
Kini mereka pun telah tiba di suatu tempat, cukup sunyi dengan cahaya yang redup. Mora mengernyit heran pada posisi nya, kenapa juga Alettha mengajak nya ke tempat seperti ini. Terkesan menyeramkan kalau menurutnya.
Pelayan yang tadi mengantar pun sudah kembali, kini hanya tersisa Mora dan Alettha di dalam ruangan itu. Gadis itu menarik lengan Mora dan mengajak nya duduk di salah satu kursi yang mendapat penerangan penuh dari sudut lain ruangan itu yang redup.
"Tunggu bentar ya kak, Ale mau ke kamar mandi bentar, nanti akan ada pelayan yang mengantar makanan kita." seru Ale lekas berdiri dari duduk nya.
"Tunggu dek" dengan cepat Mora menarik lengan adiknya.
"Ada apa kak ?" seru Ale yang terlihat menahan sesuatu.
"Ini tempat sepi banget, tega kamu ninggalin kakak sendiri" seru Mora yang sebenarnya merasa takut.
"Ih kakak lebay banget, udah disini aman kok. Udah dulu ya kakak Ale udah ngga tahan." lalu dengan cepat gadis itu ngacir begitu saja dari tempat itu.
Mora menelan ludah, gadis itu memperhatikan sekeliling yang tampak sunyi. Ia merasa ada banyak pasang mata yang memperhatikannya dari setiap sudut gelap ruangan itu.
"Hadeh, berasa lagi di gudang aja. serem banget ni resto." Mora hanya bisa menggerutu di tengah rasa takut yang menghinggapi nya.
Pyar
"Akh" Mora menutup telinga nya dengan mata yang tertutup rapat, jantung nya berdetak kencang saat tiba-tiba ada yang berjalan ke arahnya dan lampu padam menyisakan kegelapan. Bahkan gadis itu sama sekali tak membuka mata.
Bertambah takut lagi saat merasakan sebuah pelukan dari arah belakang, tiba-tiba tubuh Mora menggigil, ia sedikit phobia dengan kegelapan.
"Aku takut hiks" Mora menangis
"Sayang" suara lirih itu membuat Mora membuka mata, kini lampu yang gelap sudah bersinar dengan terang, bahkan Mora melihat orang tua nya berdiri di sana, tak hanya mereka tapi ada juga tuan Lewis (kakek Karel), dan ada juga satu orang yang sangat Mora kenapa yaitu Nathan teman kuliah nya dulu.
"Hey by" Saat mendengar itu barulah Mora sadar jika saat ini ada seseorang yang tengah memeluknya. Ia menunduk melihat Karel yang sudah berlutut di samping nya dengan tangan yang masih merangkul pinggangnya.
Mora menghela nafas.
"Aku takut" lirih gadis itu.
__ADS_1
"Maaf sudah membuatmu takut" seru Karel, ia mengusap air mata yang ada di sudut mata gadisnya.
Mora terdiam, ia memperhatikan keluarga nya yang kini mulai duduk di meja besar yang tak jauh dari mereka.
"Sebenarnya apa ini kak, kenapa ada mereka" seru Mora dengan gugup.
"Manis sekali memanggil ku dengan kak" ucap Karel sambil mencubit hidung Mora.
"Ish" Mora menepis nya dengan kesal, ia memperhatikan raut marah nya yang membuat Karel merasa semakin gemas.
"Aku menyewa mereka untuk meminta maaf pada gadisku yang sedang marah. Bahkan mengabaikan pria tidak peka ini." seru Karel dengan nada yang di buat-buat.
"Ish kamu sangat tidak pantas bertingkah seperti itu." ucap Mora dengan di akhiri tawa keras. Gadis itu memeluk tubuh Karel dan bersandar pada dada kekar laki-laki itu.
"Jangan mengabaikan aku lagi hem" Karel mengusap lembut rambut gadisnya.
"Maaf, aku hanya benar-benar merindukanmu" ucap Mora.
"Kalau rindu itu tidak mengabaikan, mana ada telfon ku sampai tidak di angkat bahkan pesan ku sejak kemarin tidak mendapat balasan." seru Karel dengan wajah merajuk.
"Tentu saja" seru Karel membuang muka.
"Lalu aku harus melakukan apa, agar lelaki ku ini tidak marah" Mora menangkup wajah Karel.
"Tidak tau" seru Karel masih dengan ekspresi kesal nya.
"Aku kelabakan tau dari kemarin, karena kamu mengabaikan ku" seru Karel, hal itu memang benar, sejak kemarin emosi nya tak terkontrol hanya karena di abaikan oleh gadisnya. Ia bahkan terus membentak semua orang karena kesal.
"Emm" Mora menaruh jari nya di dagu seolah sedang berfikir.
Cup
"Apa itu cukup ?" seru Mora setelah memberikan kecupan ringan di pipi Karel.
__ADS_1
"Tidak" seru Karel dengan ketus.
"Lalu aku harus apa sayang" Ucap Mora dengan lesu.
"Kapan kita akan makan, aku benar-benar lapar karena sedari tadi makan nyamuk." tiba-tiba Nathan berujar dengan keras. Seolah sedang menyindir pasangan yang sok mesra itu.
"Lebay" Alettha yang mendengar ucapan Nathan menyindir dengan sinis.
"Sudah-sudah, karel bawa Mora kesini, kita makan bersama" seru tuan Lewis sambil menatap pasangan itu.
"Ayo kesana" Mora menggenggam tangan Karel yang masih tak puas dengan usaha Mora. Gadis itu duduk di samping mama nya yang hanya tersenyum melihat tingkah calon menantunya itu.
Mereka pun makan dengan nikmat, Alettha yang memang sudah sangat lapar pun makan dengan lahap.
"Eh ale-ale lu makan udah kaya seminggu ngga makan aja" sindir Nathan.
"Ck bagaimana bisa Mora punya adik rakus kaya kamu"
"Budayakan diam saat makan" ucap Alettha tanpa menatap Nathan, ia hanya terus fokus dengan makanannya. Membuat Nathan geleng-geleng karena takjub.
"Eh Mora, aku ngga nyangka loh kalau kamu dan kak Karel sepasang kekasih." seru Nathan yang kini menatap Mora. Mora membalas dengan senyuman tipis, tangannya kini berada di genggaman tangan besar Karel.
"Takdir kan rahasia Nat" seru Mora menjawab singkat.
"Iya sih tapikan"
"Eh cucu nakal habiskan saja makanan nya, jangan berbicara teruss" seru tuan Lewis menatap Nathan kesal. Nathan meringis sambil menggaruk tengkuk nya. Memang hanya dia yang kini belum menyentuh makanan nya.
"Iya kek iya"
Setelah mereka selesai makan, dan semua piring sudah di bersihkan oleh pelayan, mereka pun mengobrol ringan.
"Ayo ikut" tiba-tiba Karel menarik tangan Mora yang berada di genggamannya, laki-laki itu berdiri dan membawa Mora ke sebuah tempat yang terlihat sangat cantik. Masih berada di sekitar meja makan yang di tempati keluarga Mora.
__ADS_1
Mora bahkan melongo dengan wajah bodohnya, demi apapun ia tak menyadari jika ada tempat secantik ini tadi, sepertinya memang sengaja di hias, karena terdapat beberapa hiasan dan bunga yang Mora suka.