
DOR DOR DOR
Antony tumbang dengan darah yang berceceran, sedangkan Mora melihat seorang laki-laki yang kini berdiri dengan wajah merah menahan amarah, lelaki itu melangkah lebar menghampirinya, melepaskan dasi yang mengikat pergelangan tangan nya, lalu segera mengendong tubuh nya ala bridal style.
"Ka...rel" Mora berucap dengan lirih, apa yang di lakukan Antony tadi benar-benar mengguncang jiwa nya, melihat lelaki itu jatuh dengan tubuh yang penuh darah membuat tubuhnya gemetar, apalagi Karel yang membuat lelaki itu celaka.
Di satu sisi dia merasa sangat bersyukur karena laki-laki itu datang dan membantu nya lepas dari niat buruk antony, tidak bisa ia bayangkan jika Karel tak datang, mungkin hidupnya akan berantakan.
Tapi di sisi lain, ia jadi merasa takut pada kekasihnya itu, ternyata Karel berani berbuat sekejam itu, bahkan tanpa rasa gemetar dan bersalah, apakah lelaki itu sudah terbiasa berbuat kejam seperti itu. Kenapa Mora tidak bisa mengenal lelaki yang kini menggendongnya itu.
Karel tak menghiraukan Mora yang terus menatap takut padanya, ia berjalan menuju mobil yang tak jauh dari posisi mereka, lalu mendudukkan Mora di kursi samping.
Karel pun segera melajukan mobil itu meninggalkan rumah itu, ia sama sekali tak mengenakan apapun, hal itu membuat Mora takut, bahkan air mata nya jatuh dari mata nya karena merasa takut yang berlebih. Padahal ia sudah lama sekali tidak menangis, tapi karena hal ini ia jadi menangis bahkan mungkin trauma.
1 jam lamanya mereka terdiam dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, kini mereka telah tiba di sebuah mansion mewah milik Karel. Lelaki itu kembali keluar, lalu mengendong tubuh lemas gadisnya menuju kamar.
Karel bahkan memerintahkan pelayan untuk membantu Mora membersihkan diri, lelaki itu sama sekali tak mengajak Mora berbicara, dan lebih memilih berbicara pada pelayan.
Setelah mendapat anggukan kedua pelayan di hadapannya, Karel pun memilih untuk keluar dari kamar.
"Mari nona kami bantu membersihkan diri" seru salah satu pelayan sambil mempersilahkan Mora untuk mandi.
Akhirnya Mora pun menurut, gadis itu sedari tadi juga tak banyak bicara, bahkan ia membiarkan pelayan untuk membersihkan tubuhnya, pikiran nya seolah tak berada di tempat, psikis nya seolah benar-benar terguncang. Setelah bersih, para pelayan membantu Mora untuk merias diri.
"Kami permisi dulu nona, kami akan mempersiapkan makan malam untuk anda, dan mengantarnya ke kamar." seru pelayan, Mora tak menjawab, hanya duduk diam dengan acuh.
Pelayan pun pergi dari kamar, meninggalkan Mora yang sedang duduk bersandar pada dipan ranjang, mata gadis itu kembali berkaca-kaca, Karel menghindarinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, pelayan kembali datang sambil membawa makanan yang berisi makanan, makanan itu di taruh di atas nakas, pelayan berusaha membujuk Mora agar mau makan.
"Nona makan dulu ya, atau mau kita suapi ?" Mora tak menjawab dan hanya diam, dua pelayan itu menghela nafas, mereka sudah membujuk Mora sedari tadi, tapi gadis itu bahkan tak menganggap keberadaan mereka.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampilkan Karel yang sudah rapi, lelaki itu mendekati pelayan dan memberikan kode kepada mereka untuk keluar dari kamar.
Huh, Karel menghela nafas, laki-laki itu menatap Mora dengan raut wajah bersalah nya, ia menghampiri Mora lalu duduk di hadapan gadis itu, tatapan Mora masih kosong, Karel pun mengusap rambut gadis itu.
Mora beringsut mundur, Karel menahan pinggang gadis itu, lalu memeluk tubuh gadis itu dengan lembut.
"Maaf by" ujar Karel dengan nada bergetar.
"Hiks" terdengar suara isakan dari gadisnya, Karel semakin mengeratkan pelukannya.
"Hiks, kamu pasti jijik hiks, lepas saja aku memang kotor hiks" Mora terus berucap dengan nada bergetar hebat, ia bahkan terus mendorong dada Karel. Seolah tak ingin lelaki itu bersentuhan dengan tubuh nya.
"Sayangku" Karel mengusap lembut wajah gadis itu dengan mata memerah.
"Jangan mengatakan hal itu, kamu adalah segalanya untuk ku" seru Karel sambil mengecup lembut kening gadis itu.
"Tapi... tapi aku"
"Shutt" Karel menaruh jari nya di depan mulut Mora, lelaki itu mengusap wajah gadisnya yang sudah penuh dengan air mata.
"Sekarang makan dulu ya, jangan mengatakan apapun lagi, kamu itu tidak kotor, gadis ku yang paling manis" seru Karel, ia mengambil piring yang berisi makanan dan berusaha membujuk Mora untuk makan.
"Aku tidak mau, tidak lapar" seru Mora menolak.
__ADS_1
"Makan atau kamu yang aku makan" ucap Karel dengan senyum smirk.
"Ish" Mora kembali menghindar
"Udah makan dulu ya anak manis" bujuk Karel kembali.
Akhirnya Mora pun menurut, ia mulai menerima suapan dari Karel meski hanya beberapa suap.
"Sekarang minum dulu" seru Karel sambil memberikan satu gelas minum untuk Mora.
Setelah memastikan Mora benar-benar menghabiskan minuman itu, Karel pun membantu Mora berbaring, ia bahkan menyelimuti tubuh Mora dan mengecup kening gadis itu. Saat akan pergi, tiba-tiba Mora menggenggam jari tangan nya.
"Jangan pergi ya, temani aku saja" seru Mora dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baiklah" ucap Karel, lelaki itu ikut berbaring di samping gadisnya, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Tidurlah, aku akan terus memeluk mu" seru Karel dengan lembut, Mora pun menurut, gadis itu memejamkan mata dan membalas pelukan kekasihnya tak kalah erat.
Hingga beberapa menit akhirnya Mora pun terlelap dalam tidurnya, untuk sejenak Karel terus memperhatikan raut wajah gadisnya. Lelaki itu menyematkan ciuman kecil pada kening Mora.
"Aku tak akan membiarkan mu terluka" ucap nya dengan mantap.
Karel pun berusaha untuk lepas dari Mora dengan perlahan, tak ingin membangunkan gadisnya juga.
Setelah berhasil lepas, Karel pun berjalan ke arah balkon, ia mulai menelfon seseorang mengunakan handphone nya.
"Jangan biarkan dia bebas, aku mau dia mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dari apa yang sudah dia perbuat." seru Karel dengan gigi yang bergemeletuk dan dengan wajah memerah.
__ADS_1