
'Kenapa mematikan handphone mu, apa kamu benar-benar marah ? maaf ya by jika aku salah, tolong jangan begini, aku benar-benar merasa takut dan khawatir'
Mata Mora kembali berkaca-kaca, gadis itu tak mampu untuk hanya sekedar menjawab pesan singkat itu. Tidak-tidak dia yang terlalu berlebihan, sampai-sampai membuat kekasihnya itu khawatir dan cemas.
Untuk saat ini Mora benar-benar di landa kebingungan, di satu sisi ia sudah sangat mencintai Karel, tapi di satu sisi lagi ia merasa tak pantas untuk laki-laki itu setelah kejadian beberapa hari lalu.
"Aku harus apa sekarang" di biarkannya air mata itu mengalir, Mora benar-benar merasa kacau, kenapa ia harus mengalami hal ini.
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka, Mora tak menyadarinya karena saat ini gadis itu sedang berdiri di balkon.
"Mora" ucap seseorang dengan lirih, namun Mora masih mampu untuk mendengarnya. Gadis itu pun menoleh ke arah suara itu berasal.
"Nenek" Mora segera menghapus air matanya, gadis itu menghampiri nenek nya lalu memeluk wanita renta itu.
"Sayang kamu kenapa, kenapa menangis" ucap nenek sambil mengusap lembut rambut cucunya.
"Ah tidak, Mora mana mungkin menangis"
"Dasar cucu nakal, mau membohongi nenek begitu ?"
"Nek, Mora sedang ada masalah" seru Mora dengan lesu, gadis itu berjalan untuk menutup pintu balkon, lalu membawa nenek nya untuk masuk ke dalam kamar.
"Pantas saja beberapa hari ini tak mengunjungi nenek di kamar." seru nenek
"Maaf ya nek" Mora menunduk, mengingat Karel benar-benar mampu membuat matanya berembun.
"Sayang, jika memang ada masalah itu di selesaikan, jangan terus lari dan menghindarinya."
"Mora merasa bingung nek, bingung dan ngerasa ngga mampu untuk menyelesaikannya." seru Mora dengan kepala yang masih menunduk, nenek tampak mengusap kepala cucu nya itu dengan sayang.
__ADS_1
"Tidak mampu ? sejak kapan cucu nenek tidak mampu menyelesaikan sesuatu, cucu yang nenek kenal selalu mampu dalam hal apapun."
"Nek" Mora merengek, gadis itu merebahkan kepala nya di paha nenek nya, membiarkan nenek kesayangannya itu mengusap kepala nya.
"Sayang, suatu saat kamu akan mendapati banyak sekali masalah, kalau masalah kecil saja kamu nyerah bagaimana jika nanti ada masalah yang lebih besar lagi ?"
Mora terdiam, mulai mencerna ucapan nenek nya, apa yang nenek nya katakan benar, jika ia tak bisa menyelesaikan semua ini lalu bagaimana jika ia mendapat masalah yang lebih besar.
"Iya nek, setelah di pikir-pikir nenek memang benar. Mora akan segera menyelesaikan permasalahan ini, Mora ngga mau semuanya terlalu berlarut."
"Bagus, gitu dong harusnya dari kemarin, bukan nya mengunci diri di kamar."
"Nenek tau jika Mora mengurung diri" ucap Mora dengan terkejut.
"Alettha yang ngasih tau nenek"
"Ck anak itu" Mora berdecak, tangannya terkepal siap memukul adik nya itu.
"Ya maaf, ya sudah nenek ke kamar ya. Udah malam, nenek harus istirahat." ucap Mora lalu membantu nenek nya untuk pergi ke kamar.
"Baiklah nenek bisa berjalan sendiri, kamu jangan lupa makan malam dan tidur yang teratur ya. Jangan sampai bergadang."
"Okey" ucap Mora sambil memberikan jempol untuk nenek nya, saat gadis itu melihat nenek nya hilang di balik pintu yang tertutup, ia pun memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Kak" tiba-tiba Alettha kembali mendatanginya, gadis itu sudah rapi dengan pakaian nya, entah kemana gadis itu akan pergi.
"Kenapa ?" tanya Mora dengan heran, pasalnya adik perempuan nya itu sangat jarang menemuinya, jika memang mau keluar, ya tinggal keluar tanpa berpamitan kepadanya. Jelas saja kedatangan Alettha di depannya membuatnya heran.
"Ikut Ale keluar yuk" seru gadis itu sambil tersenyum tipis.
"Kemana ? ngga mau ah" jawab Mora dengan malas
__ADS_1
"Ayolah, sekali-kali kita keluar berdua"
"Ini udah malam Ale, kakak ngga mau" ucap Mora menjelaskan.
"Papa sama mama udah kasih izin kok, tadi Ale udah minta izin sama kakak juga. katanya ngga papa." seru gadis itu dengan enteng, dengan segera ia menyeret lengan kakak nya menuju kamar kakak nya itu.
"Emangnya mau kemana sih, kakak ngga mau ya kalau kamu ngajak ke club' atau sejenisnya." ujar Mora mewanti-wanti.
"Ya ampun ya ngga lah Kak, lagian Ale juga mana pernah ke tempat kaya gituan." seru gadis itu terkekeh, tangan nya dengan terampil memilih beberapa gaun milik kakak nya.
"Biar kakak aja yang pilih, mending kamu nunggu di bawah" seru Mora sambil menarik tangan adik nya itu.
"Ya udah jangan lama-lama ya Kak, janji lama Ale seret pokoknya." seru gadis itu dengan tatapan yang menyebalkan.
30 menit sudah Mora menghabiskan diri di kamar untuk bersiap, kini gadis itu sudah siap dengan pakaian nya. Mora pun menuruni tangga setelah selesai memoles bibir nya dengan lipstik ringan.
"Lama banget sih, Sampek kutuan nunggunya" Mora hanya memutar bola matanya saat mendengar ucapan penuh sindiran dari adiknya.
Mereka pun berjalan ke arah mobil, kini Ale menyetir sendiri mobil nya, gadis itu mengendarai dengan kecepatan yang kencang. Mora sudah tidak heran, semua anak Abiyasa memang seperti setan jika sudah menyetir.
"Kita mau ke mana ?" tanya Mora, jujur ia masih penasaran dengan tujuan Ale.
"Nanti juga tau, bentar lagi nyampe kok" seru Ale, benar saja tak lama dari itu Ale sudah memarkirkan mobil nya, mereka turun, dapat Mora lihat kini dia berdiri di depan restoran besar yang memang mewah.
"Cuma ngajak makan gitu ?" seru Mora, ia benar-benar merasa heran dengan adik nya itu.
"Laper, tadi lupa ngga makan" seru Ale, dengan santai gadis itu berjalan, meninggalkan Mora di belakang.
Mora berdecak, lalu mulai mengikuti langkah adiknya, gadis itu tampak berbincang dengan pelayan, lalu pelayan mengantar mereka entah kemana.
"Kak cepetan sih jalannya, udah laper ini" seru Ale dengan kesal, Mora pun berjalan duluan dan mengikuti pelayan itu.
__ADS_1