IVAMORA

IVAMORA
Menjenguk Sam


__ADS_3

"Bagaimana hidup di Rusia, enak ?"


"Enak, rasanya sampai tidak mau pulang"


Mora yang mendengar itu langsung mengeplak lengan Alettha, gadis itu menarik sudut bibir nya.


"Di sembelih papa kamu kalau ngga pulang"


"Mana tega nyembelih anak nya yang cantik ini"


"Dih" Mora memutar bola matanya malas, gadis itu kembali menyuap rujak yang baru saja mereka buat. Yah sebenarnya karena Mora yang tiba tiba menginginkannya.


"Ma" tiba-tiba terdengar suara anak kecil, berlari kecil menuju Mora.


"Eh bayi cilik aunty cini cayank🄰" Alettha langsung berjongkok di depan anak kecil yang menatap aneh padanya itu dengan antusias.


"Udah gede ini, kenapa selalu kamu bilang bayi cilik." tentu saja sebagai ibu yang baik, dia mempermasalahkan julukan yang Alettha berikan pada putra tampan nya.


"Bagiku dia akan terus menjadi bayi cilik"


Liam, anak dari Mora dan Karel yang berusia 4 tahun, namun selalu saja Alettha memanggilnya bayi cilik, mungkin karena gadis muda itu melewatkan pertumbuhan keponakan nya.


"ma.." Liam menatap takut takut pada Alettha, anak kecil itu berlindung di tubuh mama nya. Hal itu membuat Mora tertawa keras.


"Sudahlah jangan dekat dekat, dia takut dengan mu Al."


"Apasih, dia cuma belum terlalu dekat dengan ku" Alettha masih kekeh berusaha merebut keponakan lucu nya, tapi hal itu malah membuat anak kecil itu menangis kencang. Mora langsung saja mengamankan anak nya.


"Sudah sudah dia takut dengan mu Ale"


"Tapi.."


Tak mendengar apa yang adiknya ucapkan, Mora segera mengendong liam yang masih menangis ke kamar, pria kecil itu harus segera tidur agar tidak rewel lagi.


"Ish, aku ingin mencubit pipi nya kak" Alettha sampai berteriak, namun sama sekali tak menghentikan langkah kakak nya. Seketika bibirnya langsung manyun.


"Apa wajah ku se menyeramkan itu ya" Alettha melihat wajahnya di pantulan layar hp. Namun tidak ada permasalahan serius pada wajah nya. Dia cantik dan dia akui itu.


"Mungkin karena aku terlalu lama di Rusia"

__ADS_1


.


.


"Pa" panggil Alettha saat melihat papa nya memasuki rumah, papa nya itu terlihat kelelahan.


"Hai sayang"


"Papa dari kantor ?"


"Tidak, buat apa papa ke kantor sampai se malam ini." jawab papa Abi dengan bibir tersenyum tipis. Benar juga pikir Alettha. Mana mungkin papa nya bersusah payah ke kantor, kan uang nya sudah banyak.


"Trus papa dari mana ?"


"Tadi papa lihat Sam" papa Abi duduk di kursi sofa samping putrinya.


"Sam ?" Alettha mengangkat kedua alisnya


"Iya, asisten papa waktu itu, kamu masih inget kan ?" papa Abi menoleh, menatap pada putri nya.


"Iya lah Alettha inget, emang dia di mana pa ?"


"Serius ?" gadis itu masih tampak tak percaya, dia bahkan meletakkan hp nya dan memusatkan perhatian nya pada sang papa. Shock dikit.


"Papa tidak mungkin berbohong sayang"


"Astaga kasihan sekali, Ale mau lihat juga besok"


"Boleh, kebetulan besok papa mau jenguk dia lagi" Alettha mengangguk, dulu sebelum berangkat ke Rusia, dia cukup dekat dengan Sam, walau pria itu adalah asisten papa nya, namun umur mereka yang tak berbeda jauh membuat mereka dekat.


"Yaudah, Ara mau ke kamar dulu ya pa"


"Iya, good night sweetie"


Pagi hari nya, papa Abi dan Alettha menuju ke rumah sakit, pada saat itu mereka berhenti karena terkena lampu merah, Alettha menumpang dagu nya di pinggir kaca mobil, sambil melihat kendaraan lain. Alettha melihat anak kecil cantik yang sedang memakan es cream, hal itu membuat Alettha tersenyum tipis.


"Astaga, lucu sekali dia". Alettha menegakkan tubuh nya, mata nya tak lepas memperhatikan gadis cantik itu dari dalam mobil, seperti nya anak itu berusia sekitar 5 tahun.


Hingga akhirnya lampu berubah menjadi hijau dan mobil kembali berjalan, di sepanjang jalan alettha terus melamun, hal itu membuat papa Abi bertanya tanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ale"


"Hah ?" Alettha bertanya dengan bingung, tadi dia tidak terlalu mendengar jelas pertanyaan papa nya.


"Kamu kenapa ? bengong terus sedari tadi"


"Oh ngga kok pa, ini cuma lihat lihat aja, ternyata Indonesia masih tetep sama, ngga banyak berubah."


"Kamu terlalu lama pergi ale" Alettha hanya tersenyum saja menanggapi nya.


10 menit kemudian, mobil memasuki sebuah rumah sakit besar di kota itu, Alettha dan papa Abi turun bersama, dan memasuki rumah sakit itu bersama.


Ceklek..


"Sam.." papa Abi langsung duduk di kursi sofa, di mana di sana ada Sam yang sedang duduk bersama istri nya.


"Tuan datang lagi"


"Kamu mengusir ku ya"


"Tidak, tapi saya tidak enak, tuan selalu repot repot menjenguk saya"


"Tidak repot sebenarnya, ini juga yang minta Ale, dia yang ingin menjenguk mu." ucap papa Abi.


"Benar Sam, aku kaget waktu dengar kamu sakit, memang nya kamu sakit apa."


"Jantung saya lemah nona, ini saja buat nafas sudah susah." ucap Sam sedih, istrinya juga sama, wanita itu tampak menggenggam telapak tangan Sam.


"Oh ya, terimakasih nona Ale sudah mau menjenguk saya."


"Santai saja Sam, kamu sudah ku anggap teman sendiri" Alettha tersenyum kalem, gadis itu mengobrol banyak dengan istri samudra, sedangkan samudra sendiri sudah harus tidur kembali agar tidak membuat sakit nya kambuh.


"Nak, papa keluar dulu ya, mau menghampiri teman"


"Oh iya pa, nanti Ale menyusul" papa Abi pergi, dan Alettha kembali melanjutkan mengobrol.


Tepat pukul 1 siang, Alettha pamit untuk pulang, gadis itu berjalan di koridor rumah sakit sambil menghubungi papa nya. Namun pesan singkat dari papa nya membuat Alettha menghela nafas.


Karena ternyata papa Abi ada urusan lain sehingga harus pulang terlebih dahulu, papa Abi juga mengatakan sudah meminta supir untuk menjemput nya.

__ADS_1


"hiks.." Alettha tertegun dia seperti mendengar suara anak kecil menangis, gadis itu pun menoleh ke kanan dan kiri mencari dimana asal suara itu.


__ADS_2