IVAMORA

IVAMORA
Janji Suci


__ADS_3

“Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” ucap Karel dengan lantang.


“Saya menerima engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” jawab Mora dengan suara yang mantap, ia menatap Karel dalam, di balas oleh tatapan yang sama oleh pria itu.


Prosesi selanjutnya adalah pemasangan cincin. Sambil memegang cincin pendeta berucap,


“Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih Kristus, yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi saudara berdua, untuk meniru kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga; dengan mengasihi pasangan tanpa awal, juga tanpa akhir.“


Karel tersenyum lembut, mengambil telapak tangan gadisnya dengan memegang cincin itu.


"Chelsya Fermonica Zamora cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku.”


Kemudian, dilanjutkan dengan pemberkatan pernikahan. Kedua mempelai berlutut, umat berdiri. Pendeta akan melakukan pemberkatan.


“Hiduplah menurut janjimu, hayatilah tugas dan tanggung jawabmu dan terimalah berkat Tuhan:


Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus yang telah memanggil dan mempersatukan kamu dalam perkawinan ini, akan memberkati kamu dan memenuhi rumah tanggamu dengan kasih karunia Roh Kudus; supaya dalam iman, pengharapan dan kasih, kamu hidup suci dan bahagia selama-Iamanya.”


Setelah acara itu selesai semuanya tampak sangat mengharukan, keluarga Mora langsung menghampiri pasangan itu dan memeluk mereka dengan erat. Papa Abi memeluk Karel dengan erat sambil menepuk pundak laki-laki itu.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya air mata Karel jatuh, laki-laki itu tersenyum tulus sambil meminta restu pada kedua orang tua gadisnya.


"Selamat ya nak, jaga putri papa. Jangan kamu lukai, jika dia membuat salah maka tegur dia baik-baik. Jangan pernah main tangan ya." ucapan itu meluncur dengan halus dari mulut papa Abi, mata laki-laki itu berkaca-kaca. Tentu hal yang tak mudah melepaskan putri nya untuk orang lain. Namun ini semua sudah menjadi keputusan mereka.


Sedangkan Mora menangis di pelukan mama nya, gadis itu merasa bahagia dan terharu, namun ia juga merasa berat jika harus hidup sendiri pisah dari orang tua nya.


"Jika kamu merasa belum siap, tinggal lebih dulu di rumah kita, pintu rumah akan selalu terbuka untukmu sayang"


Mora hanya diam, berusaha menenangkan hati nya. Lalu gadis itu berdiri menghampiri papa nya dan memeluk laki-laki itu dengan erat.


"Maafin Mora pa"


"Hust sayang, jangan menangis heum" sama seperti mama Abi, papa Abi juga berusaha menenangkan gadis itu.


Di ruangan gedung itu hanya di isi dengan keharuan, di ruangan itu juga ada teman-teman Karel dan teman Mora, arsen, Naura, Lea, dan juga Alex. laki-laki itu tampak banyak berubah, penampilan nya yang tengil kini berubah drastis dengan tubuh tegap di balut jas mahal.


Kini gantian Alettha dan Arka yang memeluk kakak nya, mereka berpelukan bertiga.


"Selamat ya kak, bahagia selalu" ucap Alettha dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Iya Ale makasih" Alettha merenggut lalu mundur begitu saja, arka juga memeluk Kakak nya, hanya memeluk tanpa mengucapakan banyak kata, hanya selamat saja. lalu arka menyusul kembaran nya yang seperti nya merajuk, karena Alettha memang paling tidak suka jika di panggil "Ale".


Benar saja, gadis itu kini sedang duduk di salah satu kursi sendirian, dan jangan lupakan wajah nya yang sedang kesal.


"Kenapa ?" tanya arka duduk di dekat perempuan itu.


"Tidak"


"Sudah jangan difikirkan" sebenarnya arka mengucapakan itu bukan karena Alettha yang sedang memikirkan pasal nama panggilan, adik kembarnya itu tak akan memikirkan hal seperti itu. Namun gadis itu sedang memikirkan hal lain. yang tentu hanya dia dan arka yang tau.


Karena mereka adalah saudara kembar, tentu mereka tak akan menyembunyikan apapun satu sama lain. dan tak akan mungkin juga menyembunyikan apapun. Karena mereka sudah sama-sama sejak di perut membuat mereka berdua tau perasaan satu sama lain.


"Aku tak sudi memikirkan nya" ucap Alettha dengan ketus.


"Kejam" seru arka terkekeh kecil


"Hidup hanya sekali" balas Alettha smirk, ia merangkul bahu arka, di balas rangkulan laki-laki itu di pinggang nya.


"Geli arka"

__ADS_1


"Bukannya udah biasa ?"


"Ck" Alettha berdecak sambil menepis wajah saudara kembar nya itu.


__ADS_2