
"Sebenarnya ada masalah apa kak ?" Mora termenung tak menjawab, mata nya terpejam menikmati usapan lembut tangan mama nya di kepala. Bukanya takut ia malah tampak ragu untuk bercerita, meski tak dapat berbohong dia akan merasa lega setelah mencurahkan masalahnya kepada sang mama.
Memang, mama nya itu sangat amat peka, wajar jika papa Abi sangat menyayanginya. Sikapnya yang lembut dan tutur kata yang halus membuat siapapun nyaman.
"Kak" mama Abi kembali bertanya, karena putri sulungnya itu tak menjawab pertanyaannya.
"Bukan masalah yang berat kok ma, nanti Mora selesaikan." Mora menjawab dengan tenang, berusaha menenangkan mama nya yang tampak khawatir.
"Yakin ngga mau cerita ?"
"Ngga papa, Mora akan menyimpannya sendiri"
"Inget kata mama, kalau ada masalah jangan terlalu berlarut, nanti kamu bisa sakit." nasehat wanita paru baya itu dengan bijak.
"Iya ma, Kakak bakal jaga kesehatan" ucap Mora sambil tersenyum manis. Berusaha terlihat baik-baik saja.
Pagi ini Mora bangun dengan wajah lesu, ia menatap ke arah cermin, dan melihat wajahnya yang tampak kusut, hari ini pasti akan sangat membosankan, dan hari ini ia memilih untuk membantu mama nya di butik, sekaligus menenangkan diri dari masalahnya dan Karel.
Gadis itu mengusap wajahnya dengan tangan kirinya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
30 menit ia habiskan untuk bersemedi di kamar mandi, Mora pun keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, juga make up ringan di wajahnya untuk menutupi wajahnya yang kusut sejak kemarin.
Gadis itu menuruni tangga menuju meja makan, ia melihat banyak pembantu rumah nya berlalu lalang sambil membawa alat pembersih ruangan, kepala kebun di luar juga terdengar sedang memberikan pengumuman untuk beberapa pekebun di rumah nya membuat Mora tersenyum tipis.
Gadis itu berjalan ke arah meja makan, di mana keluarga nya sudah berkumpul, mungkin baru saja duduk di kursi mereka masing-masing.
"Pagi pa ma" Mora duduk setelah mengecup pipi mama nya, gadis itu duduk di samping mama nya sambil membuka piringnya.
"Pagi sayang" mama Abi tersenyum menatap putrinya, tak ada lagi raut wajah penuh kecemasan di wajah wanita itu.
"Mama sedang bahagia ya" Mora bertanya seraya tersenyum tipis, ikut bahagia ketika melihat senyum manis sang mama.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, mama bahagia sekali" ujar wanita itu tampak sangat antusias, Mora tersenyum getir. Hati nya masih di penuhi kegalauan tapi ia berusaha untuk menutupi nya agar tak merusak suasana cerah keluarga nya pagi ini.
"Kak, nanti kakak ada rencana kemana ?" arka bertanya sambil menatap kakak nya itu.
"Em ada rencana buat ikut mama ke butik, boleh kan ma ?" tanya Mora sambil menatap mata mama nya dengan senyum manis.
"Boleh sekali" mama nya berbicara masih dengan senyum di bibirnya yang tak pudar, Mora menatap itu heran, sebenarnya mama nya ini kenapa ? sedang kedapatan yang nomplok apa gimana.
Alettha ikut tersenyum di tempat duduknya, sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, membuat Mora semakin heran, pasalnya senyum Alettha pagi ini terlihat aneh dan menyeramkan, bagaimana tidak ? adiknya itu bahkan sangat jarang tersenyum lebar.
Akhirnya Mora dan mama Abi berangkat ke butik, ada beberapa karyawan yang menghampiri mereka dan mengucapkan selamat pagi.
"Pagi nona, pagi nyonya" sapa salah satu dari mereka.
"Pagi" jawab mama Abi disertai senyum ramah nya.
"Ma, mama keruangan aja, Mora masih mau lihat-lihat"
"Oh yaudah mama masuk dulu ya" Mora memberikan anggukan, gadis itu memulai obrolan dengan wanita muda di depannya.
"Oh ya mba bia, kerja di bagian apa ?" tanya Mora penasaran.
"Saya bekerja di bagian desain non"
"Wah, saya mau lihat desain nya boleh ?" tanya Mora yang mendapat anggukan dari karyawan bernama bia itu, mereka berjalan hingga melewati beberapa karyawan yang sedang menjahit koleksi baju, sedangkan di depan tadi beberapa baju sudah terpajang rapi. dan desain nya pun cantik-cantik.
Pantas saja mama nya itu sibuk di butik, ternyata memang aktivitas di butik sangat padat, dan butik milik mama nya itu cukup besar.
"Silahkan masuk non" bia mempersilahkan Mora untuk masuk, wanita itu mengambil buku desain nya dan menyerahkan pada Mora, seketika membuat Mora antusias, ia membuka buku itu dengan mata yang berbinar, karena desain itu terlihat sangat cantik.
"Astaga gaun nya cantik banget" Mora mengusap desain gaun putih yang tampak sangat cantik.
__ADS_1
Bia tersenyum, tak heran, karena semua desain nya membutuhkan waktu lama untuk jadi, dan prosesnya memang selama itu.
"Mba bia keren banget deh gaunnya"
"Terimakasih non"
"Ini udah di jahit mba desain nya ?" tanya Mora sambil menunjuk gaun putih yang dia tunjuk, dia terlihat sangat menyukai gaun itu.
Di sana bia hanya tersenyum tipis, Mora kembali melihat-lihat desain itu, sungguh ia berdecak kagum dengan imajinasi wanita itu yang sangat tinggi, bahkan mencetak karya yang sangat cantik.
"Mba bia ngga mau buat usaha sendiri ?" tanya Mora, kepintaran wanita itu sangat tinggi, dan Mora yakin jika wanita itu membuat usaha sendiri pasti akan sukses besar. Itu perancangan Mora sih.
Mora membantu mama nya untuk mengecek beberapa laporan keuangan yang masuk, gadis itu tampak sangat teliti menghitung pengeluaran pembelian bahan dan pemasukan pembelian gaun.
"Ayo kita pulang nak" mama Abi berdiri, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan sebentar lagi butik akan di tutup.
"Iya ma sebenar" Mora tampak masih fokus dengan kegiatannya.
"Udah itu bisa di kerjain besok, kalau di kerjain sekarang semua, besok mama nganggur" Mora pun akhirnya beranjak, ia dan mama nya turun, lantai butik tampak sudah sangat sepi.
"Kok sepi sih ma" ucap Mora dengan heran, apa karyawan sudah pada pulang ?
"Mereka udah pada pulang"
"Kok bisa"
"Apanya ?"
"Mereka kok udah pulang, padahal kan mama masih di butik."
"Ya ngga papa lah kak, kan emang udah waktunya pulang."
__ADS_1
"Tapi.."
"Udah yuk" keheranan Mora tak terjawab, karena mama nya itu sudah langsung menarik lengan nya.