IVAMORA

IVAMORA
Kebohongan


__ADS_3

"Ada apa kamu kesini ?" Andra berdecak, mata nya menatap langkah Karel yang sedang menuruni tangga.


"Bisa-bisanya pak Bai mengatakan jika 10 menit kamu akan turun, ini saja sudah hampir setengah jam" ujar Andra dengan kesal, hari sudah semakin beranjak siang, dan Karel baru turun menemuinya.


"Berani protes heh ? memang nya ada urusan apa sampai datang kesini" ujar Karel, kini laki-laki itu duduk di hadapan Andra dengan angkuh. Sama sekali tak ada raut wajah bersalah di wajahnya karena sudah membuat sahabat nya itu menunggu.


"Aku ingin mengajak mu untuk ikut ke pasar lelang hari ini" Karel hanya diam tampak tak tertarik dengan ajakan Andra, menemani gadis di kamar nya jauh lebih menarik.


"Oh ayolah, kamu selalu menolak setiap aku ajak" ujar Andra dengan tatapan memelas, dia melihat raut wajah Karel yang terlihat tidak tertarik dengan ucapan nya.


"Aku tidak bisa"


"Ck" Andra menghela nafas kasar, wajah nya terlihat penuh dengan kekesalan.


"Ajak saja Gilang dan Rafka" sahut Karel dengan ringan.


"Rafka di luar negeri, sedangkan Gilang lagi sibuk sama perusahaan kakek nya." jawab Andra dengan ketus.


Ting


Karel melirik handphone nya yang berbunyi, lalu membukanya saat melihat muncul nama Mora di notifikasi handphone nya.


"Tuan saya ingin pulang" pesan singkat itu membuat Karel berfikir sejenak.


"Pergilah dahulu ke sana, nanti aku akan menyusul" ucap Karel tanpa menatap Andra.


"Bohong banget lu mah" sahut Andra, ucapan nya masih terdengar ketus.


"Ngga, aku bakal kesana nanti, soal nya aku mau ngecek beberapa berkas dulu di atas (ruang kerja)"

__ADS_1


"Janji ya lu ngga bohong" ucap Andra sambil menatap sahabatnya tajam, Karel mengangguk mengiyakan.


"Awas aja sampai lu ngga dateng" ucap Andra dengan nada mengancam, Karel menatap teman nya itu malas.


"Iya-iya aku pergi, natap nya udah kaya macan aja lu" Andra berdiri lalu melangkah pergi, Karel menatap kepergian teman nya itu, dan setelah memastikan Andra tak kembali, Karel pun kembali naik ke atas.


Membuka pintu kamar, laki-laki itu terkejut saat melihat Mora di hadapan nya, sudah nampak rapi dengan baju yang ia berikan.


"Mengagetkan saja" ucap Karel sambil menutup pintu.


"Aku mau pulang" ucap Mora menatap Karel.


"Baiklah, aku akan mengantarmu" ujar Karel sambil mengambil jaket yang ia taruh di atas sofa dalam kamar nya.


Mora pun tak menjawab, mereka turun bersama ke lantai bawah.


"Sarapan dulu" ujar Karel dengan nada datar, tangan nya menggenggam tangan Mora, lalu membawa gadis itu untuk mengikuti langkah kaki nya.


Mora menghela nafas, gadis itu mengikuti Karel dengan wajah yang di tekuk.


Sampai di ruang makan, terlihat banyak makanan yang sudah terhidang di atas meja, Mora menatap nya tanpa berkedip, tiba-tiba perut nya merasa perih karena rasa lapar. terakhir ia makan adalah kemarin siang, dan dia merasa perih karena melihat banyak makanan lezat yang tersaji di hadapannya, apalagi sebagian makanan itu adalah makanan kesukaan nya.


Karel menarik kursi lalu mendudukkan Mora yang masih bengong ke kursi, laki-laki itu menarik sedikit sudut bibir nya saat melihat mata Mora yang seperti melihat mangsa.


"Makanlah" ujar Karel sambil menaruh piring di depan Mora.


"Baiklah, lebih cepat lebih baik" sahut Mora sambil menghela nafas, gadis itu mengambil nasi dengan porsi sedikit lalu mengambil salah satu lauk kesukaan nya.


"Sedikit sekali porsi makan mu" celetuk Karel saat melihat isi makanan di piring Mora.

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku tidak terlalu lapar" sahut Mora lalu menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.


Mora melotot saat tanpa aba-aba Karel menambah nasi ke dalam piring nya, laki-laki itu juga menambahkan beberapa lauk ke dalam piring Mora.


"Begini lebih baik" ujar Karel saat melihat isi piring Mora, laki-laki itu ikut mengambil nasi dan lauk untuk sarapan pagi nya.


"Ck" Mora menatap kesal ke arah tuan nya itu, ia menelan nasi dengan kasar karena kesal.


Mereka sarapan selama 10 menit, setelah itu Karel mengantar Mora. Dalam perjalanan banyak sekali telepon dari Andra yang diabaikan oleh Karel, bahkan laki-laki itu tanpa ragu memilih untuk mematikan handphone nya.


"Kenapa tidak di angkat ?" tanya Mora tiba-tiba, sedari tadi Karel nampak terus melirik ponsel nya yang terus berdering.


"Bukan hal yang penting" sahut Karel singkat. Sampai di rumah Mora, gadis itu segera turun, papa dan mama nya terlihat berdiri di halaman rumah nya melihat ke arah nya, Mora meneguk ludah nya lalu menghampiri kedua orang tuanya.


Ia pikir orang tua nya akan marah karena tadi malam ia tidak pulang, ternyata mereka hanya bertanya saja.


"Nak Karel terimakasih sudah mengantarkan putri saya" ujar papa Abi, Mora mendelik, lalu menoleh ke belakang di mana ternyata Karel ikut turun dan sudah berdiri di belakang nya.


"Ngapain kamu ikut kesini ?" ujar Mora menekan kata-kata nya.


"Hiss nak memang nya kenapa jika nak Karel ikut turun" mama nya menjawab ucapan putri nya.


"Lagian kamu ini bikin panik aja, kenapa tidak memberitahu jika lembur di kantor. Mama khawatir tau karena kamu tidak pulang, untung saja nak Karel memberitahu papa jika kamu ikut dengan nya lembur di kantor." Mora terdiam dengan wajah pucat, ia menatap horor ke arah Karel.


"Bukan gitu ma" ujar Mora dengan suara pelan.


"Maaf ya tante, sejak tadi malam memang Mora tidak sempat membuka handphone. Karena tuntutan pekerjaan." Karel menjawab dengan senyuman tipis di bibir nya.


Mora hanya terdiam, ia merasa tidak senang dengan ucapan Karel, laki-laki itu sudah membohongi orang tuanya, dan ia merasa bersalah karena mendukung kebohongan itu.

__ADS_1


__ADS_2