IVAMORA

IVAMORA
Sakit


__ADS_3

"Kenapa suka sekali membuatku terkejut" sahut Karel dengan ketus, tangannya mengusap tangannya yang tak sengaja membentur meja. Tidak sakit sih tapi cukup untuk membuat nya meringis.


"Aku yang justru terkejut, aku pikir kamu turun sudah makan, ini malah masih asik main hp." ucap Mora lalu wanita itu duduk di samping suaminya, Karel menyimpan kembali hp nya.


"Aku belum makan karena menunggumu" ucap Karel menerima piring yang di sodorkan Mora. Wanita itu mengisi banyak lauk di piringnya, membuat nya meneguk ludah. Mora lalu menumpukan kedua tangannya di atas meja sambil menatap nya dengan wajah yang di imut-imut kan.


"Kamu benar-benar yah, kamu pikir aku ini kerbau, sampai memberiku makanan sebanyak ini." ucap Karel menatap horor pada makanan di piringnya, tangannya terangkat untuk mencubit pipi istri nakal nya itu. oh jangan bilang jika Mora kembali dendam padanya.


"Tidak ada yang mengatakan kamu kerbau by" Mora mengambil tangan Karel, lalu tanpa di duga wanita itu mengecupnya dengan lembut. Karel mengernyitkan dahi, tangannya terangkat untuk memeriksa suhu tubuh istrinya. Tidak panas, namun kenapa tingkah nya berada di luar angkasa.


"Lalu" sahut Karel merasa heran, bagaimana tidak, Mora bersikap horor begini, sangat menakutkan menurutnya. Karel menatap piring makanan nya lalu kembali menatap ke arah istrinya.


"Itu untuk kita berdua, kita makan bersama saja ya" Mora mengedipkan mata nya lucu, mengambil sendok lalu mengambil makanan dan menyodorkan di depan mulut suaminya.


Setelah selesai menghabiskan makanan Mora dan karel duduk di sofa ruang tamu sambil menonton tv, kegiatan yang bahkan tidak pernah mereka berdua lakukan karena kesibukan suaminya itu.


"Sayang"


"Hem" Mora hanya menyahut singkat, tangannya terangkat untuk menyuapkan cemilan ke dalam mulut nya.


"Kok singkat sih, kamu sebenarnya sedang apa" Karel cemberut saat melihat istrinya sibuk makan sambil berbalas pesan dengan hp nya.


Karel berdecak karena Mora tak menjawab pertanyaan darinya, laki-laki itu mengintip, ternyata Mora sedang berbalas pesan di grup chat.


"Sama siapa sih" Karel ingin merebut hp itu, tapi dengan cepat Mora menyembunyikan nya. Mengamankan hp nya agar tidak berada di tangan laki-laki itu. Sebenarnya dia sedang berbalas pesan dengan kedua teman nya.


"Ini sama Shofia dan Gracell" sahut Mora apa adanya.

__ADS_1


"Ck jadi sama wanita itu lagi, kenapa kamu bisa sedekat itu sih, tadi juga kenapa bicara sama cowo brengsek itu." ucap Karel sedikit kesal, entahlah dia sedikit tidak suka dengan pertemanan Mora yang terlalu dekat dengan mantan nya itu.


"Kamu ngga boleh marah, asal kamu tau aja ya, saat kamu tak pulang-pulang, bahkan tak memberiku kabar. Hanya Gracell dan Shofia yang menjadi teman ku. Bahkan saat itu aku sangat kesepian dan merindukan mu." sahut Mora dengan ketus, Karel menegang, menatap Mora yang diam tanpa ekspresi itu. Karel tak lagi berbicara, hanya menatap siaran tv di depannya.


***


Sementara itu di di tempat lain, Tama sedang berjalan ke arah kamar nya, ia memanggil bibi.


"Iya tuan" bibi yang memang sedang berjalan tak jauh dari tuan nya pun mendekat.


"BI tolong buatkan bubur untuk saya, sekalian minta obat untuk sakit kepala." pinta Tama


"Baik tuan" ucap bibi menunduk, sedikit khawatir dengan keadaan tuan nya. Tuan nya itu sangat jarang sakit, tapi sekarang dia melihat sendiri wajah pucat di balik wajah tampan itu.


"Bawa ke kamar tamu ya bi, kasihan istri saya sedang tidur." bibi mengangguk patuh, lalu segera berlalu untuk membuatkan bubur. Tama berjalan ke arah kamar tamu, memilih untuk membaringkan tubuh nya dan memejamkan mata.


"Bibi sedang membuat apa" tanya Gracell berdiri di samping bibi yang sedang memasak bubur di panci.


"Eh nyonya, ada apa nya kok main ke dapur" jawab bibi dengan tersenyum. meski tangan nya masih sibuk menata makanan, air putih, dan obat di atas nampan, Mora mengernyit, siapa yang sakit pikirnya.


"Ada yang nyonya perlukan" tanya bibi, lalu mengambil kursi untuk nyonya nya duduk, meski perut nyonya nya belum membuncit tapi kasihan sekali jika harus terus berdiri.


"Tidak, bibi sedang membuat apa"


"Ini bubur untuk tuan nya"


"memang suami saya di mana bi" ucap Gracell sambil melihat sekeliling dapur yang sepi.

__ADS_1


"Tuan sedang sakit nya, tadi minta di buatin bubur sama obat" ucap bibi dengan jujur.


"Sakit ?" Gracella sedikit berteriak karena terkejut, di mana suaminya kenapa bisa dia tidak tau jika laki-laki itu sedang sakit. Salah nya juga sih yang terlalu bodo amat dengan laki-laki itu.


"Iya non"


"Biar saya saja bi yang membawa ke atas, Tama dimana ?"


"Ada di kamar tamu nya" Gracell mengangguk, lalu mengambil bubur itu.


"Biar saya saja nya yang membawa"


"Tidak perlu bi, saya bisa kok" ucap Gracell meyakinkan.


"Beneran nya" tanya bibi yang masih tampak ragu.


Gracell mengangguk, membawa bubur dan air yang tak berat itu untuk masuk ke dalam lift, untung saja di rumah ini ada lift khusus, semenjak mengetahui dia hamil, Tama memang sengaja membuat lift menuju ke lantai atas.


Gracell membuka pintu dengan perlahan tanpa menimbulkan bunyi. Dia tak mau menganggu orang di dalam, wanita itu melihat suaminya yang masih memejamkan mata, Gracell pun menaruh nampan itu di atas nakas, tangan wanita itu terulur untuk mengecek suhu tubuh suaminya.


"Panas" Gracell berujar pelan, mengambil duduk di samping ranjang sambil menatap wajah pucat Tama.


"Udah selesai bi" ucap Tama lirih tanpa membuka mata, Gracell membawa tangannya untuk mengusap lembut wajah laki-laki itu.


Merasakan tangan lembut yang menyentuh wajahnya, Tama pun berusaha membuka mata nya yang terasa berat.


"Honey" mata Tama memerah, Gracell tersenyum lalu mengecup lembut kening laki-laki itu, Tama hanya memejamkan mata.

__ADS_1


"Makan dulu yuk, aku suapi" ucap Gracell mengambil bubur itu.


__ADS_2