IVAMORA

IVAMORA
Menyembunyikan


__ADS_3

Pagi ini Mora sudah sibuk berkutat di dapur, membuat makanan untuk suaminya, setelah semuanya siap ia berjalan ke arah kamar untuk melihat suaminya.


"Eh kok udah rapi" ucap Mora saat melihat suaminya sudah rapi dengan pakaian kantor.


"Hari ini aku akan keluar kota bersama vano sayang" Karel menghampiri istrinya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mora.


"Apa ?"


"Kok ngga ngasih tau aku, kalau pagi ini mau ke luar kota ?" ujar Mora merasa terkejut.


"Ini aja juga dadakan by"


"Tapi kamu kan baru sembuh" ujar Mora merasa cemas.


"Astaga by, aku tu ngga kenapa-kenapa, badan aku juga ngga ada yang lecet, aku juga masih mampu buat puasin kamu kan."


Bug...


"Itu mulut enteng banget kalau ngomong"


"Habisnya kamu parno banget"


"Ya aku khawatir"


"Udah tenang aja, aman kok, ngga perlu cemas gitu" Karel mengecup pipi istrinya.


"Ya udah kamu sarapan dulu, biar aku siapin baju kamu."


"Udah aku siapin tadi, tinggal di taruh di koper"


"Emang lama sampai bawa koper ?" Karel tersenyum, menatap istrinya yang terlihat sedih itu. Lalu memeluk tubuh istrinya sambil mengecup kening wanita itu lembut.


"Seminggu mungkin by, ngga lama kok"


"Seminggu itu lama" wajah Mora sudah cemberut ingin menangis.


"Sayang, boleh ya" Karel mengusap wajah Mora lembut, padahal seminggu itu tidak lama menurutnya, tapi tentu mereka yang masih pengantin baru akan sama-sama saling merindukan.


"Yaudah kamu turun dulu, berangkat jam berapa ?"


"Bentar lagi juga berangkat"

__ADS_1


"Astaga" Mora menepuk jidat nya, lalu berlalu memasukkan baju suaminya dalam koper. Sedangkan Karel sudah turun ke meja makan.


Pagi itu tepat pukul 9, Mora mengantar Karel hingga di halaman depan, di mana di sana sudah ada Vano yang menjemput.


"Hati-hati, nanti kalau ada waktu senggang kabarin aku ya." seru Mora menggenggam tangan Karel.


"Iya, kamu juga baik-baik di rumah ya" Mora mengangguk, sebelum pergi, Karel memeluk tubuh istrinya, membuat Mora yang tingginya hanya sebatas bahu laki-laki itu, mendongak. Dan Karel pun langsung mengecup bibir manis gadis itu.


"Jangan nakal nanti, ingat rumah" ujar Mora yang sebenarnya setengah niat melepaskan kepergian Karel.


"Iya by, kan rumah aku kamu" Mora hanya tersenyum menanggapi.


"Kamu juga jangan nakal ya, tunggu aku pulang. dan ingat aku selalu mengawasi mu dari jauh, kalau nakal aku hukum." Karel menatap istrinya tajam yang seketika membuat gadis itu terkekeh.


"Aku tunggu hukumannya"


"Ish" Karel mencubit hidung istrinya, lalu kembali mengecup bibir gadis itu.


"Aku pergi"


"Hati-hati" Mora menatap Karel yang sudah masuk ke dalam mobilnya, hingga mobil itu mulai berjalan meninggalkan mansion Ivander.


Mora menghela nafas, lalu mulai masuk ke dalam rumah dengan kepala yang tertunduk lesu.


Mora berbaring sambil melihat-lihat isi hp nya, lalu tiba-tiba wanita itu berdiri dengan wajah yang berbinar cerah.


"Apa aku ke rumah aunty Naya aja ya, udah lama ngga kesana." Mora tersenyum cerah, wanita itu langsung beranjak menuju kamar untuk bersiap.


***


Selesai mandi Mora memilih gaun putih sebatas lutut, membiarkan rambut nya tergerai dengan pita putih kecil di samping dahi yang membuat penampilannya terlihat manis. Mora tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Mengambil tas bahu wanita itu turun dengan high heels nya yang tak terlalu tinggi.


Mora memilih untuk memesan taksi, wanita itu menyandarkan punggung nya di sandaran kursi mobil.


Hingga mobil taksi itu tiba di sebuah rumah megah berwarna putih, Mora pun turun, gadis itu memencet tombol di samping pagar hingga pagar tinggi itu terbuka.


"Eh non Mora, astaga sudah lama tidak kelihatan makin cantik saja." Mora tersenyum cerah mendengar itu, ia mengangguk membalas sapaan satpam itu.


"Iya ni pak, hidup nya bahagia jadi aura cantiknya keluar" mereka tertawa bersama.


"Aunty Naya ada pak ?"

__ADS_1


"Ada non di dalam, den Andra juga ada" Mora mengangguk, lalu berjalan menuju pintu besar yang terbuka itu.


"Aunty" sapa Mora yang sudah dekat dengan ruang tamu, seketika suara nya membuat semua orang yang duduk di ruang tamu itu mendongak.


"Eh sayang, sini nak" sapaan hangat itu di berikan untuknya, Mora tersenyum lembut, menghampiri aunty Naya yang sedang duduk di depan Andra yang wajah nya tampak tertekuk itu.


"Aunty apa kabar ?"


"Baik sayang, kamu sendiri gimana kabarnya. Kok kesini sendiri sih."


"Ah iya, Karel sedang pergi ke luar urusan pekerjaan aunty, jadi Mora kesini sendiri."


"Astaga sayang, kamu naik apa ?"


"Naik taksi aunty"


"Sudah ya ma, Andra ke kamar dulu" laki-laki itu bangkit dari duduk nya.


"Andra mama belum selesai bicara, ANDRA !!"


"Udah biarin aja ma, biar istirahat dulu anaknya." sahut papa Andra yang biasa Mora panggil dengan sebutan uncle Eve.


"Anak kamu itu pa"


"Udah ya, papa mau ke ruang kerja dulu, sayang kamu temani mama mu dulu ya." sahut papa Andra pada Mora, Mora mengangguk, dia memang di minta untuk memanggil aunty Naya dengan sebutan mama.


"Aunty kenapa ?"


"Mama kesal nak sama sepupu kamu satu itu, kerjaannya buat mama pusing setiap hari."


"Memang Andra melakukan apa ?"


"Sepupu mu itu jarang pulang akhir-akhir ini, mama curiga dia menyembunyikan sesuatu, setiap mama tanya dia tidak pernah mau jujur." Mora mengangguk, menyembunyikan sesuatu ya, tapi apa.


Yang dia tau, Andra itu bukan tipikal orang yan tertutup, tapi aunty Naya tadi mengatakan jika sepupunya itu jarang pulang, dia memang tau sih kalau Andra punya apart.


"Maybe, Andra lebih nyaman tidur di apart ma" sahut Mora yang merubah panggilan nama nya, jika sedang berbincang serius seperti ini dia memanggil aunty Naya dengan sebutan mama.


"Tapi mama yakin bukan itu alasan utamanya." sahut aunty Naya dengan nafas memburu.


......______......

__ADS_1


Santai dulu ngga sih, nanti kita selesain cerita nya satu-satu. Selingan ya guys biar ngga bosan🄰


__ADS_2