
Terhitung sudah hampir dua minggu Mora berada di rumah sang nenek, nenek nya kini sudah kembali sehat dan bisa beraktifitas seperti sedia kala, namun wanita renta itu harus tetap menjaga pola makannya dan tidak boleh terlalu lelah.
Mama dan papa nya sudah pulang sejak satu minggu yang lalu karena tuntutan pekerjaan, sehingga di rumah sang nenek hanya ada Mora dan para pembantu yang menjaga.
Karel juga menginap di rumah itu namun hanya 5 hari, karena laki-laki itu harus bekerja dan mengurusi beberapa projek di luar kota maupun luar negeri.
Drttt, suara telfon di samping Mora berdering, saat ini gadis itu sedang bersantai di taman yang sejuk sendirian, ia melirik nama sang pemanggil yang ternyata adalah Karel. Mora pun segera menjawab panggilan itu.
"Halo"
"Sampai kapan kamu akan mengambil cuti, kamu harus segera masuk, karena pekerjaan sudah sangat menumpuk." sahut suara di sebrang sana.
"Besok aku pulang" sahut Mora setelah menghela nafas, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan nenek nya, apalagi hanya di bawah pengawasan pembantu.
"Kamu naik apa ?" tanya Karel kembali.
"Aku akan meminta supir untuk datang" sahut Mora.
"Saat ini aku sedang berada di dekat Bandung, mau aku jemput saja sekalian ?" tanya suara di sebrang sana, Mora terdiam sambil berfikir.
"Tapi aku belum bersiap, tidak usah aku akan pulang besok" sahut Mora, ia berniat mengajak sang nenek untuk ikut dengan nya di Jakarta, itu pun kalau nenek nya bersedia, meninggalkan nenek dengan kondisi yang sering sakit di kota ini sendirian membuat nya tak tega.
"Ya sudah, pokok nya jangan cuti lama-lama. karena aku berniat mengajakmu untuk mengurus pekerjaan di luar"
Tut, handphone Mora mati sebelum menjawab ucapan Karel, gadis itu melihat nenek nya berjalan tertatih ke arahnya, Mora segera berdiri untuk membantu nenek nya itu.
"Nek" Mora memegang lengan nenek nya dan membawa nenek nya itu untuk duduk.
"Kamu tidak pulang sayang ?" tanya nenek nya sambil mengusap punggung tangan Mora.
__ADS_1
"Besok Mora pulang nek" sahut Mora dengan raut wajah lesu. Hal itu membuat nenek nya tersenyum.
"Iya, kamu harus bekerja kan. Tidak mungkin kan menjaga nenek terus"
"Em nenek ikut Mora ya ke Jakarta, tadi Mora udah bilang ke papa katanya ngga papa. Daripada nenek sendiri di sini mending ikut Mora pulang" Mora berusaha membujuk nenek nya, gadis itu menatap sayang ke arah nenek nya.
Nenek nya itu tersenyum sambil menatap lurus ke depan sana, di mana terlihat rumput hias hijau membentang luas dengan beberapa tumbuhan.
"Nenek lebih sayang di sini, banyak kenangan nenek di sini sayang"
"Mora tau nek, nanti kita bisa berlibur lagi kesini jika ada waktu luang, Mora cuma ngga mau nenek kenapa-kenapa" sahut Mora dengan wajah memelas, bagaimanapun dia harus berhasil membujuk nenek nya agar mau ikut dengannya.
Wajah nenek nya berubah murung, Mora menggenggam tangan keriput nenek nya, lalu menciuminya.
"Mau ya nek, demi Mora"
"Huh, yasudah lah nenek akan ikut" seketika senyum Mora mengembang, gadis itu merangkul bahu nenek nya, lalu memeluk nenek nya dari samping.
"Mora, kalau nenek pergi rumah ini bagaimana ? lalu bagaimana nasib pekerja di rumah ini"
"Rumah ini nanti biar di urus salah satu bibi aja nek, nanti biar di kasih uang per bulan nya, terus bibi yang lain nanti ikut aja ke Jakarta kalau mau" pembantu di rumah ini hanya ada 3 di tambah 1 sebagai tukang kebun, niat Mora dia akan mempercayakan rumah ini kepada salah satunya.
"Begitu ?" tanya nenek Mora, wajah nya masih terlihat ragu.
"Pokok nya nenek ngga usah khawatir, semuanya pasti akan teratasi" ucap Mora dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
***
Malam harinya setelah memastikan barang milik nya dan barang milik nenek telah siap, Mora memilih untuk turun dan bersantai, gadis itu membuat coklat panas untuk menemani nya bersantai.
__ADS_1
Sebelum di hadapkan dengan pekerjaan yang mungkin saja sudah menumpuk di kantor, dia ingin merilekskan tubuhnya dengan bersantai.
Tadi dia meminta nenek untuk segera minum obat dan tidur, agar wanita renta itu tak capek saat berada di dalam mobil besok.
Mora juga sudah meminta supir untuk menjemput nya ke Bandung besok, gadis itu kini duduk di meja ruang tamu dengan coklat panas yang masih terlihat mengepul, mata nya melihat ke arah laptop lama nya yang dia simpan di rumah nenek.
Mora sedang menonton film action dengan atensi penuh, meski dia perempuan, dia sangat suka melihat film mengerikan seperti itu, baginya hal itu seperti meningkatkan andrenalin nya.
Sesekali tangannya mengambil coklat panas dan menyesapnya tanpa meniup nya lebih dulu. Padahal coklat itu masih panas karena baru beberapa menit di buat.
"Non Mora tidak tidur ?" Mora terkejut dengan suara itu, gadis itu tanpa sengaja menumpahkan sedikit coklat panas sehingga mengenai tangan nya.
"Aw" sahut Mora sambil meniup telapak tangannya.
"Aduh maaf non" ucap bibi mendekat.
"Ngga papa bi, ngga sakit kok, lagian coklat nya juga ngga panas-panas banget" sahut Mora sambil tersenyum.
"Maaf non, bibi ngga sengaja"
"Iya Bi, oh ya bibi udah selesai bersiap ?" tanya Mora, karena besok wanita itu akan ikut dengannya ke Jakarta.
"Udah non"
"Ya udah bibi istirahat saja, saya juga sebentar lagi naik ke kamar"
"Baik, selamat malam non Mora"
"Malam" ucap Mora sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah menghabiskan coklat panas, Mora pun naik ke kamar sambil membawa laptop nya, gadis itu meletakkan laptop nya ke atas nakas, lalu mulai menaiki ranjang.
"Hoam" Mora menarik selimut lalu mulai memejamkan mata nya.