IVAMORA

IVAMORA
Meminta Alettha


__ADS_3

Sore itu Mora sedang melihat tanaman di taman depan, sedangkan Karel sedang berbincang dengan papa Abi di ruang kerja. Mama nya ? ibunya itu sedang memasak entah masak apa di dapur bersama bibi.


Mora menatap gerbang, dia melihat Alettha sedang bersama laki-laki, Mora pun mendekat, memberi instruksi pada satpam untuk jangan membuka gerbang. Mora mengintip dan melihat Alettha seperti sedang ribut dengan laki-laki itu.


Mora pun membuka gerbang mengejutkan mereka yang masih asik berdebat. Saat melihat wajah laki-laki itu gantian Mora yang di buat terkejut.


"Mora"


"Alex" Mora mengernyitkan dahi, melihat tangan Alex yang menggenggam tangan adik nya. Mora menghampiri mereka dengan penuh penasaran.


"Ngapain kamu di sini ?" tanya Mora berkacak pinggang, apalagi saat melihat wajah Alettha yang sudah masam seperti jeruk busuk itu.


"Kamu yang ngapain di sini" tanya Alex balik, membuat Mora ingin mencakar wajah tampan laki-laki itu.


"ck" Alettha berjalan ke arah gerbang, ingin masuk rumah, namun Alex menarik tangan nya hingga gadis itu kembali menubruk tubuh alex.


"Lepas bisa ngga sih" Alettha benar-benar kesal, ingin rasanya memukul laki-laki ini tapi sepertinya ia tidak mampu.


"Urusan kita belum selesai Ale"


"Ck" Alettha kembali mengumpat


"Tunggu, kalian ini ada hubungan apa ?" tanya Mora mewakili rasa penasaran di hati nya.


"Kita pacaran" sahut Alex menatap mata Alettha dengan tajam.


"What, kok bisa ?"

__ADS_1


"Ya bisa lah, emang kenapa ngga bisa" Mora menepuk dahi nya, benar juga.


"Apasih, udah gue bilang, ngga usah di omongin" sahut Alettha ketus. Benar-benar tak suka dengan laki-laki over di dekat nya ini. Dia berasa seperti tahanan.


"Kenapa ?"


"Udah lah mending lu balik" Alettha sudah merasa tidak nyaman, apalagi ada kakak nya yang melihat interaksi mereka.


"Ngga" sahut Alex dingin


"Tunggu, jadi kalian ini pacaran ? trus lagi ribut gitu ?" tanya Mora yang nge lag. Sebenarnya Mora sudah cukup tau jika Alex adalah kekasih adiknya, namun dia tidak menyangka kenapa harus Alex. Teman nya sendiri coba.


"Apasih kak, aku ngga pacaran sama dia" sahut Ale ketus.


"Lepas in gue ck" Alettha masih berusaha melepaskan diri.


"Ya udah kalian masuk dulu" Mora meminta mereka masuk, Alex mengangguk, masih dengan menggenggam erat tangan Ale, dia masuk. Sedangkan wajah alettha sudah kesal setengah mati.


Mora terus bermonolog dalam hati, dia meminta Alex untuk duduk, laki-laki itu duduk dengan tangan yang masih menahan adiknya.


"Lepasin adik gue lah, jahat banget di kekepin mulu" sahut Mora, kasihan juga dia melihat wajah Alettha yang sudah kesal dan merah, membayangkan Alettha marah saja sudah membuat ia bergidik.


"Dia suka kabur" sahut Alex singkat, rasa penasaran yang ada di hati nya sudah terpenuhi saat Mora mengatakan jika gadis nya itu adalah adik teman nya itu.


"PAPAA.." Alettha berteriak dengan kencang, dengan mata yang memerah sudah ingin menangis. Tolong bebaskan dia dengan laki-laki gila ini.


Mendengar suara Alettha yang sudah seperti orang hutan, membuat Mora dan Alex menutup telinga, bahkan membuat papa Abi dan Karel yang baru turun dari tangga terkejut.

__ADS_1


"Sayang, kok teriak-teriak sih" mama Abi rupanya mendengar, dia mengomel masih dengan membawa spatula di tangannya dan apron yang melingkar di tubuhnya.


"Tau ni, papa sampai hampir jatuh" sahut papa Abi, dia mengelus dada nya, Sabar. Tingkah Alettha dari hari ke hari memang luar biasa unik nya.


Sementara Mora hanya bisa menggelengkan kepala, apalagi saat melihat Alex tetap menggenggam erat tangan adik nya tanpa berniat melepaskan.


"Pa lihat, tangan Ale merah hiks. Lepasin Ale dari laki-laki ini pa." untuk pertama kalinya Alettha merengek, bukan karena sakit tapi karena risih dan takut dengan laki-laki di samping nya ini.


Papa Abi memicingkan mata menatap Alex, sedangkan Alex hanya diam dalam duduk nya masih dengan wajah datar. Karel sendiri juga hanya bisa diam, berusaha memahami apa mau laki-laki yang bersama adik iparnya itu.


"Gue bilang lepas ngerti ngga sih" Alettha bahkan sampai menggigit pergelangan tangan Alex namun tak membuat laki-laki itu melepaskan tangannya, bahkan meringis saja tidak saat Ale menggigit tangan nya.


"Sayang astaga, nak tolong lepasin anak mama ya" mama Abi mendatangi putri nya, berusaha membujuk Alex yang sudah seperti patung itu. Tangan Alex tak bisa di lepaskan, hingga saat mendengar tangis gadisnya semakin kencang, tangan nya pun akhirnya melemah. Ale langsung lari terbirit-birit dan menutup kamar nya kencang, bahkan terdengar suara pintu itu sudah terkunci.


Sementara Alex hanya menatap kemana arah gadis nya pergi dengan mata nyalang dan merah.


Papa Abi dan Karel duduk, di ikuti oleh mama abi, yang menyerahkan spatula dan apron pada bibi. mereka menatap penuh intimidasi pada Alex tapi Alex bahkan sama sekali tak terganggu, dia hanya terus menatap pintu kamar Ale yang masih bisa di jangkau oleh mata nya.


"Saya ingin meminta putri anda" ucap Alex setelah menghela nafas.


"Maksudnya ?" papa Abi masih tampak tenang, dia menatap intens mata Alex.


"Kamu itu membuat putri saya ketakutan, tentu saya tak akan mengizinkan mu berada di dekatnya." ucap papa Abi dengan menghela nafas.


"Alettha adalah kekasih saya, kita sudah berhubungan dalam waktu yang lama." ucap alex setelahnya, sama sekali tak ada rasa takut dan gemetar. Apalagi setelah mengetahui siapa keluarga gadisnya yang sebenarnya.


"Alex kamu jangan nekat" Mora memperingati, di buat ikut pusing dengan sikap teman nya itu. Dia tau pasti bagaimana sikap teman nya itu, Alex ini jika sudah menginginkan sesuatu maka harus dapat, dia tentu tak mau itu.

__ADS_1


"Nekat apa ? bukannya aku punya hak untuk apa yang aku mau. Ale kekasih ku, dan sekarang aku sedang meminta nya langsung pada orang tua nya." seru Alex masih dengan nada datar, merasa tak suka dengan semua orang yang ada di hadapannya, mereka sama saja seperti penghalang untuk nya mendapatkan Alettha.


__ADS_2