IVAMORA

IVAMORA
Kedatangan Gracella


__ADS_3

Pagi harinya, ketika Mora baru saja ingin memulai pekerjaan nya, Diana mendatanginya, wanita itu duduk di hadapan Mora.


"Mora kemarin laporannya sudah di berikan ke tuan Karel ?" tanya wanita itu.


"Sudah mba, katanya sih mau di periksa dulu, semoga saja tidak ada kesalahan" jawab Mora sambil tersenyum.


"Oh ya sudah nanti saya konfirmasi dulu sama tuan, oh ya ini berkas tolong kamu susun ya urutannya" Mora mengangguk, menerima berkas yang di sodorkan Diana.


"Oh ya mba, kalau mba Diana mau ketemu tuan Karel, bisa tidak saya menitipkan laporan ini" Mora membuka laci, lalu mengambil laporan yang kemarin dia buat.


"Laporan pemasaran ?, kok bisa ada di kamu ?" tanya Diana dengan heran.


"Kemarin laporan nya salah mba, tuan menyuruh saya untuk merevisi ulang" sebenarnya Diana masih bingung, namun wanita itu tak mempermasalahkan nya lagi.


"Ya sudah, tolong kamu kerjakan ya tugas yang saya kasih, nanti siang saya akan mengambil nya lagi."


"Baik mba" jawab Mora sambil memberikan anggukan sekaligus senyum tipis.


Diana berjalan ke ruangan tuan nya, sambil membawa beberapa kertas, wanita itu mengetuk pintu menunggu sahutan dari dalam, setelah di persilahkan masuk, Diana pun membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam.


"Permisi tuan, saya akan membacakan jadwal kita hari ini sampai dua hari kedepan"


"sebelumnya saya ingin memberikan titipan dari asisten saya Mora, tuan meminta nya untuk membuat laporan pemasaran bukan ?"


"HM" jawab Karel, Diana menaruh laporan itu di hadapan tuan nya, lalu mulai membacakan serentetan kegiatan yang harus tuannya kunjungi sampai dua hari kedepan.


"Oke, persiapkan semua bahannya, dan kamu boleh pergi" jawab Karel.


"Baik tuan, sebelum saya pergi, saya ingin bertanya. Apakah laporan yang kemarin asisten saya buat sudah benar ?" tanya Diana memastikan.


"Sudah benar, kamu mendapatkan asisten yang cukup cerdas" Diana tersenyum di sana, tentu saja, dari awal dia sudah tidak ragu dengan kemampuan Mora, gadis itu memang cerdas.


"Baiklah jika begitu saya permisi tuan" Karel menjawab dengan anggukan. Diana pun pergi dari ruangan itu.


Mora menata kembali meja nya, ketika jam menunjukkan waktu istirahat. Gadis itu sudah selesai menyusun berkas penting yang Diana berikan, tinggal memberikannya pada Diana maka Mora bisa keluar untuk mencari makan siang.


"Hai Mora" pintu ruangan Mora terbuka menampilkan gadis cantik yang kini berjalan ke arahnya, Sofia duduk di hadapan Mora sambil menunjukkan senyum nya.

__ADS_1


"Halo Sofia" balas Mora


"Ayo ke kantin bersama" ajak Sofia


"Em, temani aku dulu mengantarkan berkas ini ke mba Diana" jawab Mora sambil menunjukkan berkas di atas meja.


"Oh oke" mereka pun berjalan bersama, keluar dari ruangan Mora, di pertengahan jalan mereka bertemu dengan Diana yang sedang berbincang dengan seseorang di kursi tunggu.


"Sepertinya mba Diana sedang ada tamu, lebih baik taruh berkas itu ke meja nya" ujar Sofia saat melihat Diana yang sedang serius bercengkrama dengan seseorang.


"Lagipula ini waktu istirahat, aku yakin mereka akan segera selesai berbincang" lanjut gadis itu, Mora mengangguk, mereka kembali berjalan ke ruangan Diana, Mora menaruh berkas itu di bawah tumpukan map merah, lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.


Sampai di kantin, Sofia mengajak Mora berbicara dengan antusias, gadis itu menjelaskan tentang aneka rasa makanan di kantin itu, memberitahu Mora mana makanan enak dan makanan pedas, bahkan gadis itu juga memberitahu makanan favoritnya.


Saat mereka sedang asik bercengkrama tiba-tiba ada yang menghampiri meja mereka.


