
Mora pun berjalan kecil menuju garansi, gadis itu selalu naik mobil setiap akan ke kantor, saat akan menuju garansi tiba-tiba ia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di depan gerbang rumah, kenapa Mora bisa melihatnya ? karena gerbang itu terbuka, mungkin satpam lupa menutupnya.
Mora pun memilih menghampiri mobil itu, tanpa merasa takut ataupun curiga, gadis itu mengetuk kaca mobil. Lalu tak lama setelahnya, seorang laki-laki dengan tubuh tegap keluar dengan kaca mata di mata nya.
"Pagi nona Mora" ucap laki-laki itu, wajahnya tampak datar.
"Pagi" seru Mora yang merasa masih bingung.
"Mari nona masuk, saya akan mengantar anda ke perusahaan Ivander." ucap laki-laki itu dengan nada sopan.
"Em, maaf kalau boleh tau, anda ini siapa ya" tanya Mora
"Saya adalah salah satu pengawal tuan Karel, dan saya di perintahkan oleh tuan untuk menjemput anda dan mengantar ke perusahaan." ucap nya menjelaskan, Mora berfikir sejenak, kenapa Karel tak memberitahu nya lebih dahulu.
Mora pun mengambil handphone nya, dan menelfon Karel, tapi tak ada balasan. Mora mengulanginya beberapa kali, namun tetap sama tak ada sahutan.
"Mari nona, saya takut jika anda akan terlambat" seru laki-laki itu, bahkan tangannya sudah membuka pintu belakang dan mempersilahkan Mora untuk masuk.
Meski ragu akhirnya Mora tetap masuk, gadis itu mencoba berfikir positif, mungkin memang Karel yang memberikan perintah dan lupa memberitahunya. Laki-laki itu memang suka sekali bertindak tanpa meminta izin dulu padanya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, Mora nampak santai dan duduk dengan tenang, gadis itu menoleh ke jendela dan mengamati jalan sekitar yang tampak ramai dengan aktifitas pagi masyarakat.
__ADS_1
Mora menoleh ke arah spion depan, dan mulai memperhatikan pengawal yang menyetir itu, gadis itu lalu menunduk dan mengetikkan sesuatu di handphone nya.
Mobil terus melaju dan semakin cepat, sudah hampir satu jam lamanya tapi tak kunjung berhenti.
"Sebenarnya kamu mau membawa ku kemana ?" seru Mora dengan senyum tipis, gadis itu memutar-mutar handphone nya dengan tangan kiri nya sambil menatap geli ke arah spion yang menampilkan wajah pengawal itu.
Hening, laki-laki itu tak menjawab ucapannya.
"Huh kenapa lama sekali, padahal aku merasa ingin buang air kecil." seru Mora sambil menghela nafasnya. Gadis itu mengeluh sambil mengusap dahi.
"Sebaiknya anda diam, dan tidak perlu banyak bicara" seru laki-laki itu dingin.
"Kenapa tidak boleh bicara, terserah ku mau apa, mulut juga mulutku." seru Mora dengan nada riang, seolah dia sedang becanda. Laki-laki itu mendesis kesal, ia tau jika sebenarnya gadis di belakang itu sedang meremehkan nya.
"Tidak usah mengebut, kamu belum mahir begitu membawa mobil, mau aku ajari tidak ?" seru Mora dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Anda sangat berisik nona, saya tidak yakin jika beberapa jam kedepan anda tetap bisa seceria ini." seru laki-laki itu tak kalah sinis.
"Memangnya apa yang akan terjadi, huh aku jadi merasa takut. Apa kamu akan mengajakku bermain dengan malaikat maut ?" seru Mora dengan wajah takut.
Laki-laki itu tak menjawab, dia tak ingin lagi meladeni ucapan berisik wanita di belakang nya itu. Beberapa saat kemudian mobil pun berhenti, kini mereka berada di sebuah rumah besar, mewah sih tapi tampak sekali menyeramkan karena berada di sekeliling hutan.
__ADS_1
Mora memperhatikan nya sambil berdecak, jika kalian bertanya apakah Mora takut ? tentu saja takut, tapi gadis itu berusaha menutupi ketakutannya dan bersikap setenang mungkin. Jika dia ketakutan maka musuhnya akan merasa puas, dan Mora tak suka itu. Ia tak mau kalah sebelum berperang.
"Cih naik mobilmu sangat membosankan, nanti aku ajari cara naik mobil yang benar." seru Mora sambil mencibir. Laki-laki itu tiba-tiba berjalan ke arahnya lalu menarik lengannya dengan kuat dan kasar.
Mora ingin sekali meringis, di pikir tidak sakit apa di tarik se kasar ini, dasar laki-laki tak punya perasaan. Di sepanjang jalan dan ruangan pasti ada pengawal yang menjaga, tak ada satu ruangan pun yang lewat dari penjagaan ketat para pengawal.
"Dasar pembohong, tadi mengatakan ingin mengantarkan ku ke kantor tapi ini apa. Busuk sekali." seru Mora, laki-laki itu merasa tak terima dan mengangkat tangan nya.
"Jangan sentuh dia" tiba-tiba terdengar suara bariton, menggelegar di seluruh ruangan besar itu. Mora menoleh ingin tahu siapa pemilik suara itu, saat sudah tau gadis itu merasa syok dan menelan ludah nya kasar.
"Maaf tuan" seru pengawal itu dengan menundukkan kepala nya, Mora melihatnya lalu tersenyum sinis.
"Enak sekali minta maaf, hey lihat gara-gara kamu tanganku jadi memerah." seru Mora galak, ia mengangkat tangan nya tinggi-tinggi. Ada untung nya juga dia di seret secara kasar tadi hingga tangannya terluka.
"Dan Presdir, kenapa anda bisa berada di sini, atau... sebenarnya anda yang menyuruh lelaki sialan ini untuk menculik ku ?" seru Mora sambil menatap pengawal itu dengan tajam, dia masih dendam.
Laki-laki yang di panggil Presdir itu tampak terkekeh, lalu menatap Mora dengan penuh kekaguman.
"Maafkan pengawal ku nona cantik, dia sudah bertindak kasar sehingga menyinggung mu." seru laki-laki itu sambil tertawa ringan.
"Oh ya, apa yang membuat pebisnis besar seperti anda menculik seorang wanita Presdir NA yang terhormat." seru Mora sambil menatap tajam ke arah lelaki di depannya.
__ADS_1
Masih ingat dengan Presdir NA, dia adalah pengusaha hebat dari Jerman yang pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan Ivander, namun kerjasama itu batal karena Karel membatalkannya tanpa alasan yang jelas.
"Oh tentu karena saya ingin bertemu dengan wanita cantik seperti anda. Tuan mu itu sangat aneh, selalu menyembunyikan sekertaris cantik nya dari publik." seru Presdir NA, laki-laki itu menghampiri Mora lalu mengusap rambut gadis itu dengan lembut. Mora hanya melihat saja, dalam hati ia mendengus merasa jijik dengan tatapan memuja lelaki di depannya.