IVAMORA

IVAMORA
Terjebak


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mora berangkat ke kantor, dengan membawa bekal yang berada di tas nya, gadis itu melangkah cepat menuju ruangan nya, kantor masih terlihat sepi, karena beberapa karyawan berangkat beberapa jam nanti.


Gadis itu menyapa penjaga yang berdiri di gerbang kantor, lalu masuk, berusaha membuka ruangan milik nya yang ternyata masih terkunci. Akhirnya Mora memilih untuk duduk di depan ruangannya. Gadis itu mengambil bekal di dalam tas karena merasa lapar.


Tadi Mora tidak sarapan di rumah, gadis itu hanya meminta bekal kepada bibi, kemarin malam, Diana memberikan tugas padanya, itu pun ketika jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sehingga Mora tidak mengerjakannya, tujuan Mora ke kantor dengan cepat adalah untuk mengerjakan tugas itu, karena contoh pekerjaan itu ada di meja Diana, yang berdekatan dengan ruangan nya.


"Emm, aku ngga nafsu makan, hari masih sangat pagi" gumam Mora di lorong itu sendirian, kantor masih terlihat sangat gelap, karena jam yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Hanya demi pekerjaan dari Diana.


BRAKK


Mora tersentak kaget saat mendengar suara keras di lorong itu, gadis itu menoleh ke kanan dan kiri memastikan apa yang baru saja dia dengar, suara itu tadi terdengar dari ruangan CEO kalau Mora tidak salah mendengar, gadis itu berdiri, lalu mendekat ke ruangan di samping kanan nya.


Ruangan CEO berada satu lantai dengan ruangan sekertaris, gadis itu tak berani masuk ke dalam, padahal pintu tidak di kunci, menandakan ada orang di dalam sana. Mora ingin mengetuk pintu, tapi takut jika di dalam adalah seorang penjahat.


"Aduh gimana nih, aku takut lagi" Mora menggigit jarinya merasa bingung, gadis itu penasaran ingin masuk ke dalam, tapi merasa ragu juga.


"EHM" Mora kembali di kejutkan oleh suara khas di hadapannya, gadis itu mendongak, melihat laki-laki yang kini berdiri di hadapannya dengan pakaian yang kusut.


"Tuan"


"Ngapain kamu berdiri di ruangan saya ?" Mora gemetar mendengar itu, gadis itu tak menyangka jika Karel berada di kantor sepagi ini, apalagi penampilan laki-laki itu yang kusut dengan lingkaran hitam di bawah mata membuatnya heran. Bau alkohol juga tercium dari tubuh tuannya itu.

__ADS_1


"Em, tadi saya mendengar benda jatuh tuan di dalam ruangan tuan" ujar Mora sambil menggigit bibir bawahnya.


"Benarkah ?" tanya Karel, lelaki itu mendekat, Mora melangkah mundur, Karel menarik pinggang Mora sehingga membuat gadis itu menabrak tubuhnya.


"Be...benar tuan, mana mungkin saya berbohong, saya tidak berani untuk itu" ucap Mora terbata, gadis itu melepas rengkuhan tangan Karel namun susah, aish Mora kembali memutar otak agar bisa lepas, namun karena terlalu larut berfikir, Mora kehilangan kendali saat Karel menggendongnya masuk ke dalam ruangan.


Laki-laki itu mendudukkan Mora di kursi di dalam ruangan itu, lalu mengukung tubuh Mora dengan kedua tangganya. Mora sedikit takut dengan tatapan tajam Karel, membuatnya sedikit merasa ngeri.


"Tuan, tolong jangan begini" ujar Mora berusaha lepas. Gadis itu ingin berteriak saat Karel tiba-tiba memeluk nya dan menduselkan kepala nya di lehernya. Mora menahan nafas saat tubuh Karel bersentuhan dengan tubuhnya.


Nafas Karel kembali teratur, Mora ingin bangkit, namun tangan Karel tak juga lepas dari tubuhnya.


"Wangi tubuh kamu, aku suka" Mora mendengar suara lirih itu dari gumaman Karel, lelaki itu seperti nya mabuk, Mora membaringkan tubuhnya, membuat Karel ikut terbaring, gadis itu berusaha melepaskan tangan Karel, namun tidak bisa, malah laki-laki itu menahan kaki Mora dengan kaki nya yang besar. Menjadikan gadis itu sebagai guling hidup.


"Ck pelecehan ini namanya, mana ada bos tingkah nya kaya gini." Mora terus saja bersuara, gadis itu menggerutu kesal, kenapa dia harus berada di posisi seperti ini dengan Karel.


Mora melingkarkan kedua lengan nya di tubuh Karel, takut-takut jika laki-laki itu jatuh dari sofa yang hanya muat untuk satu orang itu, tubuh Karel yang besar membuat Mora merasa was-was.


"Hem, baunya menyengat sekali" ucap Mora saat Karel mendekapnya erat, hidung Mora yang berhadapan dengan dada bidang lelaki itu membuat bau alkohol yang sempat dia cium semakin tercium dengan jelas di hidung nya.


"Hem kira-kira gimana ya kalau dia bangun nanti, apa kaya emak-emak yang bakal teriak dan merasa di lecehkan, secara sepertinya tadi dia tidak sadar, huh"

__ADS_1


"Tau gini mending tidur di rumah deh, bukannya pekerjaan dapat di cicil malah jadi guling nya manusia satu ini, mana berat lagi badannya"


"Udah lah biarin aja dia mau kaya gimana nanti." akhirnya Mora menutup matanya, gadis itu berusaha mencari posisi nyaman, lalu mulai kembali terlelap, meski sekedar menutup mata.


"Emm" Mora merenggangkan tubuhnya, gadis itu membuka mata nya perlahan, di luar sana, sudah terlihat hampir pagi, Mora kembali berusaha lepas dari Karel.


"Tuan, udah pagi, tolong lepaskan saya" Mora menepuk bahu Karel yang berada di pinggang nya.


"Aish susah" Mora kembali berusaha.


"Tuan, bangun hey, jangan tidur terus"


"BERISIK" Karel mengucek mata nya, kepala nya terasa berat dan pusing, mendengar suara cempreng yang menganggu tidur nya membuat nya kesal.


Laki-laki itu duduk di kursi sofa sambil menyandarkan tubuh nya, sejak tadi malam dia tidak bisa tidur karena merasa kacau. Dia bisa mulai merasa tenang saat merasakan kehadiran Gracella.


"shhh" Karel mendesis sambil memijat dahi nya yang pusing, kepala nya benar-benar terasa berat.


"Tuan sebaik nya pulang saja, tidak usah masuk kantor. lagipula saya rasa tidak pantas jika sampai karyawan melihat keadaan tuan yang seperti sekarang." ucap Mora, gadis itu sedang merapikan diri nya di kamar mandi, sambil menatap dirinya dari pantulan kaca.


Karel melihat gadis itu dengan mata menyipit, saat ini Mora membelakanginya, Mora menggunakan pakaian celana kain panjang dengan baju berwarna putih. Rambutnya di gulung memperlihatkan leher nya yang jenjang.

__ADS_1


Karel menatap itu dengan sayu, seolah nyawa nya belum terkumpul, laki-laki itu kembali menghampiri Mora. Membuat Mora tersentak saat merasakan pelukan di pinggangnya.


"TUAN" Mora sedikit meninggikan suara nya, merasa marah dengan tingkah konyol tuannya itu yang sejak tadi aneh.


__ADS_2