
Mora duduk di sebuah gazebo dekat pantai, memandang lautan biru di hadapannya dengan raut wajah takjub, sering pergi ke pantai tak membuatnya merasa bosan, malah ia merasa semakin ingin untuk menikmati nya.
Saat ini Karel sedang pergi ntah kemana, tadi lelaki itu pamit sebentar untuk pergi ke toilet, tapi sampai sekarang pun tak juga kembali ntah dimana keberadaannya.
Mora melihat sekeliling, sedari dulu pantai adalah tempat yang tak pernah sepi, selalu ada saja orang yang mendatanginya. Itu juga yang menjadi daya tarik Mora menyukai pantai, karena selain suasana nya yang menyenangkan, pantai juga salah satu tempat yang mampu memberikan ketenangan.
"Boleh saya duduk ?" Mora yang sedari tadi fokus dengan dunia nya mendongak saat mendengar suara yang tak asing.
Deg
Gadis itu termenung sejenak nampak terkejut dengan seseorang di samping nya yang juga nampak memberikan ekspresi terkejut.
"Mora" ucapan lirih itu terdengar bagai lagu yang mengalun lirih penuh dengan misteri yang menakutkan. Bagaimana tidak mengerikan, lelaki yang berdiri di depan Mora adalah seseorang yang pernah memasuki hidup Mora di masa lalu. Bahkan dulu Mora sudah sangat berharap untuk tidak bertemu dengan laki-laki ini lagi.
"Ehm" Mora berdehem sambil menetralkan raut wajahnya agar terlihat lebih tenang, meskipun pada faktanya kini jantung nya nampak berdetak dengan keras antara speechless dan takut.
"Hai" Mora mencoba untuk tersenyum semanis mungkin, menunjukkan bahwa kehadiran laki-laki di samping nya itu tak mempengaruhi apapun pada dirinya.
Laki-laki itu ikut menerbitkan senyum, lalu tanpa berkata apapun duduk di samping nya, padahal Mora belum mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk.
"Sendiri ?" Mora terdiam sambil mencerna ucapan itu, gadis itu pun segera menjawab.
"Engga" jawab Mora singkat, sungguh dia sedang tidak merasa takut, hanya saja sedikit sulit untuk berbicara.
"Oh sama Arsen ?" Mora menghela nafas, ia lalu menatap laki-laki di samping nya.
"Sudahlah Arga, aku kesini dengan siapapun itu bukan urusan mu." Mora berusaha berbicara sehalus mungkin, ia menoleh ke kanan dan kiri, Karel tak juga datang, padahal dia sudah sangat malas berbicara dengan lelaki di samping nya itu.
"Mencari siapa ?"
"Sayang kamu lama sekali sih" saat melihat Karel berjalan ke arahnya tanpa menunggu Mora langsung saja menghampiri, gadis itu memeluk lengan Karel dengan erat seolah menegaskan bahwa ia adalah gadis yang sangat mencintai pasangan nya.
__ADS_1
Mora tak memperdulikan Arga yang menatap nya dengan mengernyitkan dahi.
"Aku sedang menelfon Vino tadi" sahut Karel dengan nada datar, ia menggenggam telapak tangan Mora yang melingkar di lengan nya.
Raut wajah Karel sejak datang tadi sudah tanpa ekspresi, ia juga sadar bahwa ada seorang laki-laki yang memperhatikan mereka, namun Karel memilih untuk tidak peduli akan itu semua.
"Benarkah ?" tanya Mora lembut, Karel menatap mata gadis itu yang mendongak dan menatap mata nya dalam.
"Hm"
"Ya sudah, kita pergi yuk, oh ya Arga, kami permisi duluan ya" ucap Mora, lalu tanpa menunggu balasan dari Arga gadis itu menarik lengan Karel dan membawa laki-laki itu pergi.
Setelah mereka sudah jauh dari Arga, Mora pun melepaskan rangkulan nya, tapi setelah itu ia menggenggam telapak tangan Karel. Raut wajah nya nampak menunjukkan kekesalan.
"Lama banget sih, tadi kemana aja coba" ucap Mora cemberut, ia benar-benar di buat jengkel karena Karel meninggalkan nya begitu saja dalam waktu yang lama.
"Bukannya aku sudah mengatakan alasannya ?"
"Bukannya itu menguntungkan, buktinya kamu jadi bisa kembali berbincang dengan mantan." sahut Karel tanpa menoleh.
"Mantan apa sih, orang aku tuh ngga pernah ada hubungan lebih sama dia." sahut Mora, gadis itu nampak tak terima mendengar ucapan Karel.
"Yakin ?" seru Karel sambil tersenyum sinis.
"Ish" Mora mencubit pinggang Karel, gadis itu menghentakkan kaki nya lalu melepaskan genggaman tangannya. Namun Karel segera menggenggam tangan mungil itu dengan erat lalu menarik nya sehingga Mora jatuh ke dalam dekapan laki-laki itu.
"Marah hem"
"Ngga ya, aku cuma kesel tapi sama dia"
"Kenapa ?"
__ADS_1
"Ngga tau aja, setiap ketemu dia bawaan nya kesel terus."
"Ya udah, kan udah ngga lihat dia. Jangan merajuk lagi hem." Karel mengusap rambut gadis itu dengan lembut, lalu mengecup rambut itu dengan sayang. Wangi tubuh Mora benar-benar membuatnya candu, seolah mampu menarik nya untuk terus mendekat.
"Ngga kok"
Karel membawa Mora untuk berjalan menuju salah satu gazebo, di sana mereka bisa melihat laut yang terus saja berjalan dengan ombak nya yang cukup besar.
Mereka berbincang berdua di sana sambil makan makanan yang tadi di beli oleh Mora saat melihat penjual seafood.
"Kenapa kamu bisa sangat menyukai pantai ?" tanya Karel sambil menatap Mora yang menyuapkan cemilan ke dalam mulut.
"Tidak tau"
"Kok gitu ?"
"Entahlah menurut ku tidak perlu alasan untuk menyukai sesuatu, karena itu alami saja ada di dalam hati. Merasa nyaman dan aman." sahut Mora dengan senyum di bibirnya, Karel mengusap lembut wajah manis gadis itu.
"Apakah kamu merasa aman dan nyaman dengan ku" tanya Karel dengan jantung yang berdetak cepat.
"Hem" Mora mengangguk, mata gadis itu bertatapan dengan mata hitam Karel.
"Apakah itu berarti..." Karel tak melanjutkan ucapan nya, laki-laki itu menatap mata Mora dengan lembut.
"Aku menyukaimu tuan Ivander" sahut gadis itu sambil menggenggam telapak tangan Karel yang besar.
"Sejak kapan ?" Karel merasa sedikit senang saat mendengar pengakuan gadisnya, hati nya terasa seperti di gelitiki oleh ribuan kupu-kupu.
"Aku juga tak terlalu menyadari nya, yang aku tau aku begitu takut kehilangan mu." sahut Mora lirih. Karel tersenyum di sana sehingga membuat Mora tercenung sejenak. Moment ini sangat langka, Karel sangat jarang menerbitkan senyum nya. Seolah menarik bibir itu membutuhkan tenaga ekstra.
"Apa ini serius" tanya Karel belum sepenuhnya percaya, akibat mendapat penghianatan di masa lalu membuatnya terlalu takut untuk mengantungkan perasaanya kembali. Apalagi kini hati nya sudah jatuh terlalu dalam pada gadis di depannya itu.
__ADS_1
"Percaya padaku, karena sikap mu sudah mampu merobohkan dinding pertahanan ku tuan."