IVAMORA

IVAMORA
Butuh Waktu


__ADS_3

Saat ini Mora berada di ruang khusus di perusahaan Ivander Group, gadis itu terus menatap jam di pergelangan tangan nya yang terus saja berputar.


"20 menit lebih 7 detik" Mora mendesau lelah, jika seperti ini dia yang merasa bersalah kepada klien nya itu, padahal pihak mereka sudah tiba sedari tadi namun tak ada tanda-tanda kedatangan Karel sama sekali.


"Hiss kenapa mereka lama sekali" Mora terus saja bergerak gusar, Karel tak juga datang, sebenarnya kemana dua laki-laki itu, padahal asisten tuan nya itu tadi mengatakan jika mereka sudah berada dalam perjalanan, namun sampai sekarang pun belum datang.


"Sebenarnya, tuan anda berada di mana miss" ujar laki-laki paru baya yang terlihat sudah lelah karena menunggu sedari tadi.


"Saya tidak tau tuan, tadi sih katanya sudah berada dalam perjalanan, em biarkan saya menelfon nya kembali" Mora mengambil handphone nya, dengan niat menghubungi dua laki-laki yang sampai saat ini belum menunjukkan batang hidung nya.


Namun Mora mengurungkan niat nya saat melihat pintu ruangan yang terbuka, menampilkan Karel dan Vino yang berjalan memasuki ruangan dengan aura penuh dominan.


Mora pun akhirnya bisa menghela nafas lega, saat keluar dari ruangan itu, ia merasa haus sekaligus lapar, gadis itu melangkahkan kaki menuju ruangan teman nya Sofia, dia jarang sekali ke ruangan teman nya itu, dan tentu saat ini ia ingin menemui teman nya sekaligus melihat ruangan Sofia.


"Sofia" seru Mora saat melihat Sofia yang sedang duduk sambil bersandar di kursi ruangan nya.


"Eh Mora" Sofia meletakkan koran yang ada di kedua tangan nya, gadis itu menegakkan tubuh nya dan menatap Mora dengan dahi yang mengernyit heran.


"Tidak berniat membeli makan di kantin ?" tanya Mora sambil mendekat ke arah temannya.


"Aku lapar, temani aku ke kantin yuk" ajak Mora sambil menepuk bahu Sofia.


"Boleh, aku juga merasa pusing dan haus, seperti nya membutuhkan yang dingin-dingin." ucap Sofia langsung bangkit dari duduk nya, lalu mereka pun berjalan bersama menuju kantin.

__ADS_1


Mora nampak memperhatikan wajah teman nya yang nampak lesu, entah kenapa gadis itu, wajah nya tampak terlihat lelah dan tidak bersemangat.


"Apa kamu tidak merasa bosan dengan semua ini ?" ucapan yang teman nya itu lontarkan membuat Mora mengernyit binggung.


"Bosan ? soal apa ?" tanya Mora


"Semuanya, pekerjaan, urusan rumah. Intinya ngerasa capek aja." Mora tersenyum kecil, ia mengangguk saat paham maksud teman nya itu.


"Ada sih saat-saat aku ngerasa bosan banget, tapi mau gimana lagi. Udah pilihan aku untuk bekerja di perusahaan ini." ujar Mora apa adanya.


"Bukan itu" sela Sofia dengan cepat.


"Jujur yang bikin capek tu, kalau kita harus ketemu sama seseorang yang sama sekali ngga bisa ngertiin kita. Tapi dia selalu minta di ngertiin. Nguras tenaga banget tau ngga." ucap Sofia sambil menaruh kepala nya di atas meja.


"Masalah sih engga, cuma lagi ngerasa capek aja" sahut gadis itu, masih dengan wajah lesu nya.


"Hehe, semangat ya, ini di minum dulu biar dingin hatinya" Mora memberikan segelas minuman segar yang di pesan Sofia. Dia juga segera meminum minuman milik nya. Siang-siang begini memang paling pas minum minuman dingin. Agar dapat mendinginkan pikiran yang rumit karena pekerjaan jiahk.


"Huh, sepertinya aku mau resign aja deh Mor" Mora yang mendengar hal itu langsung tersedak, gadis itu menepuk dada nya dengan keras.


"Eh maaf membuat mu terkejut ya" Sofia yang merasa tidak enak ikut menepuk bahu Mora yang masih terbatuk.


"Kenapa mempunyai niat untuk resign. Memang kamu sebenarnya ada masalah apa, cerita saja jangan di pendam." ujar Mora yang benar-benar di landa rasa pemasaran yang tinggi.

__ADS_1


Selama ini dia sangat mengenal Sofia, gadis ceria itu tidak mungkin ingin resign dengan alasan capek. Pasti ada masalah yang di sembunyikan oleh gadis itu.


"Entahlah, sepertinya aku akan mengajukan cuti untuk beberapa hari ke depan, aku benar-benar butuh istirahat." ujar gadis itu dengan pandangan menerawang. Ia menatap ke gelas minumannya dengan pandangan yang kosong.


"Ya tidak apa-apa sih jika ingin mengambil cuti, tapi jangan gegabah main resign gitu aja. Kamu harus ingat Sof, bisa bekerja di perusahaan ini bukan hal yang mudah, apa kamu mau perjuangan mu berakhir sia-sia ?"


"Apapun masalah mu sekarang, kamu harus pikirkan semuanya dengan baik, mencari pekerjaan tidak semudah itu, apalagi dengan keadaan seorang pekerja tetap." Mora masih berusaha menasehati teman nya itu.


"Iya aku tau, aku tidak akan membuat keputusan dengan terburu-buru. Seperti yang aku bilang tadi, aku akan mengambil cuti untuk menenangkan pikiran ku dan beristirahat."


Sejak berpisah dengan Sofia Mora merasa tak fokus dengan pekerjaan nya, gadis itu terkadang ikut melamun karena merasa khawatir dengan teman kantor nya itu.


Meski baru dekat belum genap satu tahun, tapi ia sudah menganggap Sofia seperti sahabat nya yang lain. Tentu jika gadis itu memiliki masalah akan ketara karena sikap nya yang terus saja murung.


"Baby" Karel yang sedari tadi melihat Mora menghiraukan nya merasa tak tahan lagi untuk mendekat, padahal ia sudah berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh Mora saat berada di kantor. Tapi entah kenapa melihat Mora yang sedari tadi terdiam dan tak menggubrisnya membuat nya merasa tak tahan untuk mendekat.


"Tuan" Mora yang tersadar segera saja mencoba untuk melepaskan rengkuhan Karel pada tubuhnya.


"Kenapa dahi ini terus berkerut sedari tadi, jangan berfikir terlalu keras baby. Kasihan kapasitas otak mu yang kecil ini jika terus di paksakan untuk berfikir." ujar Karel sambil mengusap dahi Mora, mendengar hal itu membuat Mora mendengus, ia menatap Karel dengan sinis.


"Apasi" ujar Mora dengan mata melotot


"Ada apa, cerita saja jangan malah melamun terus" Karel mengusap bahu Mora yang kembali ia peluk, laki-laki itu mengambil kesempatan untuk mengecup kepala gadis nya yang mengeluarkan wangi yang membuatnya terus merasa candu.

__ADS_1


__ADS_2