
Malam ini di rumah Abiyasa, semua tampak panik, karena putri sulung mereka belum pulang, sedari tadi mama Abi sudah menghubungi, namun tak juga mendapat jawaban dari Mora, sedangkan papa Abi menyuruh beberapa bawahan nya untuk melacak keberadaan putri pertama nya itu.
"Dia ada di rumah Karel" papa Abi berujar selepas melihat layar handphone nya. Ia menghela nafas, lalu menatap istrinya yang wajahnya tampak sangat cemas itu.
"Laki-laki itu kenapa membawa kakak pa, sudah membuat kita panik lagi." Arka berucap dengan wajah datar, selalu saja tentang Karel, dia sensi.
"Kalian tenangkan mama, papa akan menyusul kakak kalian." tidak ada pilihan lain, papa Abi memutuskan untuk menyusul Mora, mau bagaimana lagi, handphone gadis itu tak bisa di hubungi.
"Mama mau ikut pa" mama Abi mendekat dengan wajah cemas, ia menggenggam lengan sang suami.
"Kamu di rumah aja ya, tunggu aku pulang bersama Mora."
"Iya ma, mama di sini aja nunggu bareng Alettha" gadis itu merangkul lengan mama nya, sebenarnya dia juga ingin ikut papa nya, merasa geram pada kakak nya dan kak Karel karena sudah membuat mama se cemas ini, namun ia harus bisa menenangkan mama nya di rumah.
"Papa pasti bakal bawa kakak pulang" Alettha kembali berucap sambil mengusap-usap punggung tangan mama nya.
"Hati-hati ya pa" akhirnya setelah mendengar kata-kata Alettha mama Abi pun sedikit lebih tenang.
Papa Abi mengangguk, lalu berlalu ke luar rumah menuju mobil nya, ia membawa beberapa pengawalnya untuk ikut.
Mora masih berusaha untuk mengajak Karel berbicara, meski ia tau laki-laki itu sama sekali tak merespon ucapannya. Gadis itu duduk sambil menunduk, melihat telapak tangan Karel yang perban nya berwarna sedikit merah, mungkin darah masih keluar dari tangan laki-laki itu.
"Aku tau aku salah, mungkin kesalahan ku sangat fatal kali ini. Dan aku tau aku sudah membuat mu terluka lebih dalam, aku benar-benar menyesal." Mora berbicara masih dengan kepala yang menunduk.
"Omong kosong" Karel menarik tangannya, memberi jarak dengan gadis itu.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, aku tak akan menahan mu lagi." seru Karel berbicara tanpa menatap Mora, bukankah ini keputusan terbaik untuk mereka ?
__ADS_1
"Apa benar, tak ada lagi kesempatan untuk ku." Mora menjawab dengan mata yang sudah berkaca-kaca, jika begini dia akan kembali bersikap cengeng.
"Bukankah itu yang kamu mau ? aku tak akan memaksa lagi." seru Karel acuh.
"Bukannya sebentar lagi kita akan menikah, oke aku akui aku yang salah, tidak seharusnya aku bersikap seperti anak kecil. Aku tidak pernah berfikir sejauh itu. Maafkan gadis ceroboh ini ?" Karel terdiam, sulit baginya untuk percaya dengan ucapan gadis itu.
"Sudahlah aku ingin sendiri dulu" Karel berujar setelah menghela nafas, mencoba untuk berfikir dengan kepala dingin.
"Kamu tau sikap mu yang seperti ini membuatku terluka, jangan selalu bersikap baik kalau itu tidak nyata." ujar laki-laki itu kembali.
"Lebih baik kamu pergi sebelum aku benar-benar berbuat kasar padamu." seru Karel, tangannya sudah mengepal erat di samping tubuhnya.
Mora menghela nafas, berusaha meredakan ego nya, mungkin memang ini salahnya, dia yang membuat Karel kecewa dan marah, tidak seharusnya dia memaksa Karel untuk mendengarkannya sekarang.
"Maafkan aku, dan aku tak akan memaksamu lagi." Mora turun dari ranjang, dia mendekat ke arah Karel, lalu mengambil tangan itu untuk ia kecup, meski ingin sekali memeluk Karel dia tak mungkin melakukannya sekarang.
Karel termenung di tempatnya sambil melihat tangannya yang baru saja Mora cium, mata laki-laki itu memanas, hati nya terasa nyeri, namun ia memilih untuk kembali berbaring. Bahkan tak ada niat sedikitpun untuk mengantar Mora pulang, hatinya terlalu lelah hari ini.
"Antar kan dia pulang, pastikan dia aman" Karel langsung mematikan telefon, ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan sedih.
"Kamu sendiri yang menguji perasaanku" ucap Karel lirih.
Mora turun dengan sedikit terisak, sungguh ia sangat menyesal, menyesal karena berniat untuk meninggalkan Karel, sekarang Karel marah padanya, laki-laki itu benar-benar tak mau berbicara padanya.
Dadanya terasa sesak membayangkan Karel pergi dari hidupnya, meski ini semua sepenuhnya karena salahnya yang mempermainkan perasaan laki-laki itu, padahal dia tau sendiri jika Karel mempunyai trauma dalam percintaan nya.
"Hiks" Mora mengusap sudut matanya yang terus saja berair.
__ADS_1
"Nona, anda dari mana saja, kami semua mencari anda sedari tadi." salah satu pengawal datang, saat melihat Mora berjalan dengan tangan yang terus mengusap pipi.
"Aku akan pulang" Mora melangkah pergi.
"Nona, saya akan mengantar anda" pengawal yang ada di dekat pintu keluar mencegah langkah Mora, ia di pinta oleh tuan Karel untuk mengantar gadis itu pulang.
"Tidak perlu saya bisa sendiri"
"Tolong menurut nona, demi kebaikan bersama" lagi, pengawal itu berbicara, berharap Mora menurut kali ini.
"Jauhkan tanganmu" mata Mora melebar saat melihat papa nya berjalan ke arahnya dengan mata yang memicing tajam. Menatap pengawal yang ada di dekat putrinya.
Pengawal itu mundur, membiarkan papa Abi berjalan menghampiri nona Mora, diam-diam ia mengirim pesan kepada Karel.
"Kamu kenapa nak" papa Abi menatap wajah putrinya yang sembab, meski ia sudah tau apa permasalahannya ia tetap bertanya.
"Dimana Karel ?" seru papa Abi menatap pengawal di mansion itu.
"Tuan Karel sedang sakit tuan, dia tidak bisa turun"
"Mora ?" tanya nya lagi
"Papa kita pulang ya, Mora akan jelaskan di rumah, kasihan Karel dia baru saja terluka" mendengar ucapan putrinya, papa Abi pun menurut, ia membawa Mora pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, di ikuti oleh beberapa pengawal nya.
Ia menatap Mora dengan sendu, apa masalah mereka begitu berat, kenapa putrinya sampai menangis, dan Karel bahkan tak turun untuk sekedar menemuinya.
Diam-diam ia menyuruh pengawal untuk menyelediki itu semua, karena ia tahu Mora tak akan semudah itu menceritakan masalahnya.
__ADS_1
Setelah mobil memasuki rumah, Mora dan papa Abi memasuki rumah, Mora melihat mama dan kedua adiknya menunggunya di ruang tamu, mereka tampak senang melihatnya pulang.
"Kamu dari mana sih nak" mama Abi membawa putri sulung nya itu ke dalam dekapan nya.