
Di sebuah lorong rumah sakit besar, terlihat Mora berjalan dengan sedikit berlari, dia sendirian berjalan dengan mata berkaca-kaca, tadi ia mendapat telfon jika Karel berada di rumah sakit malam ini.
Untung saja pada saat itu orang tua nya sudah pulang, gadis itu langsung menuju ruang perawatan dan menerobos masuk.
"Nona" semua yang ada di dalam terkejut, namun Mora tak perduli, dia langsung menghampiri suaminya yang terbaring di ranjang dan memeluk sambil menangis.
"Hiks, kamu kenapa hiks" air mata gadis itu langsung meluncur tanpa peringatan, memejamkan mata sambil terus memeluk tubuh suaminya.
Andra yang juga terbaring di ranjang samping Karel hanya menatap sepupu nya miris, ia tahu perasaan gadis itu pasti di liputi ketakutan yang luar biasa.
"Kok nangis sih" Karel yang sedari tadi diam karena merasa syok istri nya tau keberadaannya pun akhirnya tersenyum paksa, ia mengusap kepala istrinya sambil menatap Andra tajam, pasti laki-laki itu yang sudah memberitahukan keberadaannya.
"Aku takut hiks, jangan kaya gitu lagi. Aku ngga mau kehilangan kamu." gadis itu ikut naik ke atas ranjang lalu menempel pada Karel seperti perangko.
"Aku ngga akan kemana-mana sayang, udah ya jangan nangis lagi." bujuk Karel, tangan laki-laki itu mengusap air mata Mora lalu mengecupi wajah istrinya itu.
"Aku panik hiks" Mora masih menangis, meski sedari tadi Karel mencoba menenangkan.
"Udah Mor ngga papa, untung aja Karel ngga tertembak tadi." celetuk Andra sambil menatap sepupunya jengah.
"Apa maksudnya tertembak ?" Mora langsung menatap Andra tajam, lalu melihat tubuh Karel yang tidak terdapat luka sedikitpun, bahkan suaminya itu terlihat sangat sehat, astaga apakah ada drama tembak menembak yang tidak dia tahu.
"Sudah by, ngga usah di dengerin" Karel menutup telinga Mora, menatap mata istrinya lalu menyembunyikan wajah istrinya ke dalam pelukannya.
"Woy anjg" terdengar suara seseorang yang mendobrak pintu, menghentikan obrolan tiga orang di dalam, jalan dengan nafas memburu.
"Ck elah, apani jangan bikin panas jomblo gini lah"
Mora mendongak setelah lepas dari kedua tangan Karel, lalu menoleh menatap seorang laki-laki muda tampan yang tidak ia tahu siapa namanya.
"Natap gue kaya ngga pernah lihat orang ganteng aja" orang itu kembali bercelutuk, berjalan ke arah kursi dan duduk dengan kaki yang di tumpukan di kaki sebelahnya, lalu menjilat es krim yang ada di tangannya.
"Pede banget lu njg" Andra berucap dengan kesal, andai kaki nya tidak sedang terluka karena di injak bedehah tadi sudah pasti ia sudah menjitak kepala teman nya itu.
Sedangkan Mora tampak menelan ludah, melihat es krim itu entah kenapa ia juga jadi ingin, ia menatap kantung kesrek yang ada di atas meja yang juga berisi es krim dengan banyak variasi.
__ADS_1
"Kok lu nyolot, udah mending ni ya gue dateng sebagai penyelamat kalian, coba kalau gue telat datang, udah ngga bisa di bayangin nyawa kalian terbang kemana."
"Anjg mulutnya" Andra melempar buah yang ada di atas meja dengan kesal, tidak peduli itu buah milik siapa.
"Diam deh, berisik banget sih" Karel menatap kedua teman nya itu tajam.
"Punya mulut" celetuk nya sambil mengambil kantong plastik milik nya, dan kembali mengupas es krim.
"Rafka" Andra berujar keras, kesal luar biasa dengan kelakuan setan temannya itu.
"Apasih njg, manggil-manggil kangen lu sama gue" Rafka tersenyum smrik lalu menunjukkan es krim nya pada Andra.
"Ck, coba aja lu telat datang tadi, udah gue pecat lu jadi temen gue."
"Masalahnya pas gue dateng, lu masih hidup kagak" cetus Rafka sambil menghela nafas, menatap Andra dengan wajah lelah.
Mora ingin sekali menyemburkan tawa nya, melihat sepupu nya itu di tindas oleh temannya itu.
Karel sendiri hanya bisa menggelengkan kepala, mulai tidak peduli dengan kedua temannya itu. Kini dia sibuk mengusap wajah Mora dan mengecupi pipi gadis itu.
"Anjg bini gue bukan patung" Karel mengeplak kepala Rafka dengan kencang, berani-berani nya menyebut istrinya manekin, mana berani sentuh-sentuh lagi.
"Oh emang boleh ya manusia secantik ini"
Blush
Tiba-tiba pipi Mora merona, ia menatap Rafka dengan mata malu-malu. Entah kenapa saat ini ia seperti remaja centil yang baru puber.
"Eh kok pipi kamu merah" ucap Rafka masih berusaha menyentuh Mora.
"Jangan sentuh istri gue anjg, gue patahin tangan lu" Karel menyeru galak, menatap kesal pada Rafka.
"Pelit banget elah"
"Cantik, mau es krim" Rafka mengangkat kantung plastik lalu menyerahkan pada Mora, Mora pun berusaha mengambilnya dengan mata berbinar cerah.
__ADS_1
"Eits cium dulu di sini" Rafka menunjuk pipi nya sambil menatap genit pada Mora.
BUG...
Andra hanya bisa menggelengkan kepala, teman nya yang satu itu emang urat takut nya sudah putus, jadi wajar saja kalau tidak punya rasa takut.
"Anjg wajah tampan gue co" Rafka berdiri, ingin membalas memukul Karel namun dengan cepat Karel memelintir tangan itu.
"Jangan berani sentuh milik gue anjg, terima balasan nya" Karel memelintir semakin kuat, lalu melepaskannya.
"By mau"
"Mau apa ?" Karel bertanya dengan nada lembut, membuat Rafka ingin muntah.
"Mau es krim nya by" ucap nya dengan mata memelas. Karel menatap Rafka yang sudah menarik sudut bibir nya dengan senyum mengejek seolah sedang mengatakan.
"Lihat gue yang menang"
"Nanti kita beli pabriknya ya sayang" Karel langsung memeluk Mora, kini kedua tangannya ganti menutup mata istrinya dari pemuda berbahaya seperti Rafka.
"Mau yang itu by" Mora berujar lirih
"Iya nanti ya, sekarang gimana kalau punya aku saja" Andra melotot horor, sejak kapan ucapan Karel jadi kotor seperti comberan.
"Orang pengennya es krim malah di suruh punya lu, mana punya lu, es krim kaya punya gue." Karel menatap Rafka datar.
"Udah lah gue mau pulang aja bay" sebelum Rafka pergi ia merasa ada tangan lembut yang menahannya.
"Bagi es krim nya ya satu aja" ucap Mora yang ternyata berhasil menahan lengan Rafka.
"Boleh, di pegang sampai puas juga boleh"
BUG...
BRAK...
__ADS_1