
Dengan telaten Gracell menyuapi suaminya hingga bubur itu tandas tanpa sisa, Gracell mengambilkan minum dan obat. Hingga semua berpindah di perut suaminya.
"Sudah tidak apa-apa sekarang bisa bobo" Gracell tersenyum lalu berdiri untuk merapikan piring bekas Tama.
Tama menggenggam telapak tangan Gracell sambil menatap wanita itu dalam.
"Jangan pergi, mau di temani sama adek dan mama nya sekalian." ucap Tama sambil menatap penuh cinta pada perut istrinya. Gracell merasa terharu, lalu dia menurut dan berbaring di samping suaminya.
Gracell membuka kedua tangannya lalu Tama pun meringsek masuk ke dalam pelukan wanita itu.
"Pintu nya lupa belum di kunci, nanti kalau ada yang masuk gimana." tanya Gracell, tangannya mengusap lembut kepala Tama.
"Klik tanda merah di remote ini, nanti otomatis akan terkunci dari dalam." Gracell pun menurut dan benar setelah ada bunyi Gracell pun kembali mengusap rambut suaminya.
"Honey" panggil Tama lirih
"hm" Gracell menyahut singkat
"Aku mau begini terus, rasanya sakit dan capek setiap hari harus melihat mu menghindar." Gracell tersenyum sendu, setelah beberapa hari berbicara dengan Mora, pada akhirnya dia menurut dengan ucapan gadis itu, berusaha membuang ego dan membuka hati nya, meski sulit pada awalnya seperti yang sudah-sudah namun saat melihat betapa tulus laki-laki ini mencintai nya membuat nya luluh.
"Iya, sudah tidur lagi biar ngga pusing" Tama menggeleng dalam pelukan istrinya, membuat kerutan di dahi Gracell tercetak.
"Aku ngga mau tidur, mau menikmati pelukan ini secara sadar. Aku takut tidak bisa merasakan nya lagi nanti." Gracell yang mendengar itu merasa ada sesuatu di sudut hati nya yang tergores, mendengar ucapan suaminya membuat ia merasa bersalah.
"Maafkan aku" mata Gracell berkaca-kaca, usapan tangannya terhenti begitu saja. Merasa benar-benar tidak berguna selama ini, padahal laki-laki ini sangat baik padanya.
__ADS_1
"Kamu menangis sayang" Tama mendongak, dan benar saja wanitanya menangis.
"Hey, aku salah bicara ya. Maaf ya, sudah jangan menangis lagi." Tama mengusap air mata Gracell, mengecupi wajah wanita itu dengan sayang.
"Besok ada periksa kandungan kan, aku temani ya, ayo tidur kamu harus segera istirahat" Tama merengkuh tubuh istrinya, mengecup puncak kepala wanita itu.
"Tapi kan masih sakit, aku akan meminta di temani Shofia saja. Dia juga pasti mau." ucap Gracell mengusap lengan sang suami. Sungguh perlakuan nya akhir-akhir ini sangat berbeda dengan sikap nya kemarin yang selalu menolak suaminya.
"Aku akan tetap menemani sudah sekarang tidur ya"
"Oke" Gracell memeluk tubuh suaminya, di balas pelukan yang sama oleh laki-laki itu, sekarang bolehkan dia berharap cinta nya akan bersambut, bolehkan dia kembali mengejar cinta istrinya.
***
Sementara itu di tempat lain, Mora yang sedang duduk di meja makan tampak tidak berselera, padahal menu ini yang dia minta pada bibi sore tadi. Namun entah kenapa nafsu makan nya menghilang begitu saja. Kalau di paksa makan malah mual di perut.
Mora mendongak saat melihat suaminya yang mengusap wajahnya mengunakan tisu, laki-laki itu tampak telaten dengan pekerjaan nya.
"Gara-gara habis makan pedes, jadi keringetan terus." Karel berujar dan merapikan anak rambut istrinya yang sedikit berantakan.
"Ini juga kenapa makan nya ngga di makan sih by" Karel menatap makanan di piring yang masih utuh, istrinya itu sama sekali tak memakan nya, jangan kan memakan menyentuh saja tidak.
"Mendadak aku jadi malas" ucap Mora dengan lesu.
"Buka mulutnya biar aku suapi" Mora sebenarnya engan, namun karena menghargai perhatian suaminya dia pun mulai membuka mulut.
__ADS_1
"Huek" Mora langsung berlari ke arah kamar mandi, perut nya benar-benar seperti di aduk saat mencium aroma soto tadi. Benar-benar bau nya membuat nya tak kuat.
Karel yang melihat itu menyusul dengan wajah panik, Mora terus memuntahkan apapun yang mengganjal di perutnya meski tak ada yang keluar. Tapi dia belum lega jika belum muntah.
"Sudah nanti membuat tenggorokan mu sakit, kita ke rumah sakit aja ya. Seperti nya asam lambung kamu kumat." ucap Karel lalu mengendong tubuh istrinya dengan cepat.
"Aku ngga punya asam lambung by" sahut Mora dengan ketus, enak saja Karel berbicara seperti itu.
"Kalau telat makan bisa aja menjadi pemicu, tadi siang udah aku bilang makan malah apa. Lebih milih makan bakso yang cabe nya semangkuk itu." omel Karel dengan raut wajah panik, ia meminta salah satu pengawal yang selalu berjaga di depan untuk menyiapkan mobil dan menyetir ke rumah sakit.
"Habis kan ngiler aku lihat nya"
"Sampai benar kamu kenapa-napa, aku ngga bakal izinin makan pedes. Titik" Mora menghela nafas, perut nya masih terasa tak enak dan mual.
Di sepanjang jalan Karel sama sekali tak membuka mulut, hanya tangannya yang bekerja untuk mengusap perut sang istri.
"Bisa lebih cepat tidak" Karel berusaha meredam emosi saat melihat mobil yang berjalan lambat, padahal jika di lihat mobil itu melaju di ambang batas rata-rata. Namun karena panik tentu saja Karel ingin cepat sampai.
Saat sampai rumah sakit, Karel segera mengangkat tubuh istrinya, pengawal membuka pintu belakang, mengikuti tuan nya yang berlari ke arah dalam rumah sakit dengan wajah cemas.
"Tolong periksa istri saya" Karel langsung menaruh istrinya di atas brankar, lalu keluar tanpa di minta, dia tidak boleh menganggu kinerja dokter, begitu kan prosedur nya.
Yang dia butuhkan saat ini adalah tetap tenang, dia tidak boleh emosi meski sedang merasa panik dan takut.
10 menit pemeriksaan pintu terbuka, Karel di persilahkan untuk masuk, padahal sebenarnya tadi jika laki-laki itu mau menunggu di dalam ruangan tidak akan ada yang melarang.
__ADS_1
Toh semua orang juga tau, jika Karel adalah salah satu tuan muda terkaya yang ada di negeri ini, tentu saja mereka akan memberikan pelayanan yang baik. Apalagi laki-laki itu juga memiliki saham besar di rumah sakit ini.