IVAMORA

IVAMORA
Mampu Menyesuaikan Diri


__ADS_3

"Udah lama nunggunya ?" tanya Mora sambil menghampiri Karel yang duduk di sofa ruang tamu.


"Lumayan" seru Karel singkat, laki-laki itu berdiri dari duduk nya, menggenggam tangan Mora lalu membawa gadis itu pergi.


Di sepanjang perjalanan Mora terus saja menghela nafas, dan hal itu rupanya di sadari oleh Karel.


"Jangan gugup" seru laki-laki itu, Mora menghela nafas kembali.


"Aku merasakan nya karena baru pertama kali ini bertemu keluarga mu." seru Mora berterus terang, dia sedang memikirkan banyak hal, jika Karel saja sedingin ini lalu bagaimana sikap keluarga nya.


"Aku tidak akan membiarkan mereka memperlakukan mu dengan buruk." Mora mengangguk meski merasa sulit untuk percaya, mana ada laki-laki yang menentang keluarga nya sendiri.


Kini mobil mewah milik Karel telah berhenti, Mora memperhatikan luar sana yang berdiri sebuah mansion yang sangat besar nan mewah, tak kalah mewah dengan mansion besar Karel.Mora meneguk ludah nya, astaga kenapa dia merasa se gugup ini.


Karel kembali menggenggam tangan nya lalu membawa nya masuk ke dalam mansion itu, laki-laki itu membawa langkah kaki Mora menyusuri setiap ruangan yang ada di mansion itu.


"Bagian depannya saja semewah ini, astaga mendadak aku merasa gugup" Mora berbicara dalam hati dengan semua pemikiran rumit di pikirannya, sungguh gadis itu baru kali ini berada di mansion sebesar ini.


"Karel" tiba-tiba terdengar suara bariton seorang lelaki yang terdengar nyaring dalam ruangan itu, suara itu mampu membuat langkah kaki Mora berhenti seketika, gadis itu menatap Karel yang masih berdiri di samping nya dengan wajah yang sama, dingin.

__ADS_1


"Setelah berhasil, kamu benar-benar melupakan keluarga mu cucu nakal." Mora menoleh ke asal muasal suara itu, di ruang tamu luas itu yang banyak terdapat sofa panjang terlihat seorang lelaki dengan rambut yang sebagian sudah memutih nampak berdiri sambil menatap tajam ke arah mereka, tatapannya begitu tajam sehingga mampu mengintimidasi siapapun yang berhadapan dengannya.


Karel melangkah kan kaki nya menghampiri lelaki itu, tak lupa tangannya masih setia menggenggam tangan halus Mora.


"Selamat malam Tuan Lewis, bagaimana keadaan anda ?" tanya Karel, nada ucapannya datar sama seperti air wajahnya saat ini.


Lelaki itu menghela nafas saat mendengar ucapan cucu nya itu.Nampaknya semuanya belum juga berakhir.


"Siapa gadis yang kamu bawa ini" atensi Mora kembali beralih pada lelaki yang kini berjalan ke arahnya, laki-laki itu tersenyum teduh di balik wajahnya yang mulai keriput.


"Halo tuan, perkenalkan saya Mora, saya bekerja bersama tuan Karel selama ini sebagai sekertaris." Mora memilih memperkenalkan diri sebagai sekertaris Karel.


"Eh biasa saja tuan jangan terlalu melebihkan." seru Mora, saat ini dia berusaha bersikap biasa di hadapan laki-laki yang sepertinya kakek tuan nya itu.


"Panggil saya kakek saja ya, pasti akan terdengar lebih nyaman." Mora berfikir sebentar, nampak ragu untuk memanggil laki-laki di depannya dengan panggilan seakrab itu.


"Ayo ikut kakek, para maid sudah membuat banyak makanan untuk kalian." Mora menurut saja saat laki-laki paru baya itu menarik lengan nya untuk kembali berjalan, mereka tampak berjalan melewati beberapa ruangan, sampai mereka tiba di sebuah ruang makan yang tampak mewah dan sangat besar. Lagi-lagi Mora menelan ludah, astaga apakah ini beneran mansion ? kenapa lebih pantas disebut istana.


"Duduklah nak Mora" laki-laki itu mempersilahkan Mora untuk duduk di kursi makan. Mora duduk dengan patuh, gadis itu melihat Karel yang kini berdiri di samping nya.

__ADS_1


"Tuan tidak duduk" seru Mora sambil mendongak, Karel hanya terdiam sambil menatap dingin ke arahnya.


"Duduk lah Karel, kita makan bersama" seketika ruangan itu menjadi hening, Mora merasa bahwa hubungan tuan nya dan kakeknya itu tidak baik, karena sedari tadi Karel sama sekali tak memberikan sapaan hangat seperti kebanyakan yang cucu lakukan saat bertemu kakek nya.


Akhirnya Karel pun menurut, laki-laki itu duduk di samping Mora, setelah mereka duduk beberapa maid pun datang, sebagian dari mereka mulai membuka penutup wadah makanan yang ada di atas meja satu persatu.


Banyak sekali makanan mahal yang tersaji di atas meja itu, setelah memastikan semua makan malam lengkap tanpa ada yang kurang, para maid itu pun pergi dari area ruang makan.


"Silahkan di makan nona Mora, saya tidak tau jika Karel mengajak seseorang. Makanya hanya memasak seadanya." seru Tuan Lewis.


"Memasak seadanya bagaimana, bahkan ini bisa di makan satu kampung" lagi dan lagi Mora hanya bisa menerbitkan senyum nya.


"Terimakasih tuan, saya benar-benar merasa beruntung karena bisa makan bersama dengan seorang pebisnis legendaris seperti anda." seru Mora sambil kembali menerbitkan senyumnya, melihat bagaimana wibawa nya lelaki di dekatnya itu tentu saja membuat Mora sadar bahwa lelaki itu bukan orang sembarangan, semuanya terjadwal dengan sangat teratur apalagi cara menatapnya yang seperti elang di usia nya yang tak lagi muda membuat Mora merasa segan.


Tuan Lewis hanya tersenyum kecil, ia mulai menyuapkan makanan di piring nya yang tadi di siapkan oleh maid. Di ikuti oleh Mora dan Karel. Mereka makan tanpa mengucapkan apapun, bahkan suara sendok pun tidak terdengar.


Mungkin orang seperti tuan Lewis tidak suka mendengar suara berisik ketika makan, untung saja Mora bisa menyesuaikan diri, dulu saat kuliah dia mengikuti sebuah organisasi yang mengharuskan untuk diam saat makan.


Saat makanan Mora tersisa sedikit, ternyata tuan Lewis sudah menyelesaikan makan malamnya, lelaki itu menaruh garpu dan pisau kecil di piring tanpa menimbulkan suara lalu mengambil tisu dan mengusap mulut nya dengan amat sangat halus. Semua itu tidak lepas dari pandangan Mora. Gadis itu ikut mengambil tisu dan membersihkan mulut nya seperti yang tuan Lewis lakukan.

__ADS_1


Lalu tuan Lewis mulai meminum minumannya, Mora pun melihat nya dengan intens lalu ikut melakukan hal yang sama. Bahkan gadis itu tak menyisakan bekas air sama sekali dalam gelas nya.


__ADS_2