IVAMORA

IVAMORA
Ungkapan Cinta


__ADS_3

"Santai aja kali, kalau mobil nya rusak bagaimana ?" Karel tak peduli dengan ucapan penuh protes dari sekertaris nya. Ia melajukan mobil meninggalkan restoran.


"Harus nya tuan tidak membawa saya pergi, gimana nasib teman saya yang masih tertinggal di sana" Mora kembali berbicara, berharap pikiran tuan nya itu terbuka dengan lebar.


"Teman mu akan di antar Vino" sahut Karel tanpa menoleh, tatapannya tampak fokus ke depan seolah tak tertarik untuk menatap gadis di samping nya.


"Tapi dia datang bersama saya, saya merasa tak enak meninggalkannya begitu saja" sahut Mora dengan ketus, rasa kesal nya semakin menjadi melihat sikap tuan nya yang egois.


"Itu bukan hal penting Mora, jangan melebih-lebihkan" Mora menatap Nyalang tuan nya, ntah kenapa makin kesini ia semakin mengerti sikap buruk nya Karel.


"Tuan tidak bisa berbicara semudah itu, tuan tidak pernah kan merasakan rasanya di tinggalkan sendirian ? tapi bukan begitu caranya tuan, anda tidak bisa seenaknya begitu saja kepada orang lain. Meski itu bawahan tuan sekalipun tidak sepantasnya anda bersikap seenaknya." sahut Mora panjang lebar, ucapannya terdengar keras di dalam mobil. Jangan ajarkan ia cara nya patuh, karena sikap tuan nya benar-benar sudah kelewatan menurutnya.


Karel mengerem mobil dengan mendadak hingga tubuh Mora maju hampir menabrak dasboard, untung saja ia memakai sabuk pengaman.


Ia menatap Karel yang menatap nya dengan wajah memerah, terlihat emosi di dalam manik mata laki-laki itu, Karel mendekat lalu mengurung tubuh Mora menggunakan kedua lengannya.


"Kamu bahkan tidak tau apa-apa soal hidup ku, dan jangan pernah bicara soal di tinggalkan karena gadis manja seperti kamu tidak akan pernah mengerti arti di tinggalkan yang sebenarnya" sahut Karel lirih penuh intimidasi, Mora memberanikan diri menatap mata Karel, mata laki-laki itu tampak memerah.


"Dan kenapa kamu harus tidak terima kontrak kerja sama dengan NA crop batal, apa karena kamu tidak bisa bertemu lagi dengan Antony begitu ?" ujar Karel dengan tajam, kini tangan nya terangkat untuk mencengkram dagu Mora, sedikit menekan ya dengan kuat membuat Mora meringis sakit.

__ADS_1


"Kenapa jadi menyalahkan saya, seharusnya anda tau kenapa saya merasa kesal, saya sudah merelakan waktu saya untuk terbang bersama dengan anda kesana. Namun semuanya berakhir sia-sia. Wajar bukan jika saya kecewa." sahut Mora, kini mata ikut memerah karena rasa sakit di rahang nya. Cengkraman tangan Karel begitu kuat seolah mampu membuat rahang kecil nya patah.


"ITU SUDAH TUGAS KAMU" bentak Karel dengan keras, Mora sampai terkejut saat mendengarnya.


"SADAR DIRI KAMU ITU HANYA SEKERTARIS, TURUTI APA MAU TUAN MU!!" Kembali Karel berucap dengan nada Keras, Mora menatap dengan mata berkaca-kaca, namun tak membiarkan air mata turun dari mata nya. Dia tidak ingin menangis hanya karena ucapan Karel.


"Turun" sahut Mora lirih, ia menatap depan tanpa peduli dengan wajah Karel yang semakin garang.


"Siapa kamu menyuruhku" ucapan Karel melemah, padahal emosi sudah terkumpul di hati nya dan siap meledak kapan saja.


"Saya mohon turun dari mobil saya karena saya ingin pulang" sahut Mora, ia tak peduli jika di bilang tidak profesional, bahkan di pecat pun ia akan terima. Ego Karel sedang tinggi dan ia rasa percuma bicara baik-baik dengan laki-laki itu.


Karel menghentikan mobil nya di mansion utama, ia turun dengan cepat dan membuka pintu di samping Mora, gadis itu tak bergeming, bahkan menoleh saja tidak, Mora malah akan berpindah ke kursi kemudi untuk pulang, namun tubuh nya terasa melayang karena Karel malah menggendongnya memasuki mansion besar di hadapannya.


"LEPAS" ujar Mora dengan keras, sudah sejak tadi ia menahan tangis, kini malah Karel kembali mempermainkannya, akhirnya gadis itu pun terisak dengan kuat, bagaimana pun ia tak pernah suka jika di bentak, apalagi bentakan Karel sangat melukai hati kecil nya.


Karel diam dengan tetap melangkah tegap, laki-laki itu berjalan menuju kamar nya dengan menggunakan lift. Ia bahkan tak memedulikan sapaan hangat para pekerja di rumah nya karena saat ini mood nya sedang buruk.


Sampai di kamar Karel meletakkan tubuh Mora dengan hati-hati di atas ranjang besar milik nya, Mora masih terisak.

__ADS_1


"Lepas aku mau pulang" ujar Mora dengan isakan kecil nya, Karel tertidur di samping nya sambil memeluk tubuh nya.


"Maaf" ujar Karel lirih, ucapan itu kembali membuat tubuh Mora bergetar karena tangis, hanya bentakan Karel yang terngiang di kepala nya sehingga membuat tangisnya kian kuat.


Ini adalah permintaan maaf kedua yang keluar dari mulut Karel, dan itu kembali ia ucapkan kepada Mora, hati nya yang selama ini tak tersentuh merasa nyeri saat mendengar tangisan gadis dalam dekapan nya.


"Jangan mengatakan apapun, aku sedang marah. Aku hanya ingin memeluk mu" ujar Karel dengan lembut, emosi nya berangsur hilang begitu saja, ia menyerukan kepala nya di leher jenjang Mora sambil menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam.


Mora kembali terisak, nyata nya ucapan Karel sama sekali tak mampu ia terima, setelah membentaknya tanpa perasaan kini laki-laki itu malah bersikap demikian, kenapa laki-laki ini sangat gemar mempermainkan perasaan nya.


"Aku membencimu tuan" sahut Mora dengan lirih, ya ia benci dengan sikap Karel yang egois dan seenaknya.


"Tapi aku mencintaimu nona, maafkan sikap dan perasaan ku" sahut Karel dengan mata terpejam, ya dia merasa kan perasaan itu, dia tak suka gadis dalam dekapannya ini di sukai laki-laki lain, ia juga tak suka setiap ada lelaki yang terlihat memperhatikan Mora dengan tatapan penuh damba. Dia iri setiap mendengar Mora bercerita panjang sambil tertawa tentang Arsen kepada Sofia.


Dia selalu mendengar nya saat sedang diam-diam makan di kantin, di mana Mora sangat antusias menceritakan Arsen sahabatnya yang begitu di cintai oleh Mora.


Dia merasa iri saat dengan wajah bahagia nya Mora menceritakan laki-laki lain meski itu sahabatnya sekalipun, ia merasa tak suka.


"Jangan pergi, karena aku sudah terlalu sering di tinggalkan." ucap Karel, tangan nya semakin erat mendekap tubuh kecil Mora yang sedari tadi bergetar.

__ADS_1


__ADS_2