
Gracel merenggangkan tubuhnya yang terasa lebih baik, tidurnya terasa sangat nyaman, wanita itu membuka mata nya dan melihat dada polos Tama yang terbuka.
Seketika pipi wanita itu berubah memerah, merasa sangat malu, tadi malam ia kembali terbangun karena keusilan suaminya itu, dan yah mereka kembali berbagi peluh hanya berhenti satu jam karena dirinya yang merengek karena lapar.
Wanita itu berusaha melepaskan lengan Tama, jujur ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, namun usaha nya sia-sia, karena Tama malah menindih kedua kaki nya dengan kaki laki-laki itu.
"Tama"
"Panggil yang benar" sahut laki-laki itu dengan nada lirih.
"Honey" seru Gracel dengan sedikit merengek.
"hm"
"Mau mandi" seru Gracella, lalu ia melihat suaminya itu membuka mata dan menatap nya dalam. Lalu sedetik kemudian Gracel panik dan berusaha menutupi tubuh polos nya karena Tama yang menggendongnya tanpa peringatan sebelumnya.
"Eh kok di gendong sih" Gracel merasa sangat malu, tubuhnya kini terlihat oleh laki-laki itu.
"Bukannya tadi mau mandi ?"
"Mau di lepas aja, kalau mandi aku bisa sendiri"
"Aku nya mau mandiin kamu" ingin sekali Gracel menangis dan menendang tong sampah, ia memejamkan mata sampai Tama menurunkannya di dalam bathtub.
"Eh"
"Apa ? aku juga mau mandi" Tama mendelik karena tatapan tajam istrinya.
"Tapi..." tak menghiraukan protes an istrinya, Tama pun langsung masuk dan mengambil sabun, mengusap punggung istrinya.
Deru nafas laki-laki itu terdengar menerpa leher nya membuat tubuh Gracel meremang.
"Apa kamu ingin menjelaskan sesuatu ?" Gracel menelan ludah, ia berfikir tentang banyak hal. Apakah Tama akan mendengarkan penjelasannya.
"Kemarin aku ketemu temen aku" hening, laki-laki itu tak memberikan respon apa-apa, tangannya masih asik mengusap punggung istrinya.
__ADS_1
"Aku takut buat minta izin, jadinya aku nekat kabur"
"Bukankah jika tidak izin akan lebih menakutkan ?" Gracel mengangguk lesu, dia tau seberapa tempramental nya suaminya itu akhir-akhir ini.
"Seperti nya aku terlalu baik" Gracel menggeleng dengan panik, ia memeluk tangan Tama yang sedang mengusap perut nya.
"Aku minta maaf.. mereka panik soalnya aku menghilang tanpa kabar." Gracel berujar cepat, karena terlalu panik dia bahkan menggenggam wajah sang suami.
"Aku memaafkan mu kali ini tapi tidak untuk lain kali" ucap laki-laki itu, tangannya memeluk tubuh Gracel dengan erat.
Gracel menghela nafas, mereka mandi tanpa melakukan hal lebih, lalu Tama membawa Gracel duduk di atas ranjang.
"Mau makan di mana ?" tanya Tama, mendudukkan tubuh istrinya di atas ranjang. Gracel menatap suaminya yang tiba-tiba berujar dengan lembut. Ia sedikit tersentuh dengan sikap Tama yang selalu baik padanya, meski akhir-akhir ini laki-laki itu sedikit tempramental.
"Di bawah saja" ucap Gracel singkat, Tama pun mengangguk, lalu menggenggam tangan Gracel dan membawa wanita itu untuk turun.
"Mau lauk apa ?" Gracel menatap laki-laki itu tanpa berkedip, jujur sikap Tama akhir-akhir ini menyentuh sudut terdalam dalam hatinya.
"Ayam saja" Tama mengangguk, lalu mengambil duduk di samping istrinya, laki-laki itu mulai mengangkat sendok yang sudah terisi makanan dan mengangkat di hadapan mulut istrinya.
"Aku suapi" ucap laki-laki itu saat mendapatkan tatapan penuh pertanyaan dari istrinya, Gracel pun mengangguk lalu mulai membuka mulutnya.
"Kamu belum makan, kita bisa makan bersama" ucap wanita itu menjelaskan, Tama diam, dan hanya terus memperhatikan sendok yang berada di tangan istrinya, lalu kembali menatap sendok yang ada di tangannya.
"Kenapa pakai sendok berbeda, pakai sendok yang sama saja." ucap laki-laki itu dengan nada memaksa.
"Tapi nanti lama honey"
"Aku tidak mau makan" Gracel menghela nafas, kenapa sekarang jadi merajuk lagi.
"Yasudah sini mana sendok nya, kita akan menghabiskan waktu pagi ini dengan makan."
"Ck, berlebihan sekali"
"Aduh duh sayang, iya sudah ya bayi besar tidak boleh marah-marah." bujuk Gracel, karena wajah Tama saat ini terlihat sangat tidak enak untuk di lihat. Bibir nya itu sudah maju 10 centi.
__ADS_1
Akhirnya Tama menurut, ia menerima suapan istrinya dengan tatapan mata yang tak lepas memperhatikan wajah manis istrinya itu. Tangannya juga, menganggap erat tangan sang istri.
"Nah begini lebih manis" ucapan itu seketika membuat bibir Tama tersenyum semakin lebar, perlu di ketahui, istrinya itu sangat jarang memujinya, terbilang tidak pernah, dan baru kali ini ia mendengar pujian dari mulut manis itu.
"Kamu juga manis kalau menurut begini" balas Tama mengusap puncak kepala wanitanya, tangannya mengambil alih sendok dan bergantian menyuapi istrinya.
"Pagi sayang" ucap seorang wanita lalu mengecup pipi Tama.
Gracel mendongak, menatap lalu tersenyum
"Mommy"
"Eh sayang nya mommy udah mau turun, gimana keadaannya manis. Tama tidak berlaku buruk padamu kan." kini wanita yang di panggil Gracel mommy itu beralih lalu duduk di samping Gracel, memeluk wanita itu sambil menciumi wajahnya.
"Mommy apasih, jangan sentuh istriku."
"Posesif banget suamimu sayang" Gracel tersenyum geli, menatap takjub pada wanita di depannya yang tak lain adalah ibu mertuanya. Sosok wanita yang begitu baik dan lemah lembut.
"Ck, mommy" Tama tampak marah, tentu saja, karena kedatangan ibunya, Gracel jadi mengabaikannya.
"Iya-iya, sayang kamu urus dulu suamimu yang manja itu. Nanti kita bicara ya. Mommy tunggu di ruang tamu." ucap mommy Tama sambil mengusap kepala Gracel.
"Iya mom"
Setelah kepergian Mommy Tama, Gracel pun mengusap lembut tangan itu.
"Makan lagi"
"Tidak berselera"
"Ayolah jangan merajuk"
"Ck, sudah temani mommy saja sana, aku memang tidak penting." Gracel menghela nafas, berat sebenarnya. Tama selalu manja seperti ini padanya, padahal perasaannya saja masih belum muncul untuk laki-laki itu.
"Ya sudah, nanti kalau lapar makan sendiri ya" Gracel berdiri, mengusap bahu laki-laki itu sebelum pergi.
__ADS_1
Tama termenung, menghela nafas sambil menatap kepergian istrinya.
"Sesulit itu buat membalas perasaanku" ujar laki-laki itu lirih. Tangannya terkepal erat di bawah meja.