
Pagi ini, Karel tidak berangkat ke kantor, bahkan dia membatalkan semua jadwal penting nya untuk menemani wanitanya ke mansion Abiyasa.
Wanita itu tampak cantik dengan gaun hitam tanpa lengan yang melekat pada tubuh nya. Dengan rambut yang di gerai bebas.
"Sedari tadi tersenyum" ucap Karel masih tak mengalihkan tatapan nya dari wajah manis istrinya. Rasanya tak bosan menatap wajah wanita itu, justru malah semakin menjadi kegiatan favoritnya.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu mama dan yang lain." jawab Mora, kini dia menyandarkan kepala nya pada bahu suaminya.
"Ya-ya sampai tidak mau makan" Mora nyengir saat mendengar itu.
"Tapikan tadi makan" jawab Mora sebagai pembelaan diri.
"Itu karena aku yang memaksa"
"Yadeh, habis nanti kalau sampai juga pasti di minta mama buat makan, apalagi ini memasuki waktu makan siang."
"Ngga papa, makan yang banyak biar debay nya sehat." Mora mengangguk, sekarang dia memforsir makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Bahkan untuk sekarang ada beberapa makanan yang membuatnya mual.
"Aman, ibu hamil kalau bahagia terus maka bayi nya juga sehat." ucap Mora, tangannya memainkan jari suaminya.
"Kamu bahagia tidak ?" pertanyaan itu membuat Mora berfikir.
"Yeah, bahagia. Asal kamu tidak macam-macam, dan sering dekat dengan ku." jawab Mora asal, dia memeluk lengan Karel, lalu mengusap lengan bawah suami nya secara berulang, astaga, sayang sekali dia dengan laki-laki ini.
"Aku tidak akan mungkin macam-macam sayang"
"Siapa yang tau" ucap Mora lirih, dia menatap Karel penuh intimidasi sehingga membuat Karel menelan ludah nya paksa, sejak kapan istrinya punya aura intimidasi yang kuat seperti ini.
"Apa sih by, jangan natap gitu ah" Karel mengalihkan pandangan nya.
"Takut ya ?"
"Ya ngga, tapi kamu itu Lo natap nya kaya mau menguliti aku." Mora tertawa, lalu kembali merangkul lengan suaminya. Sulit di percaya, jika Karel bisa sehangat ini padanya. Padahal sebelum dia hamil, laki-laki itu masih hemat bicara.
__ADS_1
"Anak kamu ini" alibi Mora, dalam hati dia meminta maaf pada anaknya, karena sudah membawa nya dalam topik perbincangan.
Setelah berkendara hampir 30 menit mobil pun memasuki area mansion besar Abiyasa, Karel menggenggam tangan Mora memasuki pintu besar itu, ternyata semua orang sedang mengobrol di gazebo belakang. Yang dapat di lihat dari pintu kaca samping.
"Eh menantu mama sudah datang" mama Abi berdiri lalu menghampiri Karel dan memeluk singkat tubuh menantu nya itu, melihat itu seketika wajah mora merubah masam, sangat tidak enak untuk di lihat. Hidung nya kempas-kempis dan memerah, bahkan dia langsung melepas tautan tangan nya dengan Karel.
"Kak" Arka yang duduk bersama papa nya langsung berdiri, menyambut Mora dengan pelukan.
"Halo adik tampak kakak" arka hanya tersenyum kalem mendengar itu.
"Mora hey, kamu tidak ingin memeluk mama" teriak mama abi, Mora hanya melirik.
"Kamu tidak merindukan mama ya" mama Abi mengomel, gemas sendiri dengan putri nya.
"Merindukan apa ? mama sendiri malah lebih utama meluk Karel daripada aku." sahut Mora merasa cemburu, padahal saat melihat mama nya tadi berdiri, dia sudah bersiap untuk menerima pelukan. namun ternyata dia yang terlalu percaya diri.
Karel tersenyum tipis, lalu merangkul bahu istrinya, Mora hanya menatap laki-laki itu kesal.
"Pa, Mora kangen banget sama papa. Kangen juga sama nenek." Mora langsung melotot saat mengingat itu, selain bertemu dengan keluarga nya dia juga ingin bertemu dengan nenek nya.
"Nenek ada di kamar, baru aja naik, tadi habis kumpul juga di sini, tapi harus naik karena waktunya tidur siang." ucap papa Abi dengan lembut, sambil tangannya mengusap kepala putri nya.
"Mora boleh lihat pa"
"Boleh, tapi pelan-pelan aja ya sayang" Mora mengangguk, dia mengajak Karel untuk kembali masuk.
Ceklek, pintu itu terbuka, Mora melihat nenek nya yang berbaring di atas ranjang. Wanita itu mendekat dan duduk di samping nenek nya tanpa suara.
"Tidurnya damai sekali" celetuk Karel menatap wajah renta wanita baya itu.
"Kasihan nenek, Mora kangen banget sama nenek" ucap Mora dengan mata yang berembun, mata wanita baya itu terbuka perlahan, dapat dia lihat remang-remang wajah cucu nya yang menangis itu.
"Cucu nya nenek" Mora langsung sadar dari lamunan nya, wanita muda itu mengusap tangan nenek yang ada di samping tubuhnya.
__ADS_1
"Nek ini Mora, Mora datang bawa suami Mora, katanya nenek kangen pengen ketemu." ujar Mora tersenyum lebar, mengusap mata nya. Dia langsung antusias saat melihat senyum di bibir wanita renta itu.
"Hai nek, saya datang, nenek gimana keadaanya" tanya Karel merangkul bahu istrinya.
"Nenek baik, nenek seneng lihat kalian" ucap nenek dengan tersenyum.
"Kami juga senang nek, ternyata damai banget bisa ketemu dan bicara sama nenek." ucap Karel dengan jujur.
"Kamu bisa aja nak, uhuk..."
"Nenek kenapa" Mora tampak panik, dia menatap cemas pada wajah nenek nya. Merasa takut dan binggung, untung ada Karel yang segera menenangkannya.
"Tenang sayang"
"Nenek ngga papa, biasa udah kebawa umur jadi sering sakit." nenek tersenyum menatap cucu nya, namun itu tak menyurutkan rasa cemas wanita hamil itu.
"Nek, nenek cepat sembuh ya, apa mau di rawat di rumah sakit saja." tawar Karel dengan nada tenang.
"Tidak perlu, nenek sudah ada obatnya"
"Nenek harus cepet sembuh, biar bisa main sama cicit nenek." ujar Mora dengan mata berkaca-kaca.
"Cicit ?"
"Iya nek, Mora sedang mengandung cicit nenek" jawab Karel karena melihat istrinya yang sudah ingin menangis itu.
"benar sayang" Mora mengangguk masih dengan mata embun nya.
"Selamat ya"
"Pokoknya nenek harus sehat-sehat biar bisa main sama anak mora."
"Iya sayang" ucap enek sambil menggenggam telapak tangan lembut cucu nya itu.
__ADS_1