IVAMORA

IVAMORA
Menentukan Pilihan


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Vino pun akhirnya telah tiba di pelataran mansion Ivander, laki-laki itu turun dan membuka pintu untuk tuan nya seperti biasa.


"Masuklah lebih dulu" tiba-tiba Karel berucap, tidak seperti tadi yang tampak acuh, kini laki-laki itu menatap penuh pada asisten nya.


"Baik tuan, saya akan memarkirkan mobil lebih dulu"


"Tidak usah, biar di kerjakan oleh satpam" seru Karel, melihat wajah serius tuan nya vino pun akhirnya mengangguk.


Mereka berjalan bersama menuju ruang kerja, Karel membuka tirai kaca yang biasanya selalu tertutup itu, tampak lah jalan raya menuju mansion Ivander yang terlihat sangat sepi. Lalu Karel mendongak untuk menatap ke arah langit, ia menghela nafas pelan.


"Ada apa tuan ?" vino membuka suara, melihat tuan muda nampak resah ia merasa iba.


"Aku jenuh vino" ucapan itu terdengar sangat lirih, ada nada yang sulit di artikan, namun vino tau ada nada sedih dalam kalimat itu.


"Tuan mau apa ?" ucap vino menatap manik mata hitam itu, ia sudah lama mengenal karel, mengetahui hidup laki-laki itu. Terkadang juga ikut merasakan kesedihan tuannya yang selalu laki-laki itu sembunyikan di balik sikap datar nya.


"Huh" Karel kembali menghela nafas, tak mau memberitahukan suasana hatinya sekarang, laki-laki itu memang sangat sulit untuk terbuka apalagi tentang kehancurannya.


"Kakek memintaku untuk menikah dengan Mora" seru Karel dengan mata yang menatap sebuah lukisan.


"Bukankah itu bagus ? kalian saling mencintai kan ?"


"Aku ragu"


"Soal apa ?" tanya vino, jika sudah seperti ini mereka akan terlihat seperti seorang sahabat dekat.


"Aku tidak punya rumah, rumah aku hancur, sedangkan dia punya segalanya, apa aku bisa memberikan dia kebahagiaan. Sedangkan aku sendiri berantakan." Karel terkekeh.


"Seharusnya aku tak memaksa kan kehendak, pantas saja selama ini dia selalu menolak."

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak berfikir tuan, sepertinya ada sedang lelah" vino berusaha menutup obrolan ini, dia tak tega melihat tuan nya itu sedih.


"Kamu tau vino ? dulu aku selalu berfikir, bahwa uang akan mampu membeli suatu kebahagiaan, namun ternyata itu hanya pikiran sepintas, uang hanya menjadi penenang."


"Tuan, anda jangan pernah merasa sendirian. Karena ada banyak sekali orang yang ingin hanya sekedar melihat anda. Jangan menganggap bahwa hidup anda adalah sebuah kesialan. Karena meskipun anda menganggap hidup anda hancur dan berantakan, yang di atas selalu punya alasan menciptakan makhluknya."


"Kita semua sama, di ciptakan dengan versi yang berbeda-beda, tapi satu yang pasti tidak mungkin dalam hidup akan mengalami kesedihan yang terus menerus. Semua itu tidak akan abadi tuan."


Mereka, dua laki-laki yang jarang berbicara itu kini mendadak menjadi saling menasehati, padahal kalau bicara hanya sepatah dua kata, namun sekarang bisa saling membuka hati dan berbicara sepanjang ini.


"Aku tau" Karel kembali menghela nafas, jujur ia merasa sedikit terobati dengan ucapan asisten nya.


"Jangan berfikir berlebihan tuan, semuanya belum terjadi dan jangan pernah berfikiran buruk terlebih dahulu."


Mora sampai rumah pukul 5 petang, gadis itu hanya berbaring di ranjang dengan kaki yang menjuntai, tangannya memegang buku sastra dan membaca nya.


Tok...tok...tok


Tok...tok...tok


Kembali pintu di ketuk dengan keras, namun lagi-lagi tak ada tanggapan dari Mora, sampai akhirnya pintu tak lagi di ketuk, beberapa menit kemudian Mora yang sedang asik membaca itu terjungkal saat ada yang menarik kaki nya dengan cepat.


"Akh"


BRUK


Pantat nya terasa panas saat menyentuh lantai, ia menatap kesal ke arah pelaku yang sudah menganiaya nya di rumahnya sendiri.


"Apa lu mau marah" seru sang pelaku, wajah nya tak kalah kesal dengan wajah Mora.

__ADS_1


"Ngga sopan ya kamu" Mora menunjuk orang itu dengan jari telunjuk nya.


"Salah sendiri ada yang ketuk pintu ngga di buka, sok sibuk banget" Mora memutar bola matanya malas, ia kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang.


"Ada apa sih" Mora mendesis kesal


"Ngga papa, cuma mau lihat aja sepupu ku masih hidup apa ngga."


"Anjg, rese lu" Mora melemparkan bantal dengan kesal ke arah sepupunya itu.


"Habisnya lu ngeselin sih" Andra tertawa tanpa merasa bersalah. Laki-laki itu kini ikut berbaring di samping Mora.


"Gimana hubungan lu sama Karel ?" tiba-tiba Andra menanyakan soal itu.


"Baik" Mora hanya menjawab singkat


"Seperti perjanjian sejak awal, aku bebasin lu dari Karel, aku bakal kabulin permintaan lu, lu bisa kejar apa yang lu mau, dan yang pasti kejar kebahagiaan lu lagi." Mora termenung, bukankah dia harusnya bahagia mendengar itu, inilah yang ia nantikan sejak dulu, bisa bebas dan mengejar kembali kebahagiaan nya, dia hanya perlu pergi dari negara ini dan mengawali semuanya, memulai kehidupan baru dan bahagia.


"Lu masih inget sama perjanjian itu ?" tanya Mora termenung


"Bukannya lu yang selalu ngingetin semua itu, biar aku ngga ingkar janji ?"


Mora menghela nafas, ini adalah pilihan yang rumit, di satu sisi dia bahagia, sangat amat bahagia karena bisa kembali mengejar mimpi nya, semua perjuangan nya kini berada di titik akhir. Tapi ia juga tak tega meninggalkan semuanya begitu saja. Bagaimanapun juga ia selama ini tulus mencintai laki-laki itu, sama sekali tak ada niat untuk pura-pura.


"Semua pilihan ada di kamu, tapi satu hal yang perlu kamu inget. Apapun keputusan kamu aku bakal dukung sepenuhnya." Andra berlalu pergi dari kamar gadis itu, membiarkan gadis itu kembali berfikir.


Setelah kepergian Andra, Mora pun larut dalam pikirannya, gadis itu memejamkan mata dengan isi kepala yang ribut. Ia mencoba mencari keputusan terbaik, karena untuk kedepannya dia yang menjalani itu semua.


Gadis itu menyimpan handset dan buku yang ia baca di atas nakas lalu memperbaiki posisi berbaring nya agar nyaman.

__ADS_1


"Aku berjuang sejauh ini tidak untuk hal yang sia-sia" Mora mengepalkan tangan, bertekad dengan niat nya.


__ADS_2