
Alettha terus berjalan tanpa arah, hingga sampai di dapur gadis itu pun berhenti dan diam seperti orang linglung.
"Non" bibi yang ada di dapur nampak menghampiri Alettha yang bengong itu.
"Eh iya bi" Alettha tersadar, dan menatap wanita paru baya di depan nya. Gadis itu benar benar unik karena tak menyadari keberadaan nya di mana.
"Nona mau apa kemari, mau di buatin sesuatu." Alettha memperhatikan sekeliling, ruangan yang terlihat seperti dapur itu. Lalu gadis itu menoleh, mendapatkan Alex yang menatap smirk padanya. Seketika Alettha cemberut, memang keberadaan dapur tak jauh dari ruang makan. Sehingga Alex masih dapat melihat nya.
"Ngga jadi bi, tadinya mau cuci tangan" seru Alettha mencari alasan.
"Cuci tangan ? maaf non bukannya makan nya menggunakan sendok."
SKAK..
Alettha hanya dapat tersenyum canggung, merasa sedikit malu, apakah dia tidak pandai dalam hal berbohong.
Gadis itu pun berbalik dan dapat ia lihat wajah Alex yang sangat menyebalkan, dia tau bahwa lelaki itu sedang mengejek nya.
"Udah ngga usah ngambek, aku tinggal bentar" Alex berdiri dan berjalan ke arah sebuah ruangan entah ruangan apa. Alettha duduk dengan wajah yang di tekuk.
Tiba-tiba terdengar deringan suara handphone, membuat gadis itu mencari di manakah suara benda itu, sampai Alettha melihat sebuah hp tergeletak di kursi makan. Dan menyala menampilkan sebuah nama sang pemanggil.
"Kakak" mata Alettha langsung berbinar saat melihat nama sang pemanggil adalah kakak nya, dia langsung saja mengangkat panggilan itu.
"Kak, tolong Ale kak, Ale di culik sama Alex. Hp Ale di sembunyikan, Ale mau keluar dari sini kak, tolong Ale." Alettha langsung berbicara panjang, dia takut ketahuan sebelum meminta tolong kakak nya.
__ADS_1
"Jadi bener Alex yang udah bawa kamu ?" terdengar suara panik di sana, setelah itu terdengar teriakan keras memanggil nama Karel, Ale menjauhkan hp itu dari telinga nya.
"Ale ini kakak, bisa kamu share lokasi nya sekarang"
"Kak Karel, iya Ale share sekarang ya" Alettha berbicara dengan nada lirih, sambil mengamati pintu ruangan yang Alex masuki, takut jika tiba tiba lelaki itu muncul.
Setelah panggilan itu terputus, Alettha segera saja mengirim lokasi nya pada kakak nya. Namun gadis itu mengernyitkan dahi saat usaha nya selalu gagal, pesan itu selalu gagal terkirim dan juga lokasi itu hanya berisikan peta kosong.
"Percuma, Karel dan Mora tak akan dapat mendeteksi lokasi itu."
deg..
Alettha menoleh, wajah Alex sudah terlihat dingin dan menyeramkan. lelaki itu tersenyum sinis mengejek nya. Seketika badan Alettha langsung lemas.
"Tak akan ada yang bisa mendeteksi keberadaan mansion ku, dan tak akan ada yang bisa mengobrak abrik kekuasaan ku. Kamu harus tau itu baby girl." Alex sudah berada di depan Alettha, jarak mereka begitu dekat, Alex merengkuh pinggang Alettha.
"Lancang.."
"Alex aku minta maaf, tadi aku hanya" mata Alettha membulat saat merasakan benda kenyal menutup bibir nya, Alettha meremat kemeja Alex. Tubuh nya langsung lunglai bak jeli. Alex menahan tubuh gadis itu hanya dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang satunya menahan tengkuk Alettha.
Alex mencium Alettha dalam waktu yang lama, bahkan dia tak peduli dengan nafas gadis itu yang sudah putus putus, dia benar benar ingin memberikan hukuman untuk gadis nakal ini.
Alex melepaskan ciuman nya, namun kembali mencium bibir gadis itu, Alettha hanya pasrah, dia memeluk pinggang Alex karena merasa tak kuat untuk berdiri lagi.
Lelaki itu langsung mengendong Alettha, dan berjalan menuju lift. Di depan lift dia bertemu dengan dua pengawal nya.
__ADS_1
"Sebarkan berita kematian nya, aku ingin besok sudah mendengar kabar nya." ujar Alex dengan dingin, Alettha menatap wajah lelaki itu dalam diam, wajah yang masih terlihat memendam amarah.
"Baik tuan" para pengawal mengangguk patuh, Alex masuk ke dalam lift masih dengan tak memandang wajah gadisnya.
Sepertinya kali ini Alex benar benar marah, lelaki itu sama sekali tak menatap nya sedari tadi, bahkan terus diam dengan wajah menyeramkan. Ingin sekali Alettha kabur dan lari, tapi dia masih cukup sadar jika dia melakukan hal itu akan membuat lelaki ini semakin marah. Namun dia juga takut jika lelaki ini menyakiti nya nanti.
Bruk..
"Lex.." Alettha menahan sakit saat di jatuhkan dengan paksa ke atas ranjang, Alex kembali mengunci tubuh nya, dan mencium bibir nya dengan rakus, kini lelaki itu bak singa kelaparan yang siap mencabik cabik tubuh nya.
"Lex kamu ngga bisa kaya gini, aku melakukan hal yang wajar. Aku hanya ingin bebas." Alettha memberanikan diri mengajukan protes, meski dengan suara yang bergetar. Di depan lelaki ini dia menjadi sangat lemah. Itu semua karena dia tau bagaimana gila nya lelaki ini. Hal itu membuat Alettha takut.
"Tak akan ada kata bebas untuk mu, sebelum kita menikah aku tak akan membebaskan mu. Dan jangan kamu pikir aku tak tau niat mu untuk meninggalkan ku Alettha." wajah gadis itu langsung pias, niat ? Alex tau niat nya. Niat yang mana, apakah niat nya untuk ikut dengan arka ke Rusia.
"Niat apa ? Aku sama sekali tak mengerti" Alettha masih berusaha menyembunyikan dan berpura pura seolah tak tau apa apa.
"JANGAN BOHONG"
"Akh.." Alettha memejamkan mata kuat, dia kaget saat Alex berteriak keras dan memukul bantal tepat di samping wajah nya. Seolah lelaki itu sedang memukul nya.
"Alex.." suara Alettha bergetar, lalu air mata nya pun keluar, bukan air mata bohongan. Yang ini air mata sungguhan. Setiap ia merasakan ketakutan yang berlebihan dia akan langsung menangis.
Mata lelaki itu memerah, menunjukkan kemarahan yang tak kunjung surut. Dia kembali mencium Alettha paksa. Tak memperdulikan sama sekali tangisan gadis itu.
CTAR..
__ADS_1
Ciuman itu terhenti saat terdengar suara keras dari jendela, jendela kaca itu sudah pecah dan berhamburan di lantai. Dan terlihat batu besar yang tergeletak di atas lantai. Batu yang sengaja di gunakan seseorang untuk memecahkan jendela mahal itu.