
3 Hari kemudian
Setelah dua hari dalam masa cuti, Mora sudah merasa lelah beristirahat, gadis itu merasa malas di rumah, karena sudah terbiasa mengerjakan tugas kantor, dan di liburkan selama dua hari membuat nya malah merasa jenuh.
Kini Mora tampak duduk rapi di meja kerja nya, tangannya dengan terampil menulis beberapa pekerjaan, sekaligus mengatur jadwal tuan nya dalam beberapa pertemuan, serta jadwal tuan nya untuk mengunjungi beberapa proyek baru perusahaan Ivander.
Mora tampak mengernyitkan dahi saat melihat kertas yang berisi pembatalan kontrak kerjasama, gadis itu bertambah terkejut saat ternyata kontrak itu adalah sebuah kontrak mereka dengan perusahaan NA crop yang berada di Jerman.
Mora mengambil handphone nya dan segera menghubungi sekertaris pihak NA crop tentang pembatalan kontrak itu.
"The cancellation of the contract was given by your master, for some reason suddenly Mr. Karel gave a message that our cooperation contract was cancelled." sahut Florentia sekaligus menjelaskan.
"Pembatalan kontrak diberikan oleh tuanmu, entah kenapa tiba-tiba Pak Karel memberi pesan bahwa kontrak kerjasama kita dibatalkan."
"Are you sure" tanya Mora dengan kening berkerut.
"Of course, I don't even know what reason your boss had for canceling the contract. even though this cooperation will be very beneficial for both companies if it is not cancelled." kalimat itu membuat Mora bungkam, ia juga berfikir demikian dan sangat menyayangkan hal itu. Ia akan ke ruangan Karel dan membicarakan hal ini, tentu saja.
"Tentu saja, saya bahkan tidak tahu apa alasan atasan Anda membatalkan kontrak. Padahal kerjasama ini akan sangat menguntungkan bagi kedua perusahaan jika tidak dibatalkan."
Akhirnya Mora menutup telfon nya, gadis itu segera beranjak untuk pergi ke ruangan Karel.
Mora mengetuk pintu, saat pintu sudah terbuka, Mora segera masuk dan berjalan menuju di mana Karel sedang duduk.
"Tuan bisa saya bicara sebentar" tanya Mora setelah duduk di hadapan Karel, padahal laki-laki itu belum mempersilahkan ia duduk.
"Mau bicara apa ?" tanya Karel setelah menghela nafas.
__ADS_1
"Kenapa kerja sama dengan NA crop anda batalkan" tanya Mora dengan wajah lesu, padahal mereka sudah sampai terbang ke Jerman agar bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan ternama di sana, tapi setelah berhasil malah dengan mudah Karel batalkan.
"Terserah saya mau bagaimana, memang kamu tidak suka ?" jawab Karel, nada ucapannya terdengar ketus di telinga Mora.
"Bukannya begitu, tapi tuan tau sendiri kan, kerjasama ini membawa keuntungan besar untuk perusahaan."
"Biarkan saja" sahut Karel kembali fokus dengan pekerjaan nya, seolah malas dengan apa yang Mora ucapkan.
Mora pun akhirnya beranjak pergi, gadis itu sebenarnya menyayangkan sikap tuan nya, tapi jika Karel sudah memutuskan hal itu dan tak mau merubahnya maka ia bisa apa.
Saat jam makan siang tiba, Mora segera saja mencari Sofia, mereka bertemu di pertengahan jalan.
"Eh aku pikir kamu masih di ruangan" sahut Sofia sambil tersenyum. Mora langsung saja menarik lengan Sofia, dan membawa gadis itu menuju sebuah lift. Sofia memperhatikan Mora yang memencet lantai bawah dengan dahi yang berkerut.
"Kamu mau keluar ?" tanya Sofia, Mora hanya mengangguk sekilas, mereka berjalan bersama menuju mobil Mora, dan Mora melajukan mobil nya pergi dari pekarangan kantor.
"Sebenarnya ada apa, kamu sedari tadi hanya diam" ucap Sofia sambil mengaduk minuman milik nya, ia heran dengan Mora yang banyak diam hari ini.
"Aku sedang berfikir"
"Ck berfikir soal apa, bukankah kamu habis cuti 2 hari kenapa masih banyak berfikir." Mora berdecak saat mendengar hal itu.
"Kedatanganku ke Jerman kemarin hanya sia-sia" sahut Mora dengan lesu. Padahal dia tidak akan rugi tentang kerjasama yang batal, namun dia nampak uring-uring an karena perjuangan mereka dua hari di Jerman berakhir sia-sia.
"Maksudnya ?" tanya Sofia tak paham
"Tuan Karel membatalkan kerjasama dengan pihak sama, ntah apa alasannya, tapi seperti nya keputusan nya sudah bulat"
__ADS_1
"WHAT?" Sofia berteriak dengan mata melotot. Nampak kaget dengan apa yang Mora ucapkan.
"Apa kamu yakin, soal nya sedari kemarin juga Vino udah kaya siapin semua nya. Tuan Karel juga nampak ambisius untuk mendapatkan kerjasama ini" Sofia kembali meminum minuman di gelasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kira-kira alasan apa ya, yang membuat tuan membatalkan kerjasama ini" Mora mengedikkan bahu nya, ia juga tak mengerti alasan apa sehingga Karel melakukan hal itu.
"Pantas saja kamu tampak lesu sejak tadi"
"Bukankah tuan mu itu sangat menyebalkan ? kenapa ia sama sekali tak bisa menghargai kerja keras ku yang ikut dengan nya terbang ke Jerman." sahut Mora dengan kesal.
"Hey dia tuan mu juga" sahut Sofia kembali.
Tanpa mereka sadari perbincangan mereka berdua di dengar oleh dua pria yang kini sedang duduk di depan mereka dengan posisi membelakangi. Salah satu di antara mereka tampak berdiri dan menghampiri meja Mora.
"Tu..an" Sofia yang melihat Karel berdiri dengan wajah dingin nampak menelan ludah nya meski dengan susah, wajah nya sudah nampak pucat saat menyadari jika tuan nya mendengar ucapan mereka.
BODOH!! Mora mengumpat dalam hati, kenapa ia tidak sadar jika laki-laki misterius di dekat mereka tadi adalah Karel dan Vino asisten nya.
"Ikut dengan ku" ucap Karel dengan dingin, lalu menggenggam pergelangan tangan Mora.
"Tunggu, aku belum membayar pesanan ku" Karel kembali menarik tangan Mora saat gadis itu ingin pergi.
"Bayar semuanya, dan antar gadis itu kembali ke kantor" sahut Karel pada Vino, setelah sang asisten mengangguk, Karel dengan segera menyeret lengan sekertaris nya.
"Eh tunggu temanku ketinggalan" ocehan Mora tak Karel pedulikan, laki-laki itu hanya terus membawa Mora pergi ke luar dari restoran itu.
"Mana kuncinya" Karel menengadahkan telapak tangannya pada Mora, Mora menghela nafas lalu menyerahkan kunci mobil nya pada Karel.
__ADS_1
Karel mendorong tubuh Mora agar masuk ke dalam mobil, lalu laki-laki itu masuk ke kursi pengemudi dan menutup pintu mobil dengan kasar.