
Setelah 2 jam menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung, kini mereka sudah tiba di perbatasan Bandung, Mora menunjukkan alamat rumah nenek kepada Karel.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di rumah nenek, Mora segera turun dari mobil sambil membawa beberapa bungkusan makanan dan buah, memang tadi gadis itu sempat mampir ke supermarket untuk membeli itu semua.
Gadis itu bahkan tidak membawa tas besar milik nya, karena kedua tangannya sudah di penuhi oleh bungkusan makanan.
Mora juga tidak menunggu Karel, gadis itu segera saja menyelonong masuk ke dalam rumah dan mencari nenek nya.
"Nenek" Mora berteriak cukup keras, gadis itu mencari keluarga nya di ruang tamu tapi tidak ada, lalu Mora mencari ke kamar nenek nya namun tetap tidak ada. Mora menggaruk tengkuk nya, di mana nenek nya sebenarnya.
Gadis itu mengambil handphone lalu menghubungi mama nya, namun tiba-tiba terdengar suara yang dia kenal dari belakang nya.
"Mora" gadis itu menoleh, melihat mama nya yang berdiri tak jauh dari nya sambil mengernyitkan dahi.
"Ma, nenek mana" Mora menghampiri mama nya sambil mengecup telapak tangan ibunda nya itu.
"Nenek ada di halaman belakang, kamu kok bisa ada di sini ?" tanya sang mama.
"Iya ma, Mora ambil cuti buat jenguk nenek" sahut Mora sambil tersenyum.
"Ya udah ke belakang aja sana, nenek pasti seneng kamu datang" ucap mama Mora sambil mengusap bahu putri nya itu.
"Oke ma"
"Moraa" langkah gadis itu terhenti, dia dan mama nya menoleh ke arah pintu, mereka melihat Karel yang menatap ke arah mereka dengan datar, sambil membawa tas besar milik Mora.
"Eh" Mora segera menghampiri laki-laki itu, lalu mengambil alih tas miliknya.
"Maaf ya tuan, saya lupa kalau bawa tas" ucap Mora sambil tersenyum tanpa dosa.
"Ck kamu juga lupa kalau saya ikut kamu huh" ucap Karel kesal.
__ADS_1
"Dia siapa Mora ?" mama nya menghampiri mereka sambil mengernyitkan dahi, tatapan nya tertuju pada laki-laki di samping Mora yang terlihat sangat tampan.
"Eh" Mora terdiam, bingung harus menjawab apa.
"Kita langsung ke taman aja ya ma, udah ngga sabar buat lihat nenek" ujar Mora mengambil ancang-ancang untuk pergi, namun dengan cepat Karel menarik tangannya.
"Mau meninggalkan saya lagi huh" ucap Karel menarik Mora untuk mendekat.
Tingkah mereka tak lepas dari mata mama Mora, wanita cantik itu menatap putrinya dengan pandangan yang menyiratkan rasa penasaran yang tinggi.
"Ck memang nya tuan tidak pulang saja ?"
"Saya kan ikut kamu" ucap Karel dengan wajah kesal.
"Yasudah ayo ikut" balas Mora kesal, wanita itu berjalan dengan menarik tangan Karel yang menggenggam telapak tangan nya. Meninggalkan sang ibunda yang terbengong.
"Siapa laki-laki itu sebenarnya" ucap wanita itu, dia mengambil air dan vitamin di kamar ibu nya (nenek Mora).
"Nenek" Mora dengan antusias berlari ke arah nenek nya yang sedang duduk di kursi panjang di taman. Gadis itu memeluk nenek nya sambil menciumi tangan nenek nya itu.
Sang papa juga tampak terkejut saat melihat putri nya datang, namun tatapan nya tertuju pada Karel yang berdiri mematung di belakang sana. Papa Abi merasa mengenal lelaki itu, wajahnya tidak asing.
"Bukannya kamu tuan Ivander ya ?" Karel menoleh, menatap lelaki bertubuh tinggi tegap yang menghampiri nya.
"Tuan besar Abiyasa ?"
"Oh ternyata benar, kok bisa berada di sini ?" tanya papa Abi heran.
"Saya sedang menemani kekasih saya berkunjung ke rumah nenek nya" ucap Karel, karena dia binggung harus menjawab apa, karena tidak ingin di tanya lebih dalam dia memilih untuk berbohong.
"Kekasih ?" papa Abi mengernyit, ini adalah wilayah ibu mertua nya, siapa yang di maksud kekasih oleh Tuan muda Ivander ini.
__ADS_1
Mama Mora datang dengan membawa gelas berisi air putih, lalu wanita cantik itu mulai menuntun sang ibu untuk meminum obat.
Sedangkan papa Abi masih merasa bingung, lelaki itu menatap Karel dan Mora dengan dahi mengernyit.
"Mora" panggil papa nya.
"Iya pa" Mora menoleh ke arah papa nya yang kini sedang berdiri bersebelahan dengan Karel.
"Tunggu nak, apa yang kamu maksud kekasih itu putri saya ?" tanya papa Abi.
Deg
Karel terdiam, bingung harus menjawab apa, laki-laki itu menatap Mora yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Pa dia itu Tuan Karel bos Mora di kantor" ucap Mora memperkenalkan Karel sebagai bos nya.
"Bos ? kenapa di sini ?" tanya papa Mora heran.
"Dia mengantar Mora pa" papa Abi mengangguk, pantas saja tuan Ivander yang terkenal dingin mau mengantar Mora ternyata memang mereka ada hubungan.
Mora tidak menyadari jika papa nya itu sudah salah paham dengan hubungan nya dan Karel, sedangkan Karel sendiri pun sudah tak peduli akan tanggapan orang tua Mora, juga tak ingin menjelaskan kepada Mora tentang ucapannya tadi.
"Ya sudah nak, ikut om ke dalam yuk" ajak papa Abi sambil menepuk bahu Karel, Karel mengangguk, lalu mengikuti laki-laki di depannya memasuki rumah.
Karel jelas mengenal lelaki itu, lelaki yang sudah melegenda dalam dunia bisnis karena sukses dalam membangun bisnis nya. Dia tidak menyangka jika ternyata Mora adalah putri dari seorang lelaki hebat seperti keluarga Abiyasa.
Karel merasa heran, mengapa Mora malah memilih bekerja di tempat nya dengan posisi sebagai sekertaris, padahal jika Mora mengambil alih salah satu perusahaan papa nya, gadis itu bisa menduduki posisi CEO.
"Duduk dulu nak, biar di buatkan minum sama bibi" ujar papa Abi sambil mempersilahkan Karel untuk duduk.
"Baik tuan" ujar Karel duduk di sofa sambil menyilangkan salah satu kaki nya.
__ADS_1
"Panggil om saja" Karel mengangguk singkat mendengar ucapan lelaki di hadapan nya.
"Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan putri ku ?" tanya papa Abi dengan tegas.