"Ehm" terdengar deheman dari seseorang, Mora menoleh, gadis itu mengernyitkan dahi nya saat melihat laki-laki yang dia kenal berdiri di samping nya, asisten Karel.


"Maaf nona Mora menganggu waktu istirahat anda, kedatangan saya kemari karena saya ingin mengambil laporan milik Diana yang katanya sedang berada di anda" ucap lelaki itu dengan ekspresi wajah datar.


"Bisa tolong ambilkan laporan nya sekarang nona ?"


"Em bisa mari"


"Tunggu Mora, makanan mu masih banyak, bahkan kamu baru makan beberapa suap" Sofia mencegah Mora, bagaimanapun Mora baru makan tiga suap nasi.


"Tidak apa-apa Sofia aku masih kenyang, mari tuan" Mora dan asisten Karel berjalan beriringan menuju ruangan Diana. Saat sampai di tempat itu, Mora di buat heran, karena berkas serta map yang tadi berantakan di meja Diana kini hilang, hanya meninggalkan buku catatan milik seniornya.


"astaga di mana berkas tadi" gumam Mora pelan, gadis itu mecari berkas itu di laci, namun tak menemukannya, Mora jadi panik, gadis itu mondar mandir.


"Ada masalah nona ?"


"Em, berkas tadi saya taruh di sini tuan, tapi sekarang entah kemana berkas itu. Apa mungkin sudah di bawa mba Diana ya" Mora menggigit jari nya karena panik.


"Itu tidak mungkin nona, karena nona Diana sendiri mendapat kan tugas di luar dari tuan" Mora semakin panik mendengarnya, gadis itu segera saja berlalu pergi menuju ruangan Karel.


Bahkan karena terlalu panik, Mora tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung saja masuk ke dalam ruangan Karel, saat berada di dalam Mora merasa menyesal dan menjadi orang bodoh.

__ADS_1


Gadis itu menatap pemandangan di hadapannya dengan raut wajah kesal bercampur dengan shock, bagaimana tidak kini bos nya sedang berada di ruangan yang sama bersama wanita, yang ahgg... sudahlah Mora jelas pernah bertemu dengan wanita itu meski hanya sekali dia tidak akan pernah lupa.


Mora menatap bos nya yang terlihat marah, wajah lelaki itu memerah dengan tangan yang terkepal menunjukan otot-otot nya yang err seksi. Mora menggelengkan kepala nya sepertinya bos nya sedang membutuhkan bantuan.


Mora tersenyum misterius, sudah lama sekali dia tidak bermain drama. Rasanya Mora ingin melatih skil nya kembali.


"Honey" Mora berjalan dengan anggun ke arah Karel, gadis itu melirik sekilas ke arah Gracella yang duduk di meja di hadapan Karel. Mora berdiri di belakang kursi Karel lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Karel.


"Honey dia siapa ?" ucap Mora dengan suara yang di buat se mengemaskan mungkin. mata gadis itu menatap sinis ke arah wanita di depannya yang menunjukkan wajah marah, em tapi tentu saja Mora tidak peduli.


"Karel apa ini, siapa perempuan di belakangmu kenapa dia memanggilmu dengan sebutan itu." tanya Gracella dengan marah, wanita itu berdiri lalu menarik lengan Mora dengan kasar.


"Kamu itu siapa berani menyentuh kekasih ku ha" ucap Gracel, Mora menatap Gracella dengan mata menyipit, lalu pandangannya tertuju pada Karel yang masih terdiam tanpa memberikan respon apapun, huh bukankah bos nya itu bodoh ?


"Apasih" Mora menarik tangannya, gadis itu duduk di sofa tanpa menghiraukan Gracella.


"Karel dia siapa"


"Itu bukan urusan mu, kita sudah tidak mempunyai urusan apapun, jadi pergilah dari sini"


"Karel, please jangan kaya gini" Gracella menyentuh lengan Karel, suara nya terdengar hampir menangis.


"Sudahlah Gracel aku sudah memutuskan hubungan ini, jangan menganggu lagi"


"Tapi..."


"Hargai keputusan ku"


Gracel menatap Mora yang duduk di sofa dengan tatapan penuh kebencian, wanita itu merasa tak rela berpisah dari kekasihnya itu.


"Apa ini karena perempuan ini, siapa dia sebenarnya Karel"


"Pergi Gracel"


"Tidak sebelum kamu menjawab"


"PERGII" bentak Karel, air mata Gracel pun menetes, gadis itu berlari dari ruangan itu dan membanting pintu dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2