
Di sebuah kursi sofa tunggal di sebuah ruangan besar nan luas, tampak seorang gadis yang menunduk sambil memainkan jari-jari tangan nya, seolah menjadi tersangka pelaku kejahatan gadis itu hanya terdiam sambil terus menunduk.
Di depannya terlihat seorang laki-laki yang juga duduk sambil melipat salah satu kaki nya, laki-laki itu berkali-kali menghela nafas saat melihat gadis di depannya hanya diam seperti patung, sungguh mengerikan.
"Apa kamu datang hanya untuk melamun ?" tanya Karel sambil terus memperhatikan Mora. Ucapan dingin nan keras itu membuat Mora mendongakkan kepala nya, gadis itu tersenyum paksa sambil merangkai kata di otak nya.
"Sebenarnya, aku ingin membangunkan mu" seru Mora pada akhirnya, oh laki-laki di depannya ini sudah menjadi kekasihnya, tapi tetap saja tak memberikan pengaruh apa-apa. Mora masih sering merasa takut saat berhadapan dengan wajah dingin dan datar nya.
"Lalu kenapa tadi hanya mondar-mandir di depan pintu" seru Karel dengan tatapan menyelidik, Mora menggaruk telinga nya, masih dengan senyum nya yang ia paksakan.
"Aku takut menganggu tidurmu"
Huh, Karel menghela nafas, laki-laki itu terus menatap gadisnya seolah sedang menyusun kata untuk menutupi masalah nya.
"Tak apa, tadi aku juga tak tidur" sahut Karel setelah menghela nafasnya, Mora melirik, Karel tampak memiliki beban berat karena sedari tadi terus menghela nafas.
"Apa ada masalah ?" tanya Mora, dia tentu saja menyadari raut wajah Karel yang sedari tadi muram.
"Bukan masalah yang berat" Karel masih berusaha menutupi, ia tak ingin melibatkan Mora sama sekali.
"Apa ? kamu bisa membaginya dengan ku" Mora mendekat lalu mengusap bahu laki-laki itu dengan lembut.
"Tidak apa sayang, aku tak ingin merepotkan mu" seru Karel, laki-laki itu menyandarkan kepala nya pada pundak Mora.
"Kenapa begitu ? aku sudah sering merepotkan mu, maka aku akan senang jika bisa membantu mu hem." Mora mengusap wajah Karel dengan lembut, membuat mata laki-laki itu terpejam.
Mora menarik telapak tangan Karel, lalu menggenggam tangan besar itu dengan erat.
"Kenapa hem" Karel masih tak mau bicara
"Aku merasa tak berguna jika seperti ini" seru Mora berharap Karel akan berbicara.
__ADS_1
"Kenapa berkata seperti itu ?" seru Karel tak suka.
"Kamu sendiri tak melibatkan aku dalam masalah yang kamu alami, seberat apapun kamu tak bisa menyimpan nya sendiri." seru Mora.
Karel menegakkan tubuhnya, mengambil nafas dengan dada yang berat, ia berusaha untuk berbicara dengan gadisnya.
"Aku harus mendatangi acara perkumpulan keluarga" seru Karel pada akhirnya, Mora terdiam, membiarkan laki-laki itu melanjutkan ucapan nya.
"Aku merasa amat sangat malas, apalagi di sana aku akan bertemu dengan beberapa orang yang tak aku sukai."
"Hanya itu ?" sela Mora, Karel menggeleng.
"Permasalahanya adalah mereka selalu menuntut ku untuk segera menikah, hal itu yang membuatku malas." Mora mengangguk, apa yang Karel alami mayoritas sudah terjadi di beberapa keluarga kaya raya. Mereka pasti akan segera menyuruh pewaris nya untuk segera menikah dan mempunyai anak.
"Aku yakin kamu bisa menjawabnya" Karel mengangguk, ya dia memang bisa menjawab, hanya saja dia harus menghadapi kakek nya yang sedikit sulit.
"Biarkan aku ikut dengan mu, hem jika kamu memberikan izin." Karel mengernyit, laki-laki itu menatap Mora intens.
"Kenapa ? kamu tak mempercayaiku ?"
"Bukan begitu.." sungguh Karel bingung mengutarakan maksudnya.
"Percaya padaku, aku pasti mampu. Karena untuk menjadi pasangan mu aku memang harus mampu menghadapi situasi sesulit apapun." ucapan itu membuat Karel termenung. Laki-laki itu menatap mata Mora yang menatap nya dengan harap.
"Berikan aku kesempatan sekali saja" seru Mora sambil menggenggam tangan Karel dengan erat.
"Aku berjanji akan menjaga diriku sendiri, tak akan membiarkan orang lain menginjak ku." Mora berusaha untuk terus menyakinkan Karel.
"Kamu berjanji ?" Karel bertanya dengan mata yang menyelidik.
"Janji" seru Mora tanpa ragu, Karel menghela nafas meski masih ragu pada akhirnya ia memilih untuk menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Baiklah" Mora menarik bibirnya, tampak puas karena berhasil membujuk Karel.
Setelah perbincangan terakhir antara Karel dan Mora, kini Mora pun sudah bersiap di dalam kamar nya, malam ini ia akan bertemu dengan keluarga besar Karel, bohong jika ia tak gugup, karena ia belum terlalu mengenal keluarga Karel, dan belum tau seperti apa sikap keluarga Karel jika bertemu dengan nya nanti.
Tapi dia sendiri yang sudah memutuskan untuk ikut, maka dia tidak bisa mundur begitu saja, apapun yang akan ia dapatkan nanti, dia harus bisa menerima nya, dan satu hal yang harus dia lakukan, yaitu melawan orang yang berani menindas nya.
Gadis itu kembali mematut dirinya di cermin, kini ia sudah sangat cantik dengan pakaian nya yang terlihat sangat anggun dan elegan. Mora menggunakan gaun hitam panjang hingga di bawah lutut. Dengan pakaian itu kaki Mora yang terlihat cantik itu terlihat.
Mora juga menguncir rambut nya hingga memperlihatkan leher jenjang nya, benar-benar duplikat dari nyonya Abiyasa yang anggun dan cantik.
Meski mempunyai sikap bar-bar dan cenderung tak tau malu, tapi masalah penampilan Mora selalu menjaga nya, gadis itu membawa nama besar Abiyasa makanya ia tak bisa seenaknya bersikap di depan umum.
Tok tok tok
Pintu yang di ketuk dari luar mengalihkan atensi Mora, gadis itu mengambil tas bahu nya lalu meletakkan hp nya ke dalam tas kecil itu, gadis itu lalu membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Kak" Mora melihat Alettha yang berdiri di depan nya dengan pakaian nya yang acak-acakan.
"Habis gelut di mana dek ?" tanya Mora sambil memperhatikan adik kecilnya itu.
"Ck mana ada gelut"
"Itu di ruang tamu ada kak Karel, cari kakak"
"Iya, kakak juga mau turun" seru Mora, gadis itu turun dari kamarnya bersama Alettha.
"Tadi kamu temuin kak Karel dengan tampilan seperti ini ?" tanya Mora
"Iya"
"Ish ngga malu apa dek, udah gadis lo, tampilan nya kaya anak SD aja."
__ADS_1
"Biarin aja wlee"