
Sementara itu di tempat lain, Andra nampak turun dari mobil nya, ia baru saja pulang dari kantor. Dan memilih untuk tidur di apartemen saja karena malas mengemudi jarak jauh dari kantor sampai rumah.
Laki-laki itu menutup pintu mobil saat mobil sudah terparkir rapi, lalu mengambil kunci yang selalu berada di dompet nya dan bergegas membuka pintu apartemen itu.
Andra memijit hidung nya yang terasa tersumbat, mungkin efek kelelahan membuat tubuh nya tidak fit, ia pun langsung menaiki tangga menuju kamar nya.
Ceklek, setelah pintu sepenuhnya terbuka, Andra pun memasuki kamar nya, ia melepas jas yang membalut tubuhnya lalu melemparnya asal ke bak pakaian kotor.
Andra berjalan ke arah walk in closet untuk mengambil pakaian namun laki-laki itu terkejut saat melihat seorang wanita sedang membelakanginya dengan menggunakan handuk kimono sebatas lutut kaki.
Dapat Andra lihat kaki jenjang yang terlihat putih bersih itu, terlihat pahatan yang sangat indah dan sempurna.
"Eh kamu" gadis yang baru saja membalikkan badannya itu terkejut, ia segera saja merapatkan handuk nya saat melihat laki-laki di kamar ini.
" maaf aku lupa jika kamu tinggal di sini, aku akan keluar" ucap Andra dengan gugup, ia berbalik.
Setalah menutup pintu kamar, Andra pun menggerutu, ia merutuki dirinya yang lupa jika ada gadis cantik yang tinggal di apartemen nya.
Untung saja gadis itu tidak dalam keadaan polos, coba saja kalau iya, bisa benar-benar kacau keadaannya nanti.
Ceklek, Andra yang duduk di sofa panjang di samping kamar itu nampak terkejut saat mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh dan muncul lah seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang terurai, dengan jepit rambut kecil di sisi kanan.
Gadis itu menunduk lalu duduk di samping nya. Seketika hal itu membuat jantung Andra berdetak karena merasa gugup.
"Tuan.."
"Panggil Andra saja"
__ADS_1
"Em kak Andra" ucap gadis itu mendongak, membuat pandangan mereka bertemu, jantung Andra semakin berdetak tak karuan, oh ayolah kenapa bisa ada gadis secantik ini, dengan raut wajah cantik yang begitu manis, dengan sikap kalem dan pemalu serta tutur kata yang lembut. SEMPURNA.
Satu kata yang mewakili gadis itu, bahkan tanpa menggunakan make up pun terlihat sangat cantik tanpa ada kekurangan satu hal apapun. Bibir mungil dengan warna merah alami, dengan wangi mint yang tercium lembut di kulit tubuhnya.
"Hem aku benar-benar lupa jika kamu ada di sini" ujar Andra mengalihkan tatapan mata nya.
"Tidak apa-apa, kakak mandi ya sekarang pasti capek kan." ucap gadis itu lembut, ia menaruh handuk di telapak tangan Andra, untuk sejenak pandangan mereka kembali bertemu.
Andra tersenyum, entah kenapa ia merasa gadis ini begitu mempunyai aura yang tak biasa, sampai untuk menyentuh seujung rambut harum nya saja Andra merasa tak berani.
"Baiklah" Andra pun berdiri, lalu beranjak kembali memasuki kamar nya yang beberapa bulan ini menjadi milik gadis cantik itu.
Setelah selesai membersihkan diri, Andra pun keluar dengan baju lengan pendek yang mencetak otot tubuhnya serta celana yang hanya sebatas lutut.
Laki-laki itu duduk di ranjang sambil mengusap rambut nya yang basah, entah karena tubuh nya kurang fit atau apa kini kepala nya ikut pusing.
"Kakak sudah selesai" terdengar ucapan sedikit keras di depan sana.
"Iya" Andra pun bangun dari baring nya, lalu menghampiri pintu untuk membuka nya.
Ceklek
"Eh kakak, astaga kakak demam" ucap Aisa, ia tadi melihat Andra yang terhuyung hampir saja jatuh, jadi ia reflek merangkul tubuh laki-laki itu.
Andra yang di peluk oleh gadis itu kembali merasa berdebar, wangi mint segar itu seketika kembali tercium membuat nya merasa tenang.
"Ayo, kakak berbaring saja" gadis itu memapah tubuh Andra menuju ranjang.
__ADS_1
Setelah menyelimuti tubuh Andra, gadis cantik itu segera keluar dari kamar, lalu kembali dengan membawa wadah kaca yang berisi air.
Entah apa yang gadis itu lakukan Andra tak terlalu perduli, kepala nya masih terasa panas, apalagi suhu kamar yang dingin.
"Tolong matikan AC nya" ujar Andra lirih.
"Astaga aku melupakannya" gadis itu segera menelan tombol asal, namun bukan nya mati, suhu kamar malah semakin dingin.
"Astaga shhh" Andra mendesis sambil merekatkan selimut pada tubuhnya.
"Kakak aku binggung cara mematikan AC ini" gadis itu menatap Andra dengan mata yang sudah hampir menangis, melihat Andra yang menggigil membuatnya semakin takut.
"Kakak tolong bangun sebentar dan matikan AC nya, sebentar saja" Andra mengangguk, dengan menahan rasa dingin yang merasuk ke tulang, ia pun menekan tombol of.
Lalu Andra kembali membaringkan tubuhnya dengan badan yang menggigil hebat, melihat itu membuat Aisa takut, gadis itu ikut berbaring di samping Andra, membawa Andra ke dalam pelukannya.
Dulu adik nya mengatakan jika pelukan nya dapat menghantarkan rasa hangat, maka dari itu setiap adik nya sakit, ia akan mendekat ke arah Aisa dan meminta kakak nya itu untuk terus memeluk nya sampai ia sembuh.
Andra yang berada di pelukan gadis kecil itu tak menolak, ia menaruh kedua tangan nya di pinggang kecil gadis itu lalu semakin masuk ke dalam pelukan gadis kecil ini.
Tangan gadis itu mengusap lembut lengan Andra yang terasa dingin seperti es batu, ia pun semakin mengeratkan pelukan.
Gadis itu tertawa geli, sudah seperti seorang ibu saja ya dia.
"Rasanya sangat berbeda tidak seperti memeluk Asta, apa mungkin karena dia laki-laki dewasa" ujar Aisa lalu ia mengusap lembut rambut Andra yang masih terasa basah.
"Kasihan sekali, pasti tidur dengan kondisi rambut basah membuat pusing" ucap gadis itu sambil mengeringkan rambut Andra menggunakan tangan nya yang terbebas.
__ADS_1
"Apa dia sudah makan" monolog gadis itu, Andra sepertinya sudah pulas, suhu tubuh hangat laki-laki itu juga terasa di kulit tubuh Aisa yang bersentuhan langsung dengan pinggang nya yang di peluk dengan erat.