
Mora membuka mata perlahan, melihat jam dinding di kamar utama yang menunjukkan pukul 4 pagi, gadis itu sama sekali tidak bisa tidur, hanya memejamkan mata nya saja, sambil mengistirahatkan tubuh nya yang terasa amat lelah.
Gadis itu tertidur menyamping, dalam pelukan pria nya yang masih memejamkan mata, dengan tangan yang memeluk tubuhnya posesif, dengan tubuh atas yang tak mengenakan apapun, sehingga Mora bebas untuk menghirup aroma khas tubuh laki-laki itu.
Jari lentiknya berusaha menggapai wajah Karel yang masih setia menutup mata, laki-laki itu tampak pulas setelah tertidur 4 jam yang lalu, mengingat kejadian tadi malam sungguh membuat Mora sangat malu, hal paling memalukan dalam sejarah hidupnya.
Mora mendekatkan tangan nya ke rambut sang suami, lalu merapikan rambut laki-laki itu yang sedikit berantakan, meski seberantakan apapun rambut laki-laki itu tidak mempengaruhi pada ketampanan nya.
Merasakan usapan lembut di kepalanya membuat Karel merangkak masuk ke dalam pelukan gadis itu, memeluk tubuh gadis itu dengan erat dan posesif, bahkan Karel sudah mendusel nyaman ke dada Mora yang hanya tertutup oleh kemeja putih milik laki-laki itu.
"Shh" Mora sedikit meringis, ia menepuk pelan kepala pria itu yang menguasai tubuhnya.
"By" ucap Mora lirih
"hm"
"Minggir dulu yuk, aku mau bangun"
"Ngga boleh" ucap laki-laki itu lirih. Kepala nya terus mendusel mencari kehangatan.
"Jangan gini dong, udah pagi loh"
"Masih malam" seru nya tak mau mengalah
"Aku mau masak by"
"Biar bibi aja" entah Mora harus bagaimana lagi, heran juga dia. suaminya itu masih memejamkan mata namun terus merespon ucapannya seperti orang yang sepenuhnya sadar. Jawabannya pun tidak melantur seperti orang tidur.
"Aku mau di peluk kaya gini" Karel mengambil tangan Mora dan melingkarkan ke tubuh laki-laki itu, laki-laki itu semakin rakus memeluk tubuh wanitanya.
"Kok jadi manja"
Laki-laki itu tak menyahut, dan mulai kembali terdengar dengkuran halus, Mora menghela nafas, sungguh posisi ini sangat ambigu dan membahayakan untuknya.
"Shtt"
plup
__ADS_1
Mora meringis, sejak kapan pria itu membuka kancing kemeja nya, kenapa sekarang mulut itu sudah aktif di bagian tubuhnya.
"Shtt pelan-pelan" Mora meringis sambil mengusap lembut rambut Karel, bukannya menurut Karel malah berbuat semakin brutal dengan kegiatannya.
Ganas!! satu kata yang Mora julukkan kepada suaminya itu, laki-laki itu tidak bisa di hentikan jika sudah dengan apa yang dia mau.
Tiba-tiba wajah Karel mendongak, menatap memelas pada istri nya.
"Mau lagi" rengek laki-laki itu.
"Aku mau masak by" ucap Mora menjentikkan telunjuknya pada jidat laki-laki itu.
"Ngga mau sayang"
"Kan udah"
"Mau lagi" Mora memutar bola matanya, geram juga dengan suaminya itu, namun belum juga ia menjawab, laki-laki itu sudah kembali bergerak aktif.
***
"Aku bahkan belum masak astaga, ini semua karena kamu yang mulai, sekarang kita harus makan apa, jangan kebiasaan mengandalkan orang lain, biasakan disiplin waktu." lanjut gadis itu kembali mencurahkan kekesalannya.
"Paham tidak" ucap Mora sambil menatap sang suami dengan tatapan tajam, laki-laki itu tak menjawab ucapan nya sama sekali sedari tadi.
"Kita bukan orang susah sayang" ucap Karel, memeluk tubuh sang istri sambil mendaratkan kecupan lembut di kepala wanita itu.
"Aku tidak suka dengan sikap seperti itu by" ucap Mora mengerucutkan bibir, sejak kecil dia sudah membiasakan diri untuk melakukan semuanya sendiri, meski sedikit manja, tapi apapun ia akan usahakan sendiri, merasa sungkan jika harus di bantu oleh orang lain. Apalagi usia nya yang beranjak dewasa, ia tidak terbiasa mengandalkan orang lain mengurusi keperluannya.
"Namanya juga pengantin, masih pengen Deket kamu terus, kamu aja yang aneh, maksa aku buat kerja. padahal kalau aku ngga kerja juga tetep bisa kasih kamu makan dan kehidupan mewah." ucap Karel sombong.
"Ngga usah sombong" jawab Mora mendelik kan matanya, bibirnya mengerucut, membuat Karel gemas.
Cup
"Udah jangan cemberut, cantiknya hilang nanti" ucap Karel sambil mencubit pipi chubby sang istri.
"Ish"
__ADS_1
"Semuanya udah, aku mau mandi trus turun, kamu siap-siap ya." Karel mengangguk patuh, membiarkan wanita yang dia cintai itu membersihkan diri nya.
Drttt
Laki-laki itu melihat hp nya yang berdering, kakek nya itu menelfon, Karel pun mengangkatnya dengan malas.
"Iya"
"Nanti datanglah ke rumah, ada yang mau kakek bicarakan."
"Nanti sepulang dari kantor"
"Kamu kerja ?" terdengar ucapan terkejut di seberang telfon.
"Mora yang minta"
"Oh, ya sudah nanti kamu jangan lupa buat Dateng ke rumah, ajak Mora sekalian."
"hm" sahut Karel singkat, telfon pun mati, Karel menyimpan nya di atas ranjang.
Laki-laki itu tersenyum saat melihat semua perlengkapan tertata rapi, hari ini ia melarang Mora untuk bekerja, membiarkan wanita itu mengistirahatkan tubuhnya, mungkin juga ia akan meminta Mora untuk berhenti bekerja nanti.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Mora yang mengosok rambutnya yang basah, Karel menelan ludah, menatap istrinya datar, wanita itu keluar hanya menggunakan handuk mandi.
"Astaga, kenapa belum berangkat ?" seru Mora kaget, tangan nya menyilang menutupi dada nya.
"Mau di antar sama istri" jawab Karel datar
"Ya udah keluar dulu sana" Karel menggeleng
"Mau lihat kamu ganti pakaian" jawab Karel polos.
"Jangan mulai deh, keluar dulu sana" ucap Mora dengan mata melotot, benar-benar di buat mengelus dada berulang kali dengan tingkah absurt suaminya itu.
Dengan terpaksa Karel keluar, muka nya cemberut, laki-laki itu berdecak karena tidak mendapat vitamin nya.
__ADS_1