
Terhitung sudah tiga hari Mora dan Karel berada di Jerman, saat ini Karel tampak tak terlihat sejak sedari tadi memasuki ruangannya yang saat ini tertutup rapat. Tadi sih sekretarisnya bilang jika Karel sedang ada tamu sehingga belum keluar sampai sekarang. Namun ntah lah, Mora sendiri saat ini membantu tugas sekertaris di sini, bisa di bilang mereka saling bekerja sama untuk mengerjakan pekerjaan, sesekali mereka terlibat dalam obrolan kecil.
Mora melamun sambil menunggu ruangan Karel terbuka, tadi teman baru nya, sekertaris di perusahaan ini sedang pamit karena ingin membeli makanan, sebenarnya tadi mengajak Mora namun Mora menolak dengan halus karena gadis itu belum merasa lapar.
Lamunan Mora buyar saat mendengar suara, terlihat ruangan Karel yang terbuka dari dalam, lalu keluarlah seorang laki-laki muda dengan tubuh yang tercetak atletis, wajahnya sempurna tanpa cela. Presdir NA crop, Mora pun tersenyum saat laki-laki itu menghampirinya.
"Hi nona" ucap laki-laki itu sambil tersenyum tipis, menatap Mora dengan intens.
"Hello sir"
"Tidak perlu bingung, pakai saja bahasa Indonesia"
"Eh" Mora kaget saat laki-laki di depan nya ternyata fasih dalam bahasa Indonesia. Padahal tadi ia sempat binggung harus menggunakan bahasa apa.
"Sudah makan siang nona ?"
"Mora panggil saja Mora" ucap Mora sambil tersenyum.
"Oh iya Mora, kamu sudah makan siang ?" laki-laki di depannya kembali bertanya, Mora terdiam sejenak, namun tiba-tiba Florentia datang sambil membawa satu kotak makanan.
"I bought food for you" ujar gadis cantik itu sambil menyodorkan kotak makanan pada Mora, Mora tersenyum sambil kembali menatap Presdir NA yang saat ini wajahnya kembali datar tanpa senyuman.
"Saya belum makan tuan, namun ternyata teman saya sudah membelikannya"
"Ah sayang sekali, padahal saya berniat mengajakmu untuk makan bersama" sahut laki-laki itu dengan mimik wajah yang kecewa, Mora pun tersenyum kikuk merasa bersalah.
"Kita bisa makan bersama lain kali"
"Bolehkah ?"
__ADS_1
"Tentu saja, saya akan meminta waktu kepada tuan Karel agar kita bertiga bisa makan bersama" ucap Mora dengan senyuman tanpa dosa.
"Saya mau makan bersamamu nanti malam, nanti akan saya jemput" ujar laki-laki itu dengan tegas, ucapannya seolah menegaskan jika dia tidak ingin bantahan.
"Tapi tuan" ucapan Mora terhenti saat laki-laki itu terlihat ingin pergi, melihat ke arah nya sejenak sambil berucap.
"Wir werden uns wieder treffen schöne Dame" ujar nya sambil tersenyum, Mora mengernyit tak mengerti karena laki-laki itu tadi menggunakan bahasa Jerman.
Sepertinya Floren mengetahui kebingungan Mora sehingga gadis itu menerjemahkan kan ucapan Presdir NA tadi.
"He said that you guys will meet again later, he also said that you are beautiful." Mora mengerjapkan mata saat mendengar hal itu, apakah ucapan Presdir NA tadi serius dan tidak hanya basa-basi.
***
Pukul 5 sore, Karel keluar dari ruangan nya, laki-laki itu menghampirinya dan mengajak nya untuk pulang, Mora mengangguk sambil menata semua di meja, lalu berjalan di belakang Karel mengikuti laki-laki itu.
"Apakah tadi kamu melihat Presdir NA ?" tanya Karel saat mereka sudah duduk di kursi belakang mobil. Karel berucap sambil menatap lurus ke arah depan.
"Oh kalian berbincang apa saja ?" Karel kembali bertanya, seolah ingin mengorek informasi.
"Tadi Presdir menghampiri saya, lalu bertanya apakah saya sudah makan siang, saat saya akan menjawab Floren datang sambil membawakan saya makanan sehingga Presdir pun pergi" ucap Mora sambil menoleh, menatap Karel dengan intens, dia melihat senyum tersungging di bibir laki-laki itu.
"Hanya itu ?"
"Hah ?" Mora bertanya karena bingung dengan ucapan Karel.
"Apakah kalian hanya berbicara itu saja ?" tanya Karel, dia juga ikut menoleh sambil menatap Mora tajam.
"Em, Presdir tadi mengajak saya makan malam nanti tuan, dia mengatakan akan menjemput saya" dapat Mora lihat, rahang Karel yang mengeras saat mendengar ucapan nya, ntah dimana letak kesalahan dalam ucapan nya, namun Karel terlihat tidak suka saat mendengar ucapan nya tadi.
__ADS_1
"Kamu tidak menolak ?" tanya Karel dengan ketus.
"Saya belum sempat menjawab, dia sudah pergi terlebih dahulu"
Hening, Karel tak lagi bersuara, laki-laki itu memilih untuk kembali menatap ke depan.
Saat sampai di apartemen Karel bertemu dengan seorang penjaga yang menyerahkan dua bungkus plastik, Karel menerima nya lalu kembali masuk ke dalam apartemen. Laki-laki itu menaruh bungkusan itu di dapur.
"Siapkan makanan nya, saya lapar, sedari siang belum makan" sahut Karel sambil menarik kecil dasi nya. Mora mengangguk sambil memperhatikan Karel yang menaiki tangga menuju lantai atas, sepertinya laki-laki itu ingin mandi.
Mora pun menata semua makanan, lalu berlari kecil menuju kamar nya, dia juga akan membersihkan diri.
Mora menggunakan baju putih dengan lengan sebatas siku, di ujungnya terdapat pita kecil yang memperindah baju itu, di padukan dengan celana panjang, gadis itu membiarkan rambut nya tergerai bebas.
Mora keluar dari kamarnya berjalan menuju ruang makan, sampai ruang makan dia sudah mendapat tatapan yang menghunus dari Karel. Laki-laki itu nampak memperhatikan penampilan nya dari atas hingga bawah dengan tatapan yang menghunus tajam.
"Mau kemana kamu ?" tanya Karel dengan raut wajah datar.
"Em tidak kemana-mana." senyum Mora tampak kikuk, padahal tadi ia hanya iseng menggunakan pakaian itu, namun sepertinya Karel tak menyukainya.
"Jangan keluar dari apart ini, awas saja" Karel berlalu, Mora melirik makanan yang tampak utuh di atas meja belum tersentuh sedikit pun.
Ia pun perlahan berjalan mengikuti Karel, melihat Karel yang terduduk di sofa depan tv Mora pun mengikutinya.
"Tuan tidak makan ?" tanya Mora.
"Tidak nafsu" sahut Karel datar.
"Tuan belum makan sedari siang, makan dulu lah tuan" Mora kembali berujar, dia tak ingin Karel sakit karena jika Karel sakit, mereka pasti akan semakin lama berada di Negara ini, sedangkan Mora sendiri sudah ingin cepat-cepat pulang.
__ADS_1
"Saya sedang malas" sahut Karel kembali, ia sama sekali tak menoleh pada Mora.
"Ya sudah biar saya suapi, mau ?" tanya Mora sudah seperti seorang ibu yang membujuk anak nya.