IVAMORA

IVAMORA
Perdebatan


__ADS_3

Flughafen frankfurt am main


Pesawat mereka mendarat di bandara Frankfurt pukul 11 malam, Mora tampak pulas tertidur di samping Karel, sedangkan Karel masih terjaga sambil berbalas pesan dengan vino.


Lelaki itu segera berdiri saat pesawat berhenti, melirik Mora sekilas, Karel pun memilih membangunkan gadis itu.


"Hey Mora bangun" Karel menepuk bahu Mora, gadis itu mengerjapkan mata nya, lalu duduk di kursi nya.


"Kita sudah sampai ya tuan ?" tanya Mora seolah masih bingung.


"Iya, sudah ayo buruan turun, tujuan kita disini itu untuk kerja bukan liburan" sahut Karel dengan ketus, lalu mulai berjalan meninggalkan Mora, Mora yang mendengar Karel marah hanya terdiam tak peduli, lalu mulai mengambil koper nya dan berjalan mengikuti Karel.


DUK, karena efek kurang hati-hati, sekaligus bawaan mata yang masih mengantuk, gadis itu terjatuh tersandung tangga pesawat, untung saja dia sudah sampai bawah, Mora pun terduduk sambil membersihkan lutut nya.


Gadis itu menghela nafas saat melihat lutut nya tergores dan mengeluarkan darah, memang tadi dia terjatuh cukup keras sehingga lutut nya berbenturan dengan lantai bandara.


"Ck makanya hati-hati" Karel kembali sambil berdecak, laki-laki itu mengulurkan tangan sambil membantu Mora berdiri. Karel pun membantu Mora melangkah ke arah mobil yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen Karel, Mora sama sekali tak bersuara, gadis itu bahkan mengabaikan luka nya, seolah itu bukan apa-apa. Membuat Karel kesal saja.


"Ren apa di dashboard ada obat luka" tanya Karel menggunakan bahasa Indonesia, semua pekerja Karel harus paham dan hafal bahasa Indonesia, karena meskipun Karel mengerti beberapa bahasa, dia lebih suka berbicara bahasa Indonesia dengan pekerja nya.


"Ada tuan" Rendy segera mengambil obat lalu menyerahkan ke tuannya, Karel menerima sambil melirik Mora yang kembali terlelap, laki-laki itu menggelengkan kepala nya, padahal beberapa jam lalu Mora sangat aktif dan berisik.


Lalu laki-laki itu mulai menunduk dan melihat lutut Mora yang terluka, mulai menempelkan kapas yang sudah dia beri rivanol ke lutut gadis itu, rupanya hal itu membuat Mora bangun dan menepis tangannya.


"Aww shtt" Mora meringis sambil mengipasi luka nya menggunakan kedua tangannya, padahal Karel melakukannya pelan namun gadis itu sudah seperti kerasukan saja.

__ADS_1


"Shtt sakit" Mora mengambil air lalu mulai menyiramkan ke lutut nya. Karel melotot ketika melihat hal itu.


"Bodoh" ujar Karel, dia menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis aneh di samping nya itu.


"Sakit hiks, aku ngga suka" ujar gadis itu, mata nya berkaca-kaca. Padahal obat nya tidak se perih itu jika terkena luka.


"Ck jangan lebay, luka mu harus di obati" ujar Karel, tangan nya kembali memegang lutut Mora namun dengan cepat Mora menepis tangan laki-laki itu lalu menyembunyikan lutut nya.


"Mora"


"Biarkan saja, nanti juga sembuh sendiri" sahut gadis itu, dia menjaga jarak dari Karel, Rendy yang melihat nampak menahan senyum nya.


"Ck"


Saat mereka sampai di apartemen Karel yang berada di kota Berlin, Karel turun, laki-laki itu meninggalkan Mora yang berjalan dengan langkah tertatih mengikuti nya. Biar kan saja gadis keras kepala itu kesakitan.


Sedangkan Karel pergi ke kamar nya untuk membersihkan diri, 20 menit kemudian Karel kembali keluar, laki-laki itu melihat Mora yang sudah kembali terlelap dengan darah di luka nya yang sudah mengering.


Dengan iseng Karel kembali menuang obat ke dalam kapas, lalu mulai menempelkan ke luka Mora, mungkin karena kulit gadis itu yang sensitif membuat Mora terbangun dengan cepat. Namun Karel menahan tangan gadis itu lalu menekan obat itu ke lutut Mora dengan sedikit keras.


"Aww" Mora berteriak kecil, gadis itu kembali menangis saat obat itu meresap ke luka nya dan menimbulkan sensasi perih, dia memang tidak suka obat, itu membuat kulit nya sakit, setiap dia terluka saja dia tidak mengobati nya.


"Hiks hiks" Mora mulai menangis, Karel menatap itu dengan datar, dia memutar bola mata nya.


"Sudah jangan menangis, malu sama umur"


"Ini sakit tuan hiks" Mora terus saja menangis, gadis itu merangkul bahu Karel dan menangis di bahu laki-laki itu. Tak membiarkan Karel pergi setelah membuat nya terbangun.

__ADS_1


"Iuh jorok, lepas saya sudah mandi" sahut Karel dia berusaha melepas tangan Mora namun tangan gadis itu begitu kuat sehingga tidak juga terlepas.


"Mora lepas" Karel kembali berusaha.


"Akhh" laki-laki itu berteriak saat Mora menggigit bahu nya dengan kencang, lalu setelah itu Mora melepas kan rengkuhannya.


Karel menatap Mora dengan tatapan membunuh, gadis itu hanya membalas nya dengan tatapan sayu dan berkaca-kaca. Lalu berucap dengan enteng...


"Sakit kan tuan, maka nya jangan memaksa kalau saya tidak mau" sahut gadis itu, Karel menghela nafas lalu berlalu begitu saja.


"Gila" satu kata itu masih terdengar di telinga Mora, namun gadis itu hanya diam menunduk.


Karel melepas baju yang ia pake, lalu melihat ke cermin kecil yang berada di ruang tamu, terlihat gigitan Mora masih membekas di sana, bahkan sudah memerah. Karel pun kembali menghampiri Mora dengan kesal.


"Lihat, bahu ku jadi jelek gara-gara kamu, bahkan ada tanda nya, cepat bersihkan" sahut Karel dengan tajam, ia menunjukkan bahu nya yang lecet ke hadapan Mora.


"Saya harus bersihkan dengan apa tuan" sahut gadis itu lirih.


"Ya tidak tau, kamu yang buat cepat bersihkan"


Mora mengambil kapas lalu menuang kan obat merah lalu mulai membersihkan luka Karel.


"Bodoh kenapa pake obat merah" sahut Karel keras.


"Kamu itu bodoh apa gimana sih"


"Ya sudah bersihkan saja sendiri, saya memang tidak pernah mengobati orang, saya pikir bahu tuan terluka makanya saya beri obat merah, kalau tidak terluka ya bersihkan saja sendiri, jangan cari perhatian" Mora kembali merebahkan tubuhnya, lalu tidur menyamping membelakangi Karel.

__ADS_1


"Saya bodoh tuan, pecat saja kalau tidak suka" sahut Mora dengan ketus, Karel menatap punggung gadis itu dengan tatapan tajam.


__ADS_2