
"Permisi tuan" vano datang dan berjalan ke arah tuan nya yang sedang duduk di meja kerja nya.
"Sudah kan ?"
"Sudah tuan" ucap vano dengan tegas, tadi tuan Karel meminta nya untuk memberikan pengawalan rahasia untuk istrinya yang sedang berbelanja bersama teman nya itu.
Karel memberikan anggukan, dia memang lebih posesif akhir-akhir ini, apalagi semenjak mengetahui istrinya itu hamil, Karel semakin over.
"Oh ya tuan, di luar ada tuan Andra"
"Oh ya ?"
"Iya tuan, dia ingin bertemu dengan anda"
"Suruh masuk saja"
"Baik" vano kembali berjalan keluar, tak lama dari kepergian sang asisten, terlihat pintu kembali terbuka, menampilkan sosok Andra yang tampak kusut itu.
"Kenapa ?"
Andra duduk di kursi sofa dengan kasar, sambil memijat pelipisnya, hal itu membuat Karel tertarik, dia mendekati teman nya itu dan duduk di samping nya.
"Ada apa ?" Karel kembali bertanya
"Aku ingin meminjam pesawat pribadi mu" Karel mengernyit, tumben sekali Andra meminjam kendaraan nya, padahal laki-laki itu punya beberapa koleksi jet pribadi sendiri.
"Aku ingin ke luar negeri, dan tak ada satupun keluarga ku yang tau, jika aku menggunakan pesawat umum maka kepergian ku bisa di lacak, jika aku menggunakan pesawat milikku sendiri itupun tak mungkin." seru Andra dengan nada lelah, Karel menatap temannya itu dengan pandangan ingin tahu.
"apa kamu ada masalah ndra ?"
"Sedikit, cukuplah membuatku ingin mati" Karel semakin mengernyit mendengar nya, teman nya itu terlihat sangat berantakan.
"Cerita saja ndra, aku pasti akan membantu mu" sahut Karel namun Andra sama sekali tak menoleh, laki-laki itu menelengkupkan wajah nya pada lengan nya, apakah laku-laki itu sedang menangis, pikir Karel.
__ADS_1
"Aku hanya butuh jet pribadi sudah itu saja"
"Oke aku pasti kasih pinjam, dan aku tidak akan memaksa jika kamu tak mau cerita."
"Jangan beritahu Mora soal ini, karena dia juga tidak boleh tau." seru Andra lalu berdiri dari duduk nya, Karel menatap laki-laki itu tanpa mengucapkan apapun lagi.
"Aku pergi dulu, terimakasih sekali lagi, aku akan berangkat nanti malam, jadi aku akan langsung pergi ke markas." Karel hanya mampu menghela nafas.
Andra pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun lagi, pikiran nya sedang tak tenang, dan dia tidak bisa berbasa-basi sekarang.
Ingin sekali Karel mencari tau apa yang terjadi dengan teman nya itu, tapi dia tidak bisa. Andra saja tak mau berbagi cerita dengan nya, maka bisa di pastikan jika laki-laki itu memang ingin memendam masalah nya sendiri.
Karel pun memberitahu anak buah nya untuk mempersiapkan jet pribadi di markas, agar malam ini Andra bisa langsung berangkat.
Setelah itu, Karel pun memilih untuk pulang, hari sudah beranjak sore dan dia ingin pulang lebih dulu sebelum berangkat ke markas.
Sepertinya juga Mora belum pulang, karena saat Karel memasuki halaman mansion mobil pribadi yang biasa digunakan untuk mengantar jemput istri nya itu tidak ada.
Karel pun memilih untuk langsung naik ke kamar, dan tak lama dari itu mobil yang membawa Mora memasuki gerbang, wanita itu berjalan dengan tersenyum menuju mansion.
"Em" Mora menyembunyikan tas belanjaan nya. Namun dia sadar bahwa laki-laki yang menjadi sopir pribadi nya itu pasti akan memaksa.
"Baiklah-baiklah silahkan kamu bawa" seru Mora dengan mencebik.
"Eh sayang kok sudah rapi ?" Mora baru saja ingin membuka pintu kamar, tapi ternyata pintu itu sudah lebih dulu terbuka dan menampilkan tubuh Karel yang sudah rapi.
"Iya, aku mau keluar sebentar, ada perlu sama temen-temen."
"Yah" Mora mendesau kecewa mendengar nya
"Ngga papa ya"
"Makan dulu gih" suruh Mora, wanita itu memasuki kamar dan menaruh semua tas belanjaan nya di atas ranjang.
__ADS_1
"Ngga usah, aku langsung pergi aja, inget kalau ada apa-apa langsung telfon aku oke."
"Iya" Mora hanya menganggukkan kepala nya saja
Setelah mendapat persetujuan dari sang istri, karel pun langsung mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Saat sampai markas, Karel melihat mobil Andra sudah terparkir rapi, juga jet pribadi yang yang sudah ada di lintasan.
Karel pun masuk dan di sambut oleh beberapa orang klan Shriekthrush. Sampai di dalam dia melihat Andra yang sedang memakai sepatu.
"Jadi beneran mau pergi" tanya Karel mengambil duduk di samping teman nya itu. Menatap Andra yang tak menyambut kedatangan nya.
"Semua nya udah siap, jadi tak mungkin aku membatalkan nya."
Karel mengantar Andra sampai pada lintasan, Andra menatap Karel sebentar lalu memeluk bahu laki-laki itu.
"Terimakasih sudah mau membantu ku, aku tidak tau akan sampai berapa lama di sana. Tapi aku pasti akan pulang."
"Ya sudah sama pergi, tidak kembali juga aku tidak perduli." sahut Karel dengan ketus, lalu menatap arah lain. Andra menatap teman nya itu, sepertinya memang sedang marah.
"Kamu kenapa ?"
"Harus nya kamu yang kenapa, kita kenal bukan sebulan dua bulan tapi kamu tak mau cerita, ya sudah pergi sana."
"Kenapa kamu jadi cerewet begini" seru Andra menarik sudut bibir nya. Lucu sekali melihat sikap Karel yang berbanding 80 derajat dari sebelumnya. Sepertinya kehadiran sepupu nya di hidup laki-laki ini memang sangat berpengaruh besar.
"Akh pasti kamu sudah ketularan Mora kan"
"ck ngga usah bawa-bawa istriku ya"
Andra hanya tersenyum sinis, dia mengambil koper kecil nya dan mulai menaiki tangga pesawat. Sebelum tubuhnya hilang dia berbalik dan sedikit berteriak.
"Bukannya ngga mau cerita tapi belum waktunya kamu untuk tau." Karel hanya memutar bola matanya malas, membiarkan Andra masuk ke dalam pesawat, pesawat itu mulai mengudara dengan label nama Ivander di samping awak nya.
__ADS_1
"Ck lihat saja aku akan mencari tau, persetan dengan privasi" seru Karel sambil tersenyum sinis, mata nya masih asik melihat jet pribadi nya yang mulai mengulang di balik gelapnya langit malam.