IVAMORA

IVAMORA
Nona Cengeng


__ADS_3

"Sejak tadi tersenyum, ada apa ?" tanya Karel kepo


"Tidak, hanya ingin saja. Lagian senyum itu kan baik" Karel hanya mengangguk-anggukan kepala, senyum istrinya memang menenangkan, dan itulah yang membuatnya selalu merasa tenang jika dekat dengan sang istri.


"Iya, aku juga seneng akhirnya kamu ngga lagi kepikiran soal Alettha." seru karel sambil mengusap kepala Mora, menatap wanitanya penuh cinta.


"Huh" Mora menghela nafas, meski ada sedikit rasa khawatir di dalam hatinya untuk adik perempuan satu-satunya itu. Tapi dia yakin bahwa Alex tak akan berbuat jahat pada adiknya. Yah karena dia kenal pasti siapa Alex.


"Sebenarnya aku masih khawatir dan cemas, tapi kita lihat saja lah dulu, jika dia menyakiti Alettha, kami keluarga Abiyasa tidak akan tinggal diam, itu pasti." seru Mora dengan tegas, dia juga tak perlu terlalu cemas Karena Alettha juga pasti mendapatkan penjagaan sendiri dari papa Abi.


"Aku rasa pernah bertemu dengan nya"


"Dia pernah datang ke pernikahan kita" jawab Mora


"Oh waktu itu, tapi dilihat sikapnya sangat jauh berbeda dari saat dia mengunjungi pernikahan kita."


"Dia memang begitu by, apalagi kalau sudah menginginkan sesuatu yang sangat dia sayangi, dia pasti akan berubah menjadi dingin dan egois. Apapun yang dia mau harus dia dapatkan." ucap Mora menjelaskan, tak ada yang perlu di tutupi kan ?


"Berbahaya sekali, pantas saja Alettha sampai takut" Mora mengangguk membenarkan, jika sikap Alex terus seperti itu tidak bisa menjamin jika dia bisa mendapatkan Alettha dalam waktu cepat.


"Maka dari itu" Karel menoleh pada istrinya, mengusap bahu wanita yang sedang hamil muda itu.


"Sudah jangan di pikirkan terlalu berat, kamu sedang hamil." ucap Karel merengkuh bahu wanitanya, mengecup puncak kepala wanita itu berulang kali.


"Iya, tapi kasihan Alettha, yah aku tau sih jika Alettha selama ini telah bermain-main dengan orang yang salah." jawab Mora dengan lesu, salahnya juga yang tak mencari tahu lebih dalam siapa kekasih adik nya itu.


"Maksudnya ?" Karel mengernyitkan dahi nya, bermain-main ?


"Dulu aku pernah lihat Ale diantar cowo pulang, pas aku tanya katanya pacar kontrak nya, saat itu aku sudah menasehati nya, tapi Ale bilang dia memang tidak ada perasaan apa-apa."


"Aku pikir kejadian nya tidak akan serumit ini, tapi setelah di lihat-lihat seperti nya Alex menginginkan Alettha, dan aku yakin dia akan terus berusaha untuk terus memiliki Ale."

__ADS_1


"Sudah tenang ya, aku juga akan menjaga nya"


"Makasih ya by" ujar Mora dengan mata berkaca-kaca, sifat cengeng nya kembali lagi saat dia hamil.


"Sudah menjadi tugas ku sayang"


"Oh ya aku bawa makan siang, mau makan sekarang ?" tanya Mora, wanita itu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 12.02 hari sudah cukup siang.


"Boleh"


Mereka pun makan bersama siang itu, setelah selesai, Karel meminta Mora untuk beristirahat di kamar dalam ruangan nya. Kamar tersembunyi yang hanya pernah di masuki olehnya dan Mora. Bahkan saat wanita itu masih menjadi sekertaris nya dulu. Hanya Mora yang pernah memasuki kamar itu. Bahkan vano saja tidak pernah masuk dan melihat nya.


