IVAMORA

IVAMORA
64


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Karel, kini Mora sudah selesai membersihkan diri, gadis itu duduk di meja kerja di kamarnya sambil melamun, setelah pulang dari acara pertemuan dengan keluarga Karel, ia jadi memikirkan banyak hal, perihal trauma Karel, hubungan Karel yang sangat buruk dengan orang tuanya, bahkan laki-laki itu juga bersikap acuh kepada kakek nya sendiri.


Bukan hanya itu, Mora juga merasa penasaran dengan mantan kekasih nya itu, perempuan yang bernama Gracella itu benar-benar menyimpan banyak misteri, saat tadi Karel memperhatikan nya perempuan itu sama sekali tak terganggu, wajah nya terlihat menyimpan banyak beban, dan pikirannya terlihat sedang kosong dan tidak berada di tepat.


"Huh" berkali-kali Mora menghela nafas, gadis itu benar-benar merasa penasaran, apakah Gracella berniat untuk merebut Karel darinya, apakah perempuan itu akan menjadi ancaman untuk hubungan nya dengan Karel. Mora tidak tau tentang itu, selama ini dia selalu waspada akan setiap orang yang baginya bisa menjadi ancaman. Tapi Gracella, mantan kekasihnya itu benar-benar tidak bisa di tebak.


"Aku percaya dengan Karel, tapi aku tidak bisa mempercayai gadis itu" seru Mora dengan nada lelah, meski ia yakin Karel tak akan terganggu dengan keberadaan mantan nya itu, tapi tentu saja Mora tak bisa tinggal diam sebelum memastikan sesuatu.


Lalu Mora pun mengambil handphone nya, gadis itu mengetikkan sesuatu dalam pesan lalu mengirim pesan itu ke seseorang.


Mora memilih untuk turun, gadis itu melihat mama dan papa nya sedang duduk bersama di ruang tamu sambil menonton tv. Mora pun berjalan ke arah kedua orang tuanya, bergabung dengan mereka.


"Ma, pa" Mora duduk sambil mengambil cemilan ringan di atas meja, gadis itu membuka wadah kaca lalu mulai memasukkan cemilan itu ke dalam mulut nya.


"Kamu ini, menganggu saja" seru papa Abi ketika melihat putri nya datang.


"Menganggu bagaimana ?" tanya Mora dengan dahi berkerut, bisa-bisa nya dia di bilang menganggu, padahal dia ingin berkumpul dengan keluarga nya sendiri.


"Sudah jangan dengarkan papa mu, seperti tidak tau saja dia seperti apa." seru nyonya Abi dengan wajah kesal, ia lalu berdiri dan beralih duduk di samping putri sulung nya.

__ADS_1


"Bagaimana hubungan mu dengan Karel ?" tanya nyonya Abi


"Baik baik aja sih ma" seru Mora sambil tersenyum, gadis itu menyenderkan kepala nya di bahu ibunya membuat tangan nyonya Abi mengelus lembut rambut halus putri nya itu.


"Kamu benar-benar sudah dewasa nak, mama tidak pernah menyangka jika kamu besar secepat ini" seru nyonya Abi sambil mencubit hidung putrinya.


"Ish mama, aku masih 21 tahun bentar lagi mau 22 sih." seru Mora sambil menatap langit mansion.


"Nah kan, kenapa masih manja banget hem" seru mama Abi dengan geli, tangannya dengan teratur mengelus surai hitam putrinya.


"Biarin aja, anak mama yang paling manja kan aku, Alettha gadis itu bandel dan tak suka di atur, Arka, putra mama itu sikapnya seperti kulkas 12 pintu, membuat orang tertekan saja." seru Mora sambil mencibir.


"Hal itu yang membuat papa percaya sama mereka, karena mereka selalu bisa melindungi diri." tiba-tiba papa Abi menyela, setelah sedari tadi diam sambil memperhatikan kedua perempuan yang dia sayangi.


"Aku ngga iri, harusnya mereka sih yang iri. Astaga dua anak mama itu benar-benar aneh, bisa-bisanya mereka biasa saja padahal aku yang paling dekat dengan mama dan papa." seru Mora dengan cemberut.


"Ya bagus dong, itu artinya mereka menyayangi kakak nya sama seperti kakak yang menyayangi mereka."


"Iya juga sih" Mora menguap, gadis itu memejamkan mata nya sambil merilekskan pikirannya yang kusut.

__ADS_1


"Ingat ya sayang, jika kamu punya masalah atau berselisih paham dengan kedua adik mu, kamu harus tetap menjadi sosok dengan pikiran yang dewasa, mengalah dan beri mereka pengertian dengan baik. Jangan sampai kalian marah dan tidak saling sapa dalam waktu yang lama. Itu akan menyakiti kami sebagai orang tua." seru nyonya Abi, untuk sejenak tak ada balasan, nyonya Abi pun menoleh.


"Lah malah tidur" wanita setengah baya itu menggeleng dengan senyum geli, begitupun dengan papa Abi yang hanya bisa tersenyum.


"Gendong gih pa ke kamar, ngga biasanya ini anak ketiduran kalau lagi di ajak ngobrol" seru nyonya Abi. Papa Abi pun menurut lalu mengendong tubuh putri nya itu.


Keesokan harinya


Mora kembali ke rutinitas nya, gadis itu sedang merias diri di kamarnya, 10 menit lagi ia akan berangkat ke kantor, setelah melihat ia siap dengan style kantor nya ia pun turun untuk menyiapkan sarapan yang akan ia bawa ke kantor.


"Pagi bi" sapa Mora sambil duduk di kursi, gadis itu mengambil susu yang sudah siap di atas meja dan menyesapnya dengan pelan.


"Pagi non, sarapan nya sudah siap" seru bibi sambil memberikan sekotak bekal ke hadapan nona nya.


"Ah terimakasih bibi cantik, lain kali biar aku menyiapkan sendiri sarapan ku. Aku tak mau terlalu merepotkan bibi." seru Mora dengan senyum khas nya, selalu saja senyum itu menular pada orang lain.


"Tidak merepotkan non, sudah menjadi tugas bibi" memang Mora sudah sering mengatakan jika ia akan menyiapkan makanan nya sendiri, tapi bibi tak membiarkan nya, ia hanya akan menuruti kemauan nona nya saat hari libur, sehingga gadis itu bisa leluasa melakukan apa yang ia mau.


"Ya sudah bi, aku berangkat dulu ya, seperti biasa nanti bilang ke mama dan papa jika aku sudah berangkat. Dan terimakasih susu nya." ucap Mora yang mengundang senyum bibi untuk terbit, kalimat itu sudah sangat sering keluar dari bibir Mora setiap mau berangkat kerja, ia saja sampai hafal.

__ADS_1


"Baik non nanti bibi sampaikan, non Mora hati-hati ya di jalan"


"Siap" seru Mora sambil memberikan hormat yang membuat bibi terkekeh.


__ADS_2