aku sakit kok. Jadi berkeliling satu museum tentu ngga akan bikin aku pingsan." Mora berusaha menyakinkan Karel, dia tipikal orang yang aktif, jadi tidak ingin jika rencana ini batal hanya karena dia yang dalam masa menstruasi.
__ADS_1
"Yakin ?"
"Hmm" Mora menganggukkan kepala nya.
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang mereka pun bisa sampai di museum yang tidak terlalu jauh dari kantor Ivander. Karel turun dan menggenggam tangan Mora, mereka memasuki pintu museum dengan saling bergandengan tangan.
Di sepanjang perjalanan mereka banyak sekali melihat hal unik yang membuat mereka berdua takjub, seperti patung, karya seni, alat musik kuno, kerangka-kerangka hewan dan banyak lagi.
"Benar-benar tempat yang lekat dengan sejarah" seru Mora sambil menghampiri salah satu tempat yang menunjukkan titik lokasi negara Nusantara. Di mana itu di ambil dalam masa peperangan masa dahulu yang di buat khusus sebagai kenangan pada masa lampau.
Ada juga banyak kerangka pesawat masa dahulu yang sengaja di buat dan di abadikan di dalam kaca besar yang membuat Mora tak henti-hentinya takjub.
"Kamu terlihat begitu tertarik ?" seru Karel sambil memperhatikan ekspresi antusias gadis itu.
"Aku memang sangat tertarik dengan sejarah, namun karena alasan satu hal membuat ku turun ke dalam dunia bisnis." seru Mora sambil tersenyum tipis. Dapat Karel lihat dengan jelas ada ekspresi sedih di wajah gadis itu.
"Ayo lanjut berkeliling, aku tak mau jika kita terlalu sore tiba di pantai" Mora mengandeng lengan Karel dan membawa laki-laki itu untuk pergi dari sana.
Karel sendiri hanya menurut, membiarkan gadisnya membawa ia kemanapun yang gadis itu suka. Intinya waktu nya hari ini adalah milik Mora, maka kemanapun gadis itu ingin ia akan menurutinya.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju pantai tepat saat jam sudah menunjukkan pukul 2 sore.
"Kamu tidak merasa lapar by" ujar Karel, ia menoleh saat tak mendapat jawaban. Melihat Mora yang ternyata tertidur membuat Karel terkekeh.
"Pantas saja sedari tadi rasanya sangat sunyi, ternyata tertidur rupanya." Karel menghentikan mobil nya saat sudah sampai di tempat tujuan, laki-laki itu merapikan anak rambut gadisnya yang menjuntai dan sedikit berantakan.
__ADS_1
Cup
"Sepertinya kelelahan" Karel pun menyandarkan tubuhnya. Ia tak ingin membangunkan gadisnya, lagi pula hari masih terik-terik nya, dia tak ingin membangunkan tidur lelap gadis itu.
Karel lalu mengambil handphone nya, ia meniti laporan yang baru saja di kirim oleh asisten nya sambil menunggu Mora bangun. Laki-laki itu tampak fokus dan merasa tak terganggu meski harus berfikir dan bekerja di dalam mobil.
Ia membuka kaca depan agar angin dapat masuk, lalu mulai meneliti laporan yang baru saja di terima. Memang dalam hal ini Karel sangat teliti, ia tak ingin ada satu orang pun pekerja dalam perusahaan Ivander yang salah dalam membuat laporan. Maka dari itu setiap ada pembuatan laporan ia akan mengecek nya sendiri dan memastikan laporan itu benar-benar tak ada kesalahan sejengkal pun.
Setengah jam kemudian, tampak Mora memberikan tanda-tanda akan bangun, dua detik kemudian mata gadis itu terbuka lalu gadis itu tampak mengucek mata nya.
"Eugh" Mora nampak merenggangkan otot nya yang nampak pegal karena tertidur dalam posisi duduk. Gadis itu menatap Karel yang sedang menatap nya dengan senyum kecil.
"Kenapa tidak membangunkan ku" Mora nampak protes saat ternyata mereka sudah sampai dan Karel hanya memperhatikan nya sedari tadi.
"Kamu nampak sangat pulas, aku tak ingin menganggu putri tidur"
"Ck" Mora pun menatap keluar, angin tampak menerpa wajahnya dari luar jendela.
"Ayo turun" seru Mora sambil membuka pintu mobil.
"Sebentar ya aku mau ke toilet buat mencuci wajah" Karel hanya memberikan anggukan, Mora segera saja mencari toilet, gadis itu membasuh wajahnya yang tampak ketara sekali baru bangun dari tidur.
Lalu Mora memberikan bedak tipis di wajahnya, juga tak lupa mengoleskan lipstik di bibirnya membuat tampilan nya menjadi lebih segar.
Gadis itu juga menyemprotkan parfum pada baju nya sehingga kini tampilan nya begitu cerah.
__ADS_1
"Oke waktunya menghabiskan waktu" Mora keluar dari kamar mandi dengan senyum yang mengembang.