
"Kamu cemas Ale ?" agam duduk di samping Aletta, di lihat ya wajah gadis itu yang terlihat cemas.
"Aku ngerasa bersalah gam" Aletta menautkan kedua tangan nya.
"Untuk apa ? Alex pasti baik baik saja, dokter juga sudah menangani nya."
"Aku tau jika pria itu alergi sama udang, tapi aku melupakan nya. Jadi nya Kaya gini deh."
"Oh ya, aku juga kaget. Kamu baru ketemu Alex, kok tau kalau pria itu alergi udang ?"
"Sebenarnya aku sudah mengenalnya sejak lama"
"Tapi kalian terlihat seperti orang asing" Aletta tersenyum, tentu saja sangat wajar, apabila agam memberikan pertanyaan itu, Karena tadi memang ia dan Alex tidak saling sapa.
"Dengan perwakilan Tuan Alex"
"Kami sus" agam menyahut dengan cepat, pria itu berdiri bersamaan dengan Aletta.
"Pasien sudah sadar, kalian bisa masuk untuk melihat keadaan nya."
"Baik terimakasih sus" lagi lagi agam yang menjawab, sedangkan Aletta hanya terdiam terpaku. Setelah suster pergi, agam menggandeng lengan Aletta dan mengajak gadis itu memasuki ruangan.
Alex sudah sadar, pria itu melirik saat agam dan Aletta datang.
"Bagaimana keadaan mu ?" Aletta bertanya dengan nada sedikit ragu, dapat ia lihat kulit Alex yang pucat dan memerah.
"Seperti yang kamu lihat" pria itu menjawab singkat.
"Kamu kok pakai acara makan udang segala sih Lex, udah tau punya alergi udang."
"Namanya pengen"
"Tapi lihat keadaan kamu sekarang" Aletta menyahut dengan cepat.
Agam tersenyum jadinya, merasa geli saat melihat Aletta yang seperti mengomeli anak kecil, sedangkan Alex tampak bodo amat saja di omeli.
"Udah minum obat ?" lanjut gadis itu, mata nya memindai ke atas nakas yang terdapat segelas air putih dan bungkus obat.
Alex mengangguk, pria itu ingin duduk, Karena punggung nya terasa pegal. Agam pun dengan sigap membantu nya.
"Kamu tidak bekerja gam ?" Alex melihat agam, pria satu itu harusnya sedang sibuk mengurus berkas yang harus jadi untuk mahasiswa tingkat akhir.
"Harusnya kerja, ini juga gara gara kamu" sahut agam bermaksud bercanda, namun Alex menganggap nya serius.
"Balik sana, aku juga udah mau pulang"
__ADS_1
"Yasudah, sekalian aku antar pulang yuk" agam tetap berdiri dalam posisi nya, bagaimana pun juga dia tak ingin meninggalkan Alex.
"Ngga perlu, aku bisa sendiri"
"Ngga usah sok mandiri deh, tadi kesini juga pakai mobil ku." Alex menghela nafas, pria itu memperhatikan Aletta yang kembali terdiam.
"Antar dia pulang saja, aku akan meminta supir untuk menjemput." ujar Alex pada akhirnya. Dia tidak mau menyusahkan siapa-siapa.
"Aku naik taksi saja, lagipula Resto tadi dekat sini kok."
"Udah deh, kalian jangan keras kepala. semuanya aku antar ayo, ngga ada penolakan." pada akhirnya Alex dan Aletta menyerah, agam begitu kekeh untuk mengantar mereka.
Agam menyetir mobil dengan kecepatan sedang, dia berniat untuk ke rumah sakit dulu untuk mengantar Aletta mengambil Mobil nya.
Drtt..
"Halo"
"Halo Tuan, apa anda lupa jika jam 3 ada janji temu dengan tamu." terdengar suara di sebrang sana, agam menepuk dahi nya, dia melupakan hal itu.
"Apa tidak bisa di tunda ?"
"Tidak bisa, ini terlalu mendadak Tuan, nama anda bisa buruk nanti." agam menghela nafas, dia menoleh ke arah Alex yang duduk di samping nya.
"Segera datang ya Tuan, saran saya jangan telat, karena ini pertemuan pertama dengan mereka."
Tut..
"Kamu ada pekerjaan gam ?" Alex bertanya saat mendengar ucapan pria itu dalam panggilan telefon.
"Ada pertemuan sama tamu kampus, ngga bisa di tunda lagi." agam mendesau, dia harusnya membatalkan janji sejak tadi.
"Yasudah, biarkan aku naik taksi nanti" ujar Alex kembali kekeh dengan usul nya.
"yaya ini sudah dekat dengan rumah sakit juga, suruh supir mu untuk menjemput ya nanti." ujar agam pada akhirnya.
"Hem"
Setelah sampai rumah sakit, agam pun memperhatikan Aletta.
"Kamu tidak turun al ?"
"Kamu mau langsung pulang ? Bagaimana dengan dia ?" ucap Aletta memperhatikan Alex.
"Aku Akan menunggu supir nya menjemput di sini"
__ADS_1
"Jangan, Aku akan turun saja" Alex sudah ingin turun dari mobil.
"Jangan begitu, kamu baru saja keluar dari rumah sakit, jangan sampai masuk lagi ke sana." peringat agam.
"Yasudah aku akan naik taksi, dan kamu tidak perlu khawatir." Alex turun dari mobil, dengan berjalan sedikit sempoyongan.
"Ale boleh Aku minta bantuan ?" Aletta menoleh, memperhatikan agam.
"Bantuan apa ?"
"Jika mau, tolong antar dia pulang, aku tidak tega jika dia naik taksi." ucap agam menyampaikan keberatan nya.
"Baik aku akan mencoba menawari nya"
Aletta melangkah mengikuti Alex yang berjalan menuju kursi samping rumah sakit, di bawah pohon yang cukup lebat.
"Mari ku antar pulang, hari sudah beranjak sore"
"Aku akan menunggu sopir, kamu tidak perlu repot-repot membantu." tolak Alex dengan halus.
"Tidak repot, anggap saja impas, Karena kamu juga pernah mengantarkan ku pulang."
"Itu karena permintaan Selly" Aletta menghela nafas, keras kepala juga pria ini pikirnya, padahal dia sudah berbaik hati mau mengantar.
"Terlepas Karena apapun alasanya, kamu sudah menolong ku, jadi biarkan aku membantu mu kali ini." sahut ale sambil menatap lekat pria di depan nya. Dia akan tetap mengantarkan Alex pulang, lagipula dia juga merasa bersalah.
"Kamu selalu saja memaksa kehendak" seru Alex sengit, tatapan nya berubah menjadi tatapan belati.
"Bukannya kamu ya ?"
"Apa ?" seru Alex tak mengerti
"Sudahlah ayo ikut aku, dasar kepala batu" Aletta menarik lengan Alex, namun tentu saja kalah dengan tubuh kekar pria itu, yang ada malah dia yang tertarik dan menubruk tubuh pria itu.
Untung saja Alex sigap menahan tubuh gadis itu agar tak jatuh, jadilah posisi mereka saat ini terlihat lucu.
"Katakan sekali lagi" seru Alex menatap intens mata Ale.
"Ish sudah lepas, ayo pulang"
"Pulang kemana ?"
"Ke rumah" sahut Aletta dengan ketus, apa pria ini tidak tau, jika sudah membuang waktu berharga nya.
"Memangnya kita punya rumah ?" Alex masih tak melepaskan pandangan nya dari wajah cantik Aletta.
__ADS_1