IVAMORA

IVAMORA
Demam


__ADS_3

Malam itu, gerimis nampak menguyur bumi, terlihat seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi yang berdiri di depan sebuah pagar mansion mewah dengan mata yang mengerjap karena air hujan.


Padahal gerimis nampak deras, tapi tak membuat gadis itu pergi dari depan gerbang, sedari tadi ia terus berusaha untuk mengetuk memanggil satpam meski tidak mendapat balasan.


Ting...Ting...Ting


"Permisi" Mora, gadis itu berteriak lebih keras, sudah lebih dari 5 kali ia berteriak tapi tak ada yang membuka pagar untuk nya. Gadis itu merekatkan jaket tebal yang menutupi tubuh nya.


"Apakah ada seseorang di dalam" seru Mora, kini suara nya nampak bergetar, gerimis semakin deras, ia tak yakin jika akan tahan berdiri di sana lebih lama lagi.


"Seperti ada suara" satpam yang sedang berada di posko mansion nampak melebarkan telinga, suara gerimis yang cukup deras membuat nya merasa salah dengar.


"Tolong buka pintunya" ucap Mora kembali


"Akh, siapa ya" pak satpam langsung berlari, dengan terburu-buru membuka pagar, lelaki itu melihat seorang gadis cantik yang berdiri di depannya dengan tubuh yang gemetaran.


"Astaga nona, kenapa berdiri di sini. Hujan sedang deras, mari masuk" ucap pak satpam, membimbing Mora untuk masuk.


"Tolong izinkan saya bertemu dengan Karel pak" ucap Mora, bibirnya nampak bergetar karena kedinginan. Pak satpam memperhatikan wajah itu intens, lelaki itu tersenyum saat mengingat jika gadis ini pernah di bawa tuannya ke mansion.


"Baik nona, kebetulan tuan sedang ada di rumah" ucap satpam itu, ia membawa Mora ke dalam mansion, memanggil bibi agar mengantar Mora menemui Karel.


"Bibi, dia adalah teman tuan, tolong antar ia untuk bertemu tuan ya." ucap pak satpam.


"Oh sepertinya tuan berada di kamar nya, dia baru saja keluar dari ruang kerja." ucap bibi.


"Antarkan saja, saya akan kembali menjaga di depan." ucap pak satpam.


"Iya saya akan mengantarnya, mari nona" ucap bibi, jika biasanya tamu akan menunggu di ruang tamu, maka pengecualian untuk Mora. Karena pekerja di mansion ini sudah tau jika Mora adalah wanita yang dekat dengan tuannya, maka tanpa ragu mereka membawa Mora ke lantai atas.


"Biar saya sendiri saja bi" seru Mora saat bibi ingin mengetuk kamar Karel.


"Serius non ?" tanya bibi tampak ragu

__ADS_1


"Iya bi, ngga papa"


"Ya sudah bibi permisi dulu ya non"


"Iya, terimakasih ya bi" ucap Mora sambil tersenyum dengan wajah nya yang tampak pucat, bibi pun pergi.


Mora menghela nafas, berusaha menenangkan hati nya yang tampak gusar. Gadis itu mengangkat tangannya dan mulai mengetuk pintu kamar di hadapannya.


Tok..tok..tok


Pada ketukan pertama, tak ada sahutan sama sekali, Mora kembali mengetuk, pada ketukan kedua terdengar suara pintu yang berderit, Mora menunggu dengan hati yang was-was.


Cekrek


Tubuh Mora terasa lemas saat melihat Karel berdiri mematung di hadapannya, tampaknya laki-laki itu terkejut dengan keberadaannya.


"Ngapain kamu kesini" seru Karel, ia tampak memperhatikan tampilan Mora yang basah karena kehujanan.


"Aku minta maaf" mata Mora berkaca-kaca tampak ingin menangis, gadis itu lalu terisak dengan tubuh yang bergetar.


"Dasar bodoh, lihat kamu jadi demam karena sikap ceroboh mu" Karel mengumpat dengan kesal, laki-laki itu segera membopong tubuh gadisnya dan mendudukkan di atas ranjang.


Lalu laki-laki itu berjalan cepat ke arah lemari dan memilih baju panjang dan tertutup miliknya, ia juga memencet tombol merah yang berada di dinding. Yang Mora ketahui sebagai tombol darurat.


"Tuan" bibi datang dengan nafas yang terengah, wanita itu melihat wajah tuannya yang tampak memerah karena...marah ?


Astaga apakah ada yang membuat kesalahan.


"Bodoh, Mora datang dengan pakaian basah, kenapa kamu tidak segera membantu nya, sekarang ia demam." ucap Karel dengan kesal.


"Cepat bantu ia Menganti baju dan yang lainnya ambil air hangat, CEPAT" bentak Karel, lelaki itu segera mengusap tubuh Mora yang dingin menggunakan handuk.


Bibi langsung membantu Mora untuk berdiri, dan membawa gadis itu ke kamar mandi untuk Menganti baju, sedangkan pekerja yang lain mengambil air hangat untuk mengompres Mora.

__ADS_1


Karel mengusap wajah nya frustasi, laki-laki itu segera mengendong Mora saat melihat gadis itu berjalan dengan tertatih. Ia segera meletakkan Mora di ranjang dan menyelimuti tubuh gadis itu menggunakan selimut tebal.


"Tuan, airnya" ucap salah satu pekerja yang masih muda.


"Sini" karel memilih untuk mengompres Mora sendiri, ia sudah menelfon dokter untuk datang dan memeriksa gadis itu.


Bibir gadis itu masih bergetar dengan wajah yang pucat, Karel terus mengusap kedua tangan Mora yang tampak dingin.


"KELUAR" ucap Karel yang terdengar marah, semua pekerja langsung pergi, mereka takut dengan kemarahan tuannya kali ini. Karel ikut bergelung di ranjang lalu memeluk tubuh gadis itu yang terasa hangat.


"Maaf" ucap Mora, ia kembali menangis terisak


"Shutt, baby jangan menangis" Karel mempererat pelukan, ia panik, tentu saja. Ia benar-benar tidak tau harus melakukan apa.


Dokter sudah datang dan pelayan mengantarnya ke kamar, dengan ragu pelayan mengetuk pintu, Karel segera bangkit namun Mora menahan nya.


"Jangan pergi" ucap gadis itu.


"Sayang, bentar ya, mau buka pintu dulu" ucap Karel, dan berhasil Mora melepaskan tangannya, Karel segera membuka pintu.


"Periksa dia, dia demam karena kehujanan" seru Karel menunjuk Mora yang masih memejamkan mata, dokter itu mengangguk dan mendekat ke arah Mora, ia mengulurkan tangan untuk mengecek dahi Mora.


"JANGAN SENTUH DIA" Karel kembali berteriak, ia menepis tangan dokter laki-laki itu.


"Jika aku tak menyentuhnya bagaimana aku mau memeriksa nya ?"


"Ck, kenapa tidak mengirim dokter wanita saja"


"Kamu tak pernah menerima kiriman dokter wanita selama ini"


"Tapi dia gadisku, jangan berharap bisa menyentuhnya" ucap karel dengan ketus.


"Lalu aku harus apa ?" seru dokter itu dengan bingung, heh selama ini mereka berteman tapi baru kali ini ia melihat Karel yang tampak sangat posesif.

__ADS_1


"Berikan saja obat nya, tidak perlu menyentuh milikku" ucap Karel menarik jas kerja laki-laki itu ke belakang. Dokter itu menghela nafas kasar, dan akhirnya mengambil beberapa obat penurun panas yang ada di tas kerja nya.


__ADS_2