
Alarm di atas nakas berbunyi nyaring, membangunkan gadis yang kini masih pulas bergelung dengan selimut. Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar.
Mora pun mengerjapkan mata nya sambil mengucek nya, lalu beranjak dari ranjang untuk membuka pintu, terlihat bibi sedang berdiri di depan kamar.
"Non Mora sakit ?" tanya bibi, Mora menggeleng.
"Bibi takut, soal nya non Mora belum juga turun dari kamar" ucap bibi memberitahu.
"Iya Bi, saya telat bangun. Ya sudah bibi turun saja duluan, saya mau mandi" ujar Mora sambil tersenyum.
"Baik non" Mora kembali menutup pintu kamar, lalu gadis itu mulai beranjak membersihkan diri.
Setelah selesai bersiap, Mora menuruni tangga dengan menenteng tas besar di tangan kiri nya, gadis itu berjalan perlahan menuju dapur. Tampak bibi yang sedang menata makanan di atas meja makan.
"Makan dulu non" Mora duduk di kursi dengan senyuman yang mengembang di bibir nya.
"Makasih bi, ini makanan yang Mora suka" jawab Mora dengan antusias, gadis itu mengambil piring dan segera mengisi nya dengan nasi dan lauk.
"Sama-sama non, oh ya kalau boleh tau non Mora mau kemana ?" tanya bibi penasaran, wanita paruh baya itu melihat tas besar yang berada di kursi samping Mora.
"Mau ke Bandung bi, nyusul mama sama papa. Kebetulan Mora udah ambil cuti" jelas Mora, gadis itu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.
"Oh yaudah hati-hati ya non, non Mora naik mobil sendiri ?" tanya bibi, Mora mengangguk, hubungan nya dan pembantu di rumah ini memang dekat, sehingga gadis itu tak sungkan bercerita.
Gadis itu kembali melanjutkan makan nya, sedangkan bibi tampak membersihkan dapur.
"Non Mora" Mora menoleh menatap wanita yang menjadi salah satu pembantu di rumah mereka.
"Iya Bi ?"
"Di depan ada tamu non, kata nya cari non Mora" Mora mengernyitkan dahi, gadis itu dengan cepat menyelesaikan makan nya yang hanya tinggal sedikit, lalu beranjak menuju ruang tamu.
"Tuan" ucap Mora terkejut, gadis itu menatap laki-laki yang duduk di sofa, dengan penampilan casual yang sudah rapi.
__ADS_1
"Eh sudah siap ?" Mora mengernyit bingung, bukankah dia sudah memberikan pesan kepada Karel tadi malam jika tidak usah ikut. Kenapa laki-laki itu berada di sini sekarang.
"Siap apa tuan ?"
"Bukankah kita akan ke Bandung ?"
"Maaf tuan, bukankah saya sudah memberikan pesan tadi malam" ujar Mora hati-hati.
"Memang iya ?" tanya Karel
"Iya, pesan tersebut berisi jika saya akan ke Bandung sendiri, karena saya akan menginap lama di sana. Bahkan pesan itu sudah anda baca."
"Oh aku merasa tidak membaca pesan dari mu, tapi ya sudah lah, kan sekarang aku sudah sampai di sini, jadi lebih baik kita pergi sekarang." jelas Karel sambil menarik pergelangan tangan Mora.
"Tunggu tuan.." Mora menahan tubuhnya.
"Apalagi Mora, mau kamu pengen sendiri untuk pergi, saya tetap mau ikut." sahut Karel datar, wajah laki-laki itu berubah datar saat Mora terus saja memperlambat waktu.
"Barang saya tuan, bi tolong ambilkan tas saya ya di meja makan" ucap Mora kepada bibi yang sedang membersihkan guci mahal milik mama nya.
"Ini non tas nya" ucap bibi sambil menyerahkan tas besar pada Mora.
"Terimakasih bi, tolong jaga rumah ya, saya akan pergi" ucap Mora.
"Baik non, non Mora hati-hati" Mora mengangguk, gadis itu akan mengambil kunci mobil namun telapak tangan nya langsung di genggam oleh tangan Karel, lelaki itu menarik tangannya menuju ke luar rumah.
"Tuan, saya mau ambil kunci dulu" sahut Mora sambil memegang pergelangan tangan Karel.
"Pergi sama saya" ucap Karel membawa Mora menuju mobil nya yang terparkir di halaman rumah gadis itu.
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian, ayo masuk" seru Karel. Mora menghela nafas, sebenarnya bos nya itu kenapa, kenapa sikap nya sangat aneh.
__ADS_1
"Tuan kenapa harus repot-repot ikut saya, padahal pekerjaan di kantor sedang padat kan ?"
"Jangan banyak bicara, kamu sendiri yang setuju jika saya ikut" Mora menipiskan bibir nya, gadis itu merasa kesal dengan tuan nya itu.
"Tapi saya kan akan lama di sana"
"Ya sudah saya ikut kamu" seru Karel tak mau kalah. Mora memutar bola matanya malas.
"Mana bisa, nenek tidak akan setuju jika tuan menginap di sana ?"
"Jangan kamu pikir saya orang tidak punya Mora, saya bisa menyewa penginapan nanti" sahut Karel, sejenak laki-laki itu mengehentikan mobil saat melihat lampu merah.
"Ya tapikan.."
"Diam, jangan berbicara terus" sahut Karel dari samping, tangan lelaki itu menarik dagu Mora mendekat, tatapan mata mereka bertemu, lagi jantung Mora berdebar tak karuan setiap Karel bersikap seperti ini.
"Ck tuan apasih" tanpa sadar Mora menepis tangan Karel, gadis itu berusaha bersikap biasa dan menyembunyikan wajah nya yang memerah.
"Mulut kamu, berani mengumpat ?"
"Kenapa tidak" jawab Mora ketus, sikap Karel benar-benar berubah, membuatnya tidak nyaman.
Selanjutnya tidak ada lagi perbincangan, Mora memilih untuk memasang handsad di telinganya dan mendengar musik, sedangkan Karel fokus dengan kemudi nya.
Dalam perjalanan menuju Bandung, Mora hanya terdiam, Karel benar-benar merasa tidak di anggap, melihat gadis itu mendiamkannya.
"Heh gadis Ingusan, kamu kenapa sih" Karel menyenggol lengan Mora.
"Apasih tuan, jangan ganggu" sahut Mora dengan mata terpejam.
"Ck aku bukan supir, jangan tidur"
"Saya hanya menghindari perdebatan tidak bermutu" lanjut gadis itu, Karel melirik gadis di samping nya, memperhatikan wajah Mora yang terlihat tanpa beban.
__ADS_1
Karel pun menambah kecepatan mobil agar mereka segera tiba, dia berfikir hal itu akan membuat Mora membuka mata dan berbicara dengan nya, namun ternyata gadis itu tetap memejamkan mata tanpa peduli jika saja mobil ini menabrak sesuatu nanti.
"Ck" Karel mendesau kasar, dia tidak suka di diamkan seperti ini. Kenapa coba gadis di samping nya mendadak jadi pendiam.