"Ruangan nya masih bagus ya by, rapi cuma serem"


"Sekarang kan udah beda, masak masih serem"


"Iya masih, dulu aku inget banget kamu kunci in di kamar ini, trus juga kamu suruh kerja di perpustakaan yang gelap dan sepi banget kaya markas hantu." Karel hanya terkekeh kecil, dulu dia memang suka menggoda dan menakuti wanita nya dengan hal seperti itu. Habis istrinya itu sangat nakal dan menyebalkan dulu.


"Iya ?"


"Shofia ada ngga ? masih kerja di sini kan" Karel mengangguk singkat.


"Boleh ketemu ngga ? kangen banget sama anak itu." ucap Mora, kini dengan menyandarkan tubuhnya pada dipan ranjang. salah satu alasannya pergi ke kantor karena juga sekalian ingin menemui Shofia.


"Boleh tapi nanti ya, kalau sekarang masih jam kerja"


"Okelah, yaudah kamu lanjut kerja aja, atau mau aku bantu." tawar Mora dengan mata berbinar cerah, waktu ke perusahaan kakek dia tidak melakukan apa-apa, karena saat itu bertemu dengan Alex, oh ya mengingat kakek Lewis dia pun langsung menceritakan nya pada Karel.


"By tau ngga, ternyata Alex Deket loh sama kakek Lewis, bahkan dia pernah main ke perusahaan kakek Lewis. Katanya sih dia cucu teman baik kakek."


Karel yang sedang merapikan pakaian nya langsung menoleh pada istrinya.

__ADS_1


"Kok kamu bisa tau ? kamu pernah main ke perusahaan dia ?" tanya Alex dengan mata menajam, Mora mengangguk dengan senyum yang di paksakan.


"Kok ngga izin, ngga pernah bilang lagi sebelumnya"


"Maaf by, aku nya mau izin juga takut kamu sibuk. Kamu aja ngga sempet buat kasih aku kabar apa-apa. Aku pikir akan menganggu kesibukan kamu. Dan soal cerita, aku juga baru ingat sekarang." ucap mora sudah dengan wajah sedih nya, dia takut suami nya marah.


"Astaga" Karel mengurut pelipisnya.


"Kamu marah ya ? aku benar-benar lupa maaf" kini bukan lagi sedih, Mora bahkan sudah menangis, cengeng betul kan bayi nya ini. Sudah membuat ibu nya menangis dua kali.


"Tidak sayang, aku yang minta maaf, aku ngga sadar bahwa ngga ngabarin kamu sama sekali, I'm sorry, I'm not angry anymore."


"Iya ngga papa"


"Ya udah kamu istirahat aja, ngga perlu bantu aku, ingat kamu lagi hamil." ucap Karel posesif, dia mengusap lembut perut istrinya. Lalu mengecup lembut dahi sang istri.


"Ish emang kalau hamil tiduran terus gitu" ujar Mora mencebikkan bibir nya, lalu menggerakkan kaki nya dia atas ranjang seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Ya engga, tapi kan masih awal jadi ngga boleh cape"


"Yaudah iya, tapi nanti aku boleh main ya sama Shofia"


"Main kemana ?"


"Ke mall boleh ?"


"Iya boleh, ini pakai aja" Karel memberikan kartu ATM nya, Mora tersenyum cerah melihat kartu tanpa batas limit itu.


"Boleh traktir Shofia kan ? dia belum tau loh kalau aku hamil." Karel hanya mengangguk mengiyakan, istrinya itu jarang ke mall, makanya dia tidak melarang.


"Baik banget deh suami siapa sih" ujar Mora merentangkan tangan nya, Karel pun mendekat, lalu Mora pun mengecupi wajah suami nya dengan ciuman.

__ADS_1


"Suami nona cengeng ini lah" ujar Karel sambil terkekeh kecil.


__ADS_2