IVAMORA

IVAMORA
Ketahuan


__ADS_3

Mora pun menyingkir sambil bersin dengan keras, gadis itu mengusap hidung nya yang memerah dan terasa sakit.


"Hachim"


Mora menatap Antony yang menatap nya, gadis itu terkekeh geli sambil mengusapkan telapak tangannya pada celana kerja nya.


"Ah maafkan saya, akhir-akhir ini saya mengalami flu yang tiba-tiba saja datang saat saya menghirup udara kotor, hachim." Mora terus saja bersin bahkan gadis itu sampai menunduk.


"Udara kotor, rumah ini selalu bersih" seru Antony merasa heran.


"Ah benarkah ? hidung saya sangat sensitif, dan jika sedang bersin berat seperti ini biasanya ada banyak kuman yang menempel di sekitar saya." seru Mora sambil mengusap hidung nya, tiba-tiba saja laki-laki itu menatap Mora dengan tajam, seolah dia merasa bahwa Mora sedang menyindirnya.


"Ah baiklah untuk nona manis, saya akan meminta ratusan pelayan untuk membersihkan semua ruangan ini, dan memastikan tidak ada kuman atau udara kotor yang kamu hirup." ucap Antony, kini ia kembali mendekati Mora. Mereka hanya berjarak beberapa centi saja.


"Em dan"


"Hachim" Mora bersin kembali dengan keras sehingga mengenai wajah Antony, wajah laki-laki itu merah padam, mungkin saja karena marah. Tapi Mora sama sekali tak peduli, toh dia memang sengaja melakukannya.


"Ah maaf sekali lagi, tolong jangan dekat-dekat dengan saya. Hidung saya terasa sakit karena bersin sedari tadi." seru Mora sambil menghindar dari laki-laki di depannya.


"PELAYAN" ucap Antony dengan suara yang keras nan menggelegar.


"Iya tuan" seorang pelayan wanita tampak berdiri di tak jauh dari mereka.


"Tolong bantu tamu istimewa saya untuk membersihkan diri, dan berikan ia obat flu agar sakit nya cepat sembuh." seru nya sambil menatap Mora tajam.

__ADS_1


"Baik tuan, mari nona" ucap pelayan itu sambil berusaha menarik lengan Mora.


"Jangan sentuh, nanti aku bersin lagi, udara nya sungguh sangat buruk." seru Mora sambil menarik tangannya ke samping.


Akhirnya dengan terpaksa Mora mengikuti langkah kaki wanita pelayan itu, meski ia merasa gerah dan tidak betah, dia harus tetap main cantik. Agar bisa keluar dari kandang singa ini.


Sepanjang hari, Mora hanya bisa berbaring dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar, ia di kurung di dalam kamar ini entah dengan tujuan apa.


"Ck keluar lewat mana ya" gadis itu mencoba mencari celah untuk bisa kabur, jendela sudah tak mungkin lagi, karena di halangi oleh kawat besi yang kokoh.


"Apa rumah ini memang di ciptakan sebagai tahanan" seru Mora sambil berdecak, gadis itu melihat kamar mandi, lalu masuk ke dalam nya. Melihat ke sekeliling langit bangunan.


"Tak ada celah ish" gadis itu kembali keluar sambil menghentakkan kaki nya kesal.


Mora pun akhirnya berjalan mendekati meja belajar itu, gadis itu melihat banyak sekali buku, yang kebanyakan buku bisnis dengan bahasa Jerman dan Eropa. Gadis itu pun mengambil salah satu buku dengan warna biru gelap yang berjudul vertraulich.


Saat buku itu di ambil, terlihat sebuah tombol kecil berwarna merah di dalam rak itu, karena penasaran tanpa sadar Mora pun memencet tombol itu.


Deg


Jendela yang tadi nya di kunci dengan kawat besi kini sudah terbuka lebar, bahkan di luar sana Mora bisa melihat halaman luas yang kosong bebas dari keamanan pengawal.


"Waw" Mora segera berjalan ke arah ranjang, mengambil sprei lalu mengikatnya di salah satu benda yang menurutnya kuat. Lalu Mora pun melakukan ancang-ancang untuk turun.


"Ngga nga aku ngga boleh takut" gadis itu mulai turun secara perlahan, dia harus cepat sebelum Antony menyadari jika ia berusaha kabur.

__ADS_1


Setelah aman sampai bawah, Mora pun mulai berlari kecil mencari jalan keluar, sedangkan di mansion Antony kini terjadi pertarungan hebat, di saat pengawal nya sedang bertarung, lelaki itu memilih untuk melihat Mora, Sampai kamar ia kembali mengamuk saat tak melihat gadis yang ia cari.


"Ah sial" Laki-laki itu menendang nakas lalu mulai melihat jendela rahasia itu yang membawa Mora kabur.


"Ahgg..." Antony pun tak mau kalah, ia ikut turun lewat jendela untuk mencari Mora, jika bertemu, ia pastikan Mora akan memohon dan tak akan bisa lepas darinya.


Sementara itu Mora berusaha mencari jalan, gadis itu melihat gerbang kecil di ujung, lalu Mora pun keluar lewat gerbang itu. Kini ia di hadapkan oleh hutan belantara yang sangat lebat. Mora mulai berjalan menyusuri hutan yang terlihat sekali jarang di lewati manusia itu.


Deg, gadis itu tiba-tiba membeku di tempatnya saat kini ada yang menepuk bahu nya dari belakang, dengan segera gadis itu pun lari sekencang mungkin tanpa menoleh, ia mendengar langkah kaki mengejarnya, membuat Mora lari semakin kencang.


"Jangan lari Mora, berhenti atau kamu akan menyesal" Mora tak mengindahkan ucapan itu, jelas ia tahu siapa pemilik suara itu.


Mora terus berlari, sampai gadis itu tidak sadar saat ada akar besar membentang di hadapannya, akhirnya Mora pun terjatuh dengan siku yang bertubrukan dengan akar itu.


"Shtt" mata Mora berkaca-kaca, rupanya bukan hal mudah kabur dari laki-laki gila seperti Antony.


"Mau kemana lagi sayang, hem" ujar Antony dengan senyum mengejek.


"Kenapa kabur sejauh ini, mau aku hukum" seru laki-laki itu, kini ia ikut berjongkok di dekat Mora.


"Sepertinya bukan hal buruk, bercinta di sini. Tak akan ada yang tau juga. Apa aku perlu melakukan nya untuk melumpuhkan kaki kamu hem" Mora membuang muka, merasa jijik dengan laki-laki di depannya itu.


Antony semakin mendekat bahkan kini ia mencekal tangan Mora menggunakan dasi yang ia pakai, lalu membuka kancing baju gadis itu.


"Kita habiskan malam ini bersama ya" ucap lelaki itu, masih sama dengan senyum smirk.

__ADS_1


__ADS_2