
"Ingat Ale, mau sekuat apapun kamu berlari, takdir mu adalah aku. Mau sejauh apapun kamu pergi aku pastikan kamu akan kembali lagi padaku." setelah mengatakan itu Alex mengecup lembut kening dan bibir gadis nya, mata nya memperlihatkan ketulusan dan cinta yang begitu besar.
Alex pun bangkit dari posisi nya, dia melihat batu yang ada di atas lantai kamar nya, batu besar berwarna hitam yang pinggir nya di lapisi darah yang terlihat masih segar.
Alex berjalan perlahan menuju jendela, dia tidak melihat apapun di sana. Hanya ruang kosong. Alex pun membalikkan badannya, seketika dia terdiam saat melihat seseorang mencondongkan pistol tepat di kening nya.
"kamu melanggar batas anak muda" Alex hanya diam, menatap pada Alettha yang sedang berpelukan dengan Mora, lalu menatap papa Abi yang tak juga menurunkan pistol dari kepala nya.
"kenapa terburu-buru tuan Abi ?" Alex terkekeh kecil, sama sekali tak ada rasa takut di dalam diri nya.
"kamu berbuat sesuka mu pada putri ku, dan itu sudah lewat dari omong kosong mu waktu itu." papa Abi mendengus, menatap nyalang pada lelaki muda di hadapannya, lelaki yang baru dia ketahui memiliki otak yang gila.
BRAK..
Alih alih mengajak bicara lembut, arka langsung menerobos dan menendang perut lelaki yang berani menculik saudara kembar nya, hampir dua hari ini.
Dia juga menarik kerah baju Alex dan kembali memberikan pukulan pada lelaki kurang ajar itu.
Alex sendiri hanya diam, tak melawan, membebaskan kembaran gadisnya ini menghajarnya.
lalu papa Abi ?
Apakah lelaki setengah baya itu peduli dan membela ?
Tidak sama sekali, dia menghampiri anak bungsu nya dan memeluk gadis itu, membiarkan arka berbuat semau nya.
__ADS_1
"Maafkan papa sayang, papa yang salah mengambil keputusan." papa Abi mengecup kepala Alettha, Mora juga ikut terisak di pelukan suami nya. Karel membawa wanita itu keluar, istri nya sedang hamil, dia tak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Sebagai ganti nya, Karel meminta Sam untuk masuk ke kamar itu bersama papa Abi, membawa Ale pulang, sekaligus membawa arka yang sedang membabi buta memukul bedebah kecil itu.
"Sayang, Ale.."
"Shut udah, semuanya baik baik saja" meski begitu Mora terus menangis hingga sesegukan, telat sedikit saja mungkin Alex sudah kalap. pria itu benar benar seperti setan kelaparan.
"lebih baik kita tunggu di mobil, tadi udah ada Sam juga yang bantuin." Mora pada akhirnya mengangguk, mereka keluar melewati beberapa penjaga yang sudah babak belur, Karel membuka pintu mobil untuk istri nya, Mora pun masuk.
"minum dulu sayang" Karel memberikan air putih yang ada di botol, membantu istrinya untuk meminum nya.
"makasih by" Mora sudah mulai tenang, dia menatap suami nya penuh cinta.
"kamu ngga masuk nemenin papa ?"
"ngga, papa juga pasti ngga izinin aku buat nyusul dan ninggalin kamu."
Di dalam, papa Abi mengajak putri nya keluar, Ale hanya menurut saja, dia keluar tanpa menatap pada Alex sama sekali. Sedangkan Samudra, lelaki itu membawa tuan muda Abiyasa ikut serta untuk pergi.
Mereka semua pergi meninggalkan mansion besar itu, mansion yang lokasi nya berada di dekat hutan dan jauh dari kota. Untung saja papa Abi memiliki orang hebat yang bisa melacak keberadaan putri nya.
Tadinya dia tak berfikir sejauh ini, dia memberikan izin pada Alex untuk menemui Alettha agar mereka lebih dekat. Namun ternyata lelaki itu berbuat nekat, sampai berani menculik putri nya dan tak memulangkan nya.
"apa pria itu menyakiti mu sayang" papa Abi duduk di samping putri nya, di balik kemudi ada Sam dan di samping nya ada arka. Sedangkan menantu nya membawa mobil sendiri berserta istri nya.
__ADS_1
Tadinya dia sudah melarang Karel untuk ikut, namun lelaki itu memaksa, bahkan Mora sendiri juga memaksa untuk ikut.
Alettha yang di tanya terdiam sesaat, Alex tak menyakiti nya hanya saat emosi selalu mencium nya, tapi lelaki itu tak pernah kasar, hanya sedikit memaksa.
Alettha pun menggeleng, selain karena jawaban nya tidak, dia juga tidak ingin membuat orang tua nya khawatir.
"Papa lihat kan, pria seperti apa yang papa percaya itu." arka berkata dengan dingin, masih tersimpan amarah di dalam hati nya untuk pria sialan itu.
Papa Abi menghela nafas, mengusap lembut kepala putri nya yang berada di pelukan nya.
"Maafin papa nak"
"Ale ngga marah pa, makasih udah bebasin Ale" papa Abi mengangguk, mengecup kembali kepala anak gadisnya itu.
"mama pasti seneng kamu pulang, dari kemarin dia tak mau makan karena memikirkan mu. Papa sendiri juga tak tenang."
"Ale juga mau segera pulang pa"
Obrolan itu berakhir, Ale tertidur di pelukan papa nya, sampai rumah waktu sudah sangat malam. Itu karena jarak yang mereka tempuh cukup jauh.
Papa Abi mengendong putri nya, membawa nya ke kamar, dia tak membangunkan istri nya, karena kasihan pada wanita itu. Papa Abi bahkan tidak kembali ke kamar, menemani putri nya tidur.
Arka bahkan tak tidur sama sekali, dia hanya belajar di kamar nya, rasa kantuk nya hilang. Sehingga dia terjaga semalaman.
Karel dan Mora menginap, mereka tidur di kamar tamu, sama seperti yang lain mereka juga merasa sulit tidur, namun Karel memaksa istrinya untuk berbaring, pria itu bahkan tak beranjak dan terus memeluk istri dan anak nya yang masih berada di perut wanita itu.
__ADS_1