IVAMORA

IVAMORA
Mendinginkan Hati


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, tepat nya di rumah sakit, terlihat seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi roda menghadap pada taman yang luas. Sudah beberapa hari ia tak pulang, dan tak ingin di temani oleh siapapun.


"Tuan" terlihat seorang laki-laki muda menghampiri dengan ragu. Berharap dapat kembali membujuk tuan nya untuk melakukan terapi nya agar urusan mereka segera selesai.


"Pergi" bukan persetujuan namun malah pengusiran yang laki-laki itu dapat.


"Tuan, ayo. Anda harus segera melakukan terapi" Sang asisten melangkah satu langkah lebih dekat, dengan resiko mendapat bentakan. Dia tak lagi perduli, ini semua demi kesembuhan tuan nya.


"Saya bilang pergi ya pergi"


"Kasihan nyonya tuan, ada wanita yang saat ini sedang menunggu anda di rumah. Tolong pikirkan hal itu." terpaksa sang asisten kembali membawa nama nyonya mereka, dan benar saja, seketika tuan nya tak lagi memberontak dan menolak. Di pikir ampuh juga menggunakan nama nyonya mereka.


Berjalan menuju ruangan sudah ada seseorang yang menunggu di depan pintu, laki-laki yang sedang duduk di kursi roda itu terdiam mengabaikan dengan wajah nya yang terlihat datar.


Namun hal itu mampu membuat laki-laki yang sedari tadi menunggu itu tersenyum, melihat sepupu nya yang mau melakukan pengobatan saja sudah membuat hati nya senang.


Kesembuhan sepupunya adalah yang utama


Memasuki ruangan, suasana kembali terasa menusuk, itu karena tatapan tak bersahabat dari tuan mereka.


"Lakukan dengan cepat, aku ingin segera pulang" ujar nya dengan nada dingin. Lalu membaringkan tubuh nya di atas ranjang dengan di bantu sang asisten.


Mora duduk di ruang tamu dengan memegang hp di tangan nya, terlihat layar hp yang menyala menunjukkan sebaris kata 'berdering'. Wanita itu tampak galau sendiri, sudah seminggu namun suaminya tak juga pulang. Padahal waktu ini sudah melampaui dadi waktu yang di janjikan suami nya untuk pulang.


Selama Karel pergi pun, Mora hanya memberi kabar lewat pesan, Karel pun hanya menlfon sebanyak dua kali terhitung selama seminggu. Mungkin saja laki-laki itu sedang sibuk.


"Sebenarnya dia kemana" wanita itu kembali bergumam lirih, merasa benar-benar rindu. Seolah rasa ingin itu tak mampu tersalurkan karena komunikasi mereka yang buruk.

__ADS_1


"Tak di angkat juga" Mora menghela nafas kasar, menyandarkan tubuh nya pada sofa, mata gadis itu berkaca-kaca. Hal seperti ini saja sudah mampu membuatnya kepikiran, akhir-akhir ini dia sering berfikir yang berlebihan. Sikapnya pun mendadak menjadi cengeng.


"Permisi nyonya" seorang maid mendatangi Mora


"Ada apa ya bi ?" tanya Mora buru-buru menetralkan mata nya. Agar tidak terlihat menangis.


"Di depan ada tamu nyonya, katanya mau ketemu nyonya." Mora mengangguk, tidak terlalu berfikir siapa kah yang datang.


"Suruh masuk aja ya bi"


"Baik nyonya" tak lama dari kepergian maid itu, datanglah dua orang dari arah pintu, Mora cukup terkejut saat melihatnya.


"Gracel" Mora menatap teman nya itu yang menghampiri nya dengan mata yang berkaca-kaca. Di belakang wanita itu ada Tama yang tersenyum tipis ke arahnya.


"Kok kesini ngga bilang-bilang" Mora memeluk tubuh wanita itu, dan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.


"Boleh lah, kamu kan temen aku juga" Mora mengusap bahu wanita itu. Untuk sejenak tatapan Mora turun pada perut Gracel, dia jadi ingin hamil juga kan.


Gracel yang paham kemana arah tatapan Mora pun paham, mendadak wajah nya berubah murung dan sedih. Dia sama sekali tak menatap suami nya yang sedari tadi diam memperhatikan mereka.


"Katanya kamu hamil, gemes deh. Pegang boleh ?" tanya Mora tersenyum dengan mata berbinar.


"Pegang aja"


"Ah ngga sabar deh nungguin kelahirannya, pasti lucu kaya kamu." Gracel tersenyum paksa mendengar itu.


"Entahlah Mor, aku tak terlalu antusias untuk hal ini" Mora menoleh pada Tama, terlihat laki-laki itu tersenyum kecut di tempat duduk nya. Kenapa coba Gracel mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh begitu, tuhan tu sayang banget sama kamu makanya di kasih malaikat kecil." Gracel mengangkat kedua bahu nya.


"Sudah jangan membahas nya lagi, kita bahas yang penting saja." lagi, seolah tak sadar kalimat itu kembali meluncur, Gracel tak sadar bahwa kalimat itu menyakiti hati suaminya.


"Biarkan saja Mora, memang sulit memberitahu seseorang yang hati nya sudah di penuhi rasa benci." ujar Tama datar, Mora menatap pasangan itu, mereka ini kerumahnya untuk ajang perlombaan saling menyindir kah.


"Baiklah-baiklah kita tenangkan pikiran dulu ya, biar aku minta bibi buatin minuman oke." Mora berdiri, berjalan ke arah dapur, meninggalkan pasangan unik itu.


Gracel terdiam dalam duduk nya, jika sudah berdua begini dia tak akan berani bersuara, dia hanya berani berucap saat ada Mora atau orang lain di dekatnya. Dia pun sadar jika Tama saat ini menatap tajam padanya.


"Kemana suara mu, putus kah ?"


Hening...


Hening...


Gracel sama sekali tak membuka suara, dia menunduk dengan memilin jari nya.


"Lihat saja nanti" seru tama dingin, dan ucapan itu mampu membuat bulu kuduk Gracel berdiri.


"Aku hanya becanda" cicit Gracel memelas, mata nya memerah dan kembali berkaca-kaca.


"Dan aku tak akan memaafkan, apapun yang menyangkut anak ku. Cam kan itu." Tama masih bersuara dingin, sedalam apapun rasa cinta nya pada wanita itu, dia tak akan terima jika itu menyangkut anak nya.


Mereka tak lagi bersuara sampai Mora datang dengan membawa tiga gelas jus.


"Ini di minum dulu, kalian pasti haus kan" Mora tak menyadari raut wajah Gracel yang sudah pias seperti kehabisan nafas itu.

__ADS_1


"Terimakasih, aku butuh ini untuk mendinginkan hati agar jadi beku." sindir Tama meminum minuman itu.


__ADS_2