IVAMORA

IVAMORA
Tidak Mampu Menjaga Diri


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Karel harus pergi, karena ada permasalahan yang cukup besar di cabang luar kota yang mengharuskannya untuk menangani, pagi itu ia masih melihat Mora yang tertidur dengan lelap, ia ingin sekali berbicara dengan gadisnya itu, tapi di satu sisi ia merasa tak tega.


Karel pun mengurungkan niat nya, lelaki itu turun dan memanggil pa Bai.


"Tolong jaga nona, saya akan pergi untuk beberapa hari ke depan." ucap Karel.


"Baik tuan, tetapi jika nona meminta pulang bagaimana ?" tanya pa Bai.


"Suruh salah satu supir untuk mengantarnya"


"Baik tuan"


"Saya pergi dulu" Karel segera berlalu dari tempat itu, vano sudah menunggu di halaman sambil berdiri di samping mobil, melihat tuan nya yang sudah datang, vano pun membukakan pintu.


Di sepanjang jalan Karel hanya fokus dengan gadget nya, lelaki itu sedang melihat Mora yang tertidur di kamarnya menggunakan cctv yang ia pasang di kamar nya.


Deg


Tubuh Karel menegang saat melihat Mora kini sudah terbangun dari tidurnya, apalagi tak lama dari itu gadis itu kembali menangis sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Tubuh Karel terasa lemas, lelaki itu benar-benar tak bisa melihat Mora seperti itu.


"Kita kembali saja" ucap Karel lirih, ia menatap handphone nya dengan sedih.


"Apa tuan ?" tanya vano, ia takut salah mendengar ucapan barusan.


"Aku tak suka mengulang perkataan ku"

__ADS_1


"Apa anda yakin, lalu bagaimana dengan cabang luar?" seru vano mengingatkan kembali.


"Kamu saja yang mengurusnya" seru Karel.


"Saya tidak bisa se lancang itu tuan, saya takut salah, karena ini bukan lagi permasalahan kecil." seru vano.


"Meski yang di serang cabang, tapi tetap saja ini tidak bisa di anggap remeh." seru vano, bukannya lancang, ia hanya tak ingin masalah ini di biarkan berlarut-larut.


"Tapi jika anda memang ingin kembali, maka saya akan memutar arah kembali." ucap vano.


"Teruskan saja" vano pun menghela nafas, lelaki itu tak jadi berputar arah, dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Karel mengambil handphone nya, ia mencoba untuk menghubungi Mora, namun Mora sama sekali tak mengangkatnya, Karel jadi panik karena tadi Mora pergi dari kamar.


laki-laki itu pun menghubungi pa Bai, lelaki paru baya itu mengatakan jika Mora memaksa untuk pulang, lebih parahnya lagi gadis itu memilih pulang sendiri tanpa mau di antar oleh supir.


Vano yang melihat dari spion depan tampak merasa kasihan pada tuan nya, selama dia bekerja bersama Karel, ia sama sekali tak pernah melihat tuan nya se kacau itu. Melihat tuan nya sekarang kacau hanya karena seorang gadis membuat vano yakin jika tuan nya itu memang benar-benar sudah jatuh cinta.


"Sudah sampai tuan" seru vano


Mereka berdua turun, wajah Karel tampak dingin, vano tau jika tuan nya saat ini dalam suasana hati yang buruk.


"Kita akan segera menyelesaikan ini tuan, dan segera kembali ke kota" seru vano, Karel tak menyahut, lelaki itu berjalan meninggalkan vano sendiri.


Vano menghela nafas, lalu mengikuti tuan nya yang sudah berjalan terlebih dahulu, saat masuk ke dalam perusahaan banyak yang syok melihat tuan muda mereka sudah berjalan, mereka pun menunduk dan menyapa Karel.

__ADS_1


"Pagi tuan Karel, maaf karena tidak menyambut kedatangan anda. Saya pikir anda akan datang beberapa jam lagi." sahut manager sambil menunduk kan wajahnya.


"Dasar ceroboh, kinerja mu buruk sekali. Seharusnya perusahaan tidak mempertahankan karyawan buruk sepertimu." seru Karel, manager itu sampai melongo karena baru kali ini Karel berbicara sepanjang ini. Ia bahkan tidak menyadari bahwa posisi nya dalam kantor ini sedang terancam.


"Em maaf tuan, sekali lagi saya minta maaf" Karel pun melenggang pergi begitu saja. Tanpa mau menjawab ucapan bawahannya. Vano yang melihat itu hanya menghela nafas.


"Jangan ada yang mengganggunya dulu" seru vano pada semua karyawan yang ada di lobi itu. Lalu ia pun ikut pergi untuk menyusul Karel.


"Urus segera pekerjaanmu, aku tak mau berinteraksi dengan siapapun selain dengan mu." seru Karel, laki-laki itu tampak fokus pada komputer di depannya tanpa menatap vano yang kini berdiri di depan pintu.


"Baiklah, saya yang akan menjadi perantara untuk tuan, apa tuan menginginkan sesuatu, saya akan meminta seseorang untuk mendapatkannya." tanya vano.


"Tidak ada"


Sementara itu di mansion besar Abiyasa, lebih tepatnya di kamar salah satu putri Abiyasa, tampak Mora menangis dengan sesenggukan, gadis itu merasa ingin menangis untuk melegakan hatinya.


"Hiks, kenapa dia pergi. Apa dia menjauhi ku hiks" Mora terus saja terisak, dia terus saja berfikiran buruk karena Karel meninggalkannya begitu saja tanpa pamit.


"Harusnya aku sadar, bahwa dia pasti membenci ku, aku benar-benar gagal menjaga diri hiks" gadis itu memukul bantal yang dia peluk, kembali menangis sambil menyembunyikan wajahnya.


Setelah beberapa menit, Mora pun bisa kembali tenang, gadis itu menghapus air mata nya dengan kasar. Lalu kembali tertidur terlentang di kamar nya.


"Aku harus kuat, ngga boleh nangis. kalau dia pergi aku harus bisa. Memang siapa yang tidak kecewa jika melihat kekasihnya hampir di lecehkan oleh orang lain" seru Mora dengan mata berkaca-kaca.


Gadis itu berjalan dengan lunglai ke arah kamar mandi, hidupnya berakhir suram mulai saat ini.

__ADS_1


Sepanjang hari Mora hanya mengurung diri, seolah tak punya antusias lagi untuk menjalani hari, gadis itu hanya keluar untuk makan lalu kembali tidur di kamar. Tapi hari ke hari Mora tak lagi kepikiran dengan masalah nya, ia sudah tak lagi peduli. Bahkan gadis itu sudah tak mau menangis apalagi menyesali keadaan yang menimpanya. Ia benar-benar sudah pasrah sekarang.


__ADS_2