
Siluet matahari nampak terlihat dari ufuk timur, membangunkan anak manusia yang baru saja terlelap mengistirahatkan diri. Semua pekerja di mansion utama tampak sudah rapi dan siap mengerjakan pekerjaan nya. Dengan semangat bekerja untuk mencari uang.
Para pembantu tampak asik memasak di dapur, begitu pun yang bertugas di luar mansion, tukang kebun tampak rajin menyiram tanaman serta memotong dedaunan yang berjejer rapi membentengi taman. Juga menyapu dedaunan kering yang terkumpul di atas rumput hias.
Berbeda dengan dua anak manusia yang kini sedang bergelung di bawah selimut sambil berpelukan, mereka terlihat betah sekali dalam tidur nya, seolah tak tertarik untuk bangun dan memulai aktivitas pagi.
Padahal jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, sangat jarang tuan mereka bangun di atas jam itu, tapi semenjak membawa gadis ke mansion utama kemarin, sampai pagi ini, tuan muda mereka belum juga turun.
Di halaman depan tampak sebuah mobil yang baru saja berhenti, lalu turun seorang laki-laki muda yang sudah rapi dengan jas kerja di tubuhnya.
Beberapa pekerja yang melihat laki-laki itu nampak membungkukkan badan, lalu seorang ketua pelayan nampak mendekat dengan cepat ke arah laki-laki itu.
"Mencari tuan ?" tanya ketua pelayan itu sambil menatap segan ke arah laki-laki muda di hadapannya.
"Tentu saja, Karel belum berangkat kan ?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Andra, laki-laki itu masuk bersama laki-laki paru baya yang berprofesi sebagai ketua yang mengatur semua kinerja para pelayan di mansion utama.
"Tuan masih di atas" jawab pak Bai.
"Dia belum turun ?" tanya Andra sambil mengernyitkan dahi, merasa heran dan tak percaya. Pak Bai hanya menggeleng.
"Oke, biarkan aku naik" ujar Andra sambil melangkahkan kaki, namun dengan tiba-tiba Pak Bai menghalangi nya.
"Tuan sedang tidak ingin di ganggu, jika memang urusan nya sangat penting, biarkan saya yang naik." sahut Pak Bai dengan tegas, bagaimanapun tuan nya sedang bersama seorang gadis di atas, ia tak ingin kedatangan Andra menganggu ketenangan Karel.
"Sejak kapan kamu jadi tidak membiarkan aku menemui Karel ?" tanya Andra.
__ADS_1
"Sejak tadi malam, dan akan berlaku sampai seterusnya." sahut Pa Bai. Ia sama sekali tak merasa terintimidasi dengan tatapan Andra yang tajam.
"Ck, ya sudah cepat suruh Karel turun, aku menunggunya" sahut Andra, laki-laki itu melangkah ke sofa panjang di ruang tamu dan mendudukkan diri di sana.
Sementara itu kembali lagi ke kamar, Mora nampak mengerjapkan mata nya, tangan nya menyentuh lengan Karel yang melingkar di pinggang ramping nya.
Gadis itu menguap sambil menarik tangan nya yang terasa kebas. Mata nya terbuka dengan perlahan dan menatap langit-langit kamar. Lalu melirik ke laki-laki di samping nya yang masih terlihat pulas dalam tidur nya.
Mora memiringkan tubuh nya sampai gadis itu bisa melihat wajah tampan Karel yang terlihat bercahaya di pagi ini. Jari lentik nya terangkat untuk menyentuh rambut Karel yang terlihat kusut. Gadis itu memainkan rambut Karel sambil sesekali melirik mata Karel yang masih terpejam.
Mata nya tertarik untuk memperhatikan wajah Karel lebih intens, di saat seperti ini dia mengakui jika Karel memang laki-laki tampan. Laki-laki itu memiliki alis yang tebal, dengan buku mata yang lentik, serta hidung mancung. Dan jangan lupakan bibir laki-laki itu yang berwarna merah terlihat seksi.
Lalu tangan Mora berpindah ke pelipis laki-laki itu, mengusap nya pelan, luka waktu mereka di Jerman masih terlihat membekas di pelipis laki-laki itu.
Dia merasa ucapan tuan nya itu tidak nyata, mana mungkin tuan nya itu menyukai gadis bar-bar seperti dirinya.
Mora juga kembali mengingat pertemuan pertama mereka, sangat buruk, karena pada saat itu Mora menumpahkan minuman nya di jas mahal Karel. Ia saja tidak pernah menyangka bisa tidur seranjang dengan tuan nya. Mengingat sikap laki-laki itu yang luar biasa sulit di tebak.
HAP
Mora mengerjapkan mata nya saat tatapan mata nya bertabrakan dengan mata Karel, laki-laki itu semakin terlihat tampan dengan wajah serius nya di pagi hari.
Lalu tanpa di duga Karel melemparkan senyum, senyum yang membuat Mora terpana untuk beberapa detik. gadis itu berniat untuk menarik tangan nya yang hinggap di rambut Karel namun jari nya malah di tarik oleh laki-laki itu.
"Sudah puas mengangumi ku ?" ucap Karel, mata nya menatap lekat mata Mora yang bergerak-gerak berusaha menghindari tatapan mata nya.
__ADS_1
"Aku.." Mora mendadak menjadi gugup, gadis itu berusaha menghindar dari tatapan mata Karel yang terlihat mengintimidasi.
"Aku apa ?" tanya Karel sambil menatap Mora dengan tajam.
Tok tok tok
Mora menghela nafas lega, untung saja ada yang mengetuk pintu, sehingga ia bisa selamat dari ucapan dan tatapan tajam tuan nya. Gadis itu dengan segera langsung saja beranjak dan menjauh dari Karel.
Laki-laki itu tampak berjalan menuju pintu, lalu membuka nya, dahi nya nampak mengernyit saat melihat Pak Bai berdiri di depan nya.
"Ada apa ?" tanya Karel
"Di bawah ada tuan Andra, beliau menunggu anda untuk turun." ucap Pak Bai dengan tegas.
"Baiklah 10 menit lagi saya turun" ujar Karel, tangan nya kembali menutup pintu, lalu tatapan nya kembali tertuju pada Mora yang berdiri di samping ranjang sambil menatap nya polos.
"Duduk lah dulu, tunggu aku selesai mandi" ujar Karel, Mora menghela nafas, lalu berjalan menuju kursi yang ada di dekat jendela kaca. gadis itu menatap ke arah luar, matahari tampak bersinar dengan terik, sinar nya menembus kaca bening di jendela kamar sehingga membuat mata Mora mengernyit.
15 menit kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, lalu terlihat Karel keluar dengan rambut yang basah sambil bertelanjang dada, laki-laki itu hanya menggunakan handuk di bawah pinggang.
Melihat hal itu seketika membuat Mora mengalihkan tatapan mata nya, ia menunduk sambil memainkan jari lentik nya. Bau harum dari sabun tercium dalam ruangan itu membuat Mora mendongakkan kepala nya.
Seketika mata nya membulat saat melihat Karel yang kini berdiri di hadapannya, gadis itu menelan saliva nya dengan susah payah.
"Mandilah terlebih dahulu, aku akan keluar sebentar, oh ya baju ganti mu ada di atas ranjang." seketika Mora melirik ranjang, lalu kembali melihat Karel yang sudah menghilang dari balik walck in closet.
__ADS_1