
Pagi harinya, tepat saat jam menunjukkan pukul 8 pagi. Karel berjalan dengan terburu-buru menuju kantor dengan wajah datar, bahkan sapaan para karyawan ia acuhkan begitu saja.
Laki-laki itu segera memasuki lift yang akan mengantarkannya ke lantai atas di mana ruangan nya berada. Di ikuti oleh Vino di belakang nya yang hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat raut wajah resah di wajah tuan nya.
"Handle dulu jika ada urusan penting, aku tidak ingin di ganggu" ucap Karel lalu meninggalkan vino begitu saja. Karel langsung saja berjalan ke arah ruangan di samping nya, lalu membuka pintu tanpa mengetuk nya lebih dulu.
"Baby" Karel langsung memeluk gadis yang kini sedang duduk di kursi nya dan sedang bekerja itu. Mora yang mendapat pelukan nampak terkejut dengan kedatangan Karel yang tiba-tiba.
Mora menoleh, menatap laki-laki yang kini memeluk nya dengan erat, sambil menyembunyikan wajah nya di bahu nya. Karel memeluk nya dari belakang.
"Kenapa hm" gadis itu mengusap wajah Karel dari samping, mengusap lembut wajah laki-laki itu.
"Kenapa bekerja, seharusnya kamu istirahat saja sampai sembuh." ujar Karel lirih.
"Aku sudah sembuh, kamu sendiri kenapa. Kok ngga semangat gini bicara nya." ucap Mora, ia membalik tubuh nya, sambil merangkum wajah Karel.
Karel menggeleng, ia berjalan ke arah sofa lalu duduk di kursi sofa itu sambil memejamkan mata nya.
"Kenapa" Mora duduk di samping Karel sambil mengusap wajah lelaki itu dengan lembut.
Karel hanya diam, lalu membawa gadisnya itu untuk duduk di pangkuan nya. Karel kembali memeluk tubuh gadisnya dengan erat, sambil menyembunyikan wajah nya di balik ceruk leher gadisnya.
"Kenapa ?" Mora kembali bertanya, Karel sedari tadi tak bersuara ntah ada apa dengan laki-laki itu.
"Aku hanya takut jika kamu masih merasa sakit, melihat wajahmu yang pucat kemarin benar-benar membuatku cemas." sahut Karel lirih, Mora menerbitkan senyum nya sambil mengusap rambut Karel dengan jari-jari tangannya.
__ADS_1
"Aku sudah merasa lebih baik, tidak perlu khawatir berlebihan" ucap Mora berusaha menenangkan, dia benar-benar di buat terharu dengan sikap Karel akhir-akhir ini. Padahal kemarin dia sempat tidak percaya jika tuan nya itu mencintai nya.
"Sudah ya, kan harus bekerja masak jadi kaya gini sih." Karel tak menyahut.
"Aku jadi merasa bersalah karena ku kamu jadi pemalas seperti ini."
"Mana ada, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan perempuan ku memang tidak boleh ?" ujar Karel tak terima, ia berdecak kesal dengan bibir yang cemberut membuat Mora terkekeh. Ia merasa gemas dengan laki-laki yang beberapa menit itu menjadi sangat manja.
Cup
"Sayang banget deh" seru Mora dengan senyum malu-malu, ia baru saja mencium pipi Karel, meski singkat tetap saja membuatnya malu.
Karel menangkup wajah Mora mendekatkan wajah mereka hingga kini sama-sama saling menempel. Laki-laki itu mengusap lembut wajah gadisnya membuat mata Mora terpejam.
Brak
"Ck" Karel berdiri dari duduk nya, lalu menyorot Andra dengan tatapan matanya yang tajam. Sedangkan Andra juga tampak membalas tatapan itu dengan tak kalah tajam.
"Ingat ya, mulai sekarang aku akan menjadi mata-mata untuk kalian. Sampai kalian berdekatan melebihi batas sedikit saja maka jangan harap aku akan membiarkan nya." seru Andra dengan nada nyaring. Ia bahkan menunjuk Karel dengan jari telunjuknya.
"Apa kamu lupa, dimana kamu berada sekarang ?" tanya Karel dengan ekspresi datar, ia benar-benar kesal karena Andra sudah menghancurkan waktu nya dengan Mora.
"Tentu saja"
"Bagus, berarti kamu sadar kan jika kamu tidak punya hak apapun di sini." Andra mengernyitkan dahi nya, tentu saja dia sadar dengan nada Karel yang terdengar ketus, sepertinya laki-laki itu tidak terima karena ia menganggu aksi romantisnya.
__ADS_1
"Tentu saja aku punya hak, Mora adalah sepupu ku, dan aku tak akan membiarkan kamu berbuat macam-macam dengan sepupu ku."
"Dia kekasih ku" tekan Karel mulai mengklaim milik nya.
"Tapi dia"
"UDAH CUKUP" Mora yang merasa pusing memilih untuk pergi kembali ke meja nya.
"Sebaiknya kalian keluar, karena aku ingin bekerja dengan tenang." Karel masih menatap Andra dengan tatapan tak suka dan penuh permusuhan. Namun akhirnya laki-laki itu keluar saat melihat tatapan tajam gadisnya.
"Andra" tekan Mora
"Iya-iya, tapi ingat ya Mor, aku tak akan membiarkan mu bermesraan. Karena mulai sekarang aku sudah menjadi ajudan papa Abi untuk terus mengawasi mu. Mulai hari ini kamu tak akan hidup tenang." Mora memutar bola matanya, lalu mengacuhkan Andra. Ia memilih untuk kembali fokus dengan pekerjaan nya.
Rupanya tingkah aneh Karel tak hanya sampai situ, saat waktu istirahat kantor tiba, Karel kembali mendatangi ruangan nya dan mengajak nya untuk keluar mencari makan siang bersama.
Saat mereka telah selesai menghabiskan makan siang nya, kini mereka sedang berada di mobil yang sama.
"Kenapa lama sekali, sebenarnya kita mau kemana ?" ucap Mora untuk kesekian kalinya, sedari tadi laki-laki di samping nya itu tak banyak bicara hanya menjawab seperlunya saja.
"Menghabiskan waktu berdua"
"Yakin berhasil, Andra pasti akan menganggu" ucap Mora, di perusahaan Karel saja Andra tak sungkan menganggu mereka, apalagi di luar, pasti akan ada banyak mata-mata yang menyoroti kegiatan mereka.
Mora menoleh, lalu tanpa di duga laki-laki itu menerbitkan senyum misterius, entah apa arti dari senyuman itu.
__ADS_1
"Diem aja terus" Mora yang mendapatkan sikap acuh dari Karel pun mendadak merasa kesal, karena sedari tadi hanya dia yang terus berbicara tanpa mendapatkan respon dari Karel.