IVAMORA

IVAMORA
Sikap Posesif


__ADS_3

Mora menunduk sambil mengaduk makanan yang ada di hadapannya, dan apa yang ia lakukan itu tak luput dari penglihatan seorang laki-laki yang kini duduk di hadapannya.


"Kenapa hanya di aduk-aduk saja ? apa kamu tidak suka dengan menu nya." ujar laki-laki itu dengan mata yang tak lepas dari Mora, Mora menggelengkan kepala nya sambil menerbitkan senyum tipis.


"Saya merasa kenyang" ujar gadis itu, sungguh tidak bohong, senyuman gadis itu terlihat begitu indah, benar-benar mampu membuat nya semakin gila.


"Kamu baru saja menyuap sedikit, yakin sudah kenyang ?" tanya nya dengan tatapan yang menyelidik, Mora menganggukkan kepala nya.


"Saya tadi sudah makan di rumah, jadi hanya menyuap sedikit saja sudah kenyang." ucap Mora menjelaskan.


"Oh baiklah, mau pergi ke suatu tempat, aku akan mengantarkan mu ?" laki-laki itu berucap dengan nada yang sedikit memaksa. Mora kembali menggelengkan kepala nya.


"Maaf saya tidak bisa, saya harus segera pulang, karena masih ada keperluan, lagi pula saya juga membawa mobil sendiri." Mora berusaha menjelaskan.


"Ah, sayang sekali padahal aku ingin mengajak mu jalan-jalan di sekitar sini. Tapi bisakah kita lain kali melakukan nya ?" tanya laki-laki itu tak menyerah.


"Jika saya tidak sibuk ya" ujar Mora sambil tersenyum, lalu gadis itu berdiri, bersiap untuk menemui bagian kasir.


"Ah, tidak perlu nona Mora, saya sudah membayar semuanya" ucap nya mencegah langkah Mora, Mora pun akhirnya mengangguk.


"Baiklah Tuan Antony, jika begitu saya permisi dahulu, terimakasih traktiran nya ya." ujar Mora yang di balas anggukan dan senyuman oleh sang empu.


Mora segera pergi meninggalkan tempat itu, sejujurnya gadis itu sedikit merasa tak nyaman saat bersama laki-laki itu tadi, maka dari itu Mora memilih untuk segera pulang ke mansion.


Malam hari nya

__ADS_1


Mora mematut diri nya di hadapan cermin besar yang ada di kamar nya, gadis itu menggunakan gaun warna perpaduan antara putih dan coklat panjang hingga tumit, meski memakai gaun yang panjang itu tidak meninggalkan kesan elegan dari diri Mora.


Gadis itu tersenyum, dengan riasan simple di wajah nya yang terlihat manis, lalu Mora pun mengambil tas nya dan segera menuruni tangga dengan sepatu high hells.


Mora berjalan ke arah ruang tamu, di ruang tamu terdengar beberapa suara yang membuat suasana begitu ramai. Gadis itu melihat keluarga nya sedang bercengkrama dengan seseorang yang nampak rapi dengan balutan jas mahal di tubuh nya.


"Tuan, kenapa ke sini" spontan ucapan itu keluar dari bibir Mora, membuat semua pasang mata menoleh ke arah nya, tak kecuali Karel yang menatap gadis itu tanpa berkedip.


Meski menggunakan pakaian yang tertutup rapi, tapi entah kenapa Mora terlihat berkali-kali lipat lebih cantik, apalagi di tambah dengan hiasan ringan di wajah nya, tak membuat kecantikan gadis itu berkurang sedikit pun.


Sebelum orang tua gadisnya berdiri, dengan segera Karel berdiri menghampiri gadis itu, ia berjalan hingga berada di samping Mora, lalu merengkuh pinggang ramping Mora dengan posesif. Laki-laki itu menundukkan kepala nya mendekati telinga Mora lalu berbisik.


"Apa ini baby, kenapa berdandan terlalu cantik hemm" ucapan laki-laki itu membuat Mora merinding, apalagi hembusan halus nafas Karel yang menerpa leher samping nya membuat tubuh nya meremang.


Jantung Mora nampak kembali berdebar, gadis itu menatap wajah Karel dengan kening yang berkerut, Karel yang melihat itu menjadi gemas, ia kembali menundukkan kepala nya lebih rendah, lalu tanpa aba-aba mengecup leher Mora dengan singkat membuat tubuh Mora bergetar.


"Hey sudah, apa kalian tidak kasihan terhadap kami yang masih polos ini" ujar Alettha sambil bersandar di lengan Arka yang menatap datar ke arah mereka, bukan, hanya menatap tajam Karel yang tampak agresif mendekati kakak kesayangan nya.


"Kenapa tuan bisa ada di sini ?" Mora kembali mengajukan pertanyaan setelah berhasil mengendalikan diri.


"Mama yang memberitahu nya nak, mama cuma ngga mau kamu kenapa-kenapa. Tadinya mama ingin meminta Arka untuk ikut dengan mu, tapi papa mu mengatakan kan memberitahu Karel saja. Lagian bukan kah kalian itu sepasang kekasih." ucap mama Mora panjang lebar.


"Kenapa harus takut ma ? kan cuma acara seperti ini, sama teman-teman Mora juga." ujar Mora menjelaskan, kini tatapan nya beralih ke arah Karel yang juga menatap nya.


"Tuan tidak perlu ikut, saya bisa sendiri. Lagian di sana juga ada Arsen yang akan menjaga saya." ucap Mora dengan gampang nya, gadis itu meringis saat merasakan tangan Karel yang meremas pinggang nya. Tatapan mereka kembali bertemu, kini wajah Karel berubah datar, apa laki-laki itu marah ? pikir Mora.

__ADS_1


"Kami berangkat ma pa" Karel berucap singkat, lalu segera mengajak Mora berjalan meninggalkan rumah, tangan nya masih di posisi sama merangkul pinggang sang gadis dengan posesif.


Melihat tuan nya sudah datang bersama nona Mora, membuat sang supir membukakan pintu mobil berharga miliaran itu, setelah memastikan tuan nya dan sang gadis masuk dengan aman, ia pun segera menutup nya.


Mora duduk menempel di dada bidang Karel, gadis itu bergerak gelisah, tangan Karel yang masih nangkring di pinggang nya membuat ia tak leluasa.


Cup


Mora melotot saat Karel tanpa izin mengecup pipi nya, gadis itu memberikan ekspresi marah.


"Jangan melamun membuat ku gemas saja cup" Karel kembali mengecup pipi gadis itu setelah mengucapkan kalimat nya. Mora hanya menghela nafas.


"Tuan harus tau batasan" ujar Mora, ia tidak suka melihat sikap Karel yang seenak nya.


"Tidak ada batasan di antara kita baby Hem" Karel kini memeluk tubuh gadisnya dari samping, lalu menaruh kepala nya di ceruk leher sang gadis, wangi vanilla seketika tercium dari tubuh gadis nya membuat Karel semakin nyaman dengan posisi nya.


"Tuan" Mora berusaha menyingkir


"Kamu milik ku sayang" ucap Karel semakin mengeratkan pelukan.


"Bukankah aku sudah memberikan penolakan" ucap Mora, Karel memang meminta nya untuk menjadi kekasih namun Mora menolak semua itu dengan alasan tertentu.


"Bagiku kamu milik ku, dan selamanya akan begitu" ucap Karel tanpa mengalihkan posisi nya.


"Meski kamu menolak sekalipun" lanjut Karel dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2