IVAMORA

IVAMORA
Perusuh


__ADS_3

Wanita yang menjadi mama nya Karel itu tampak ingin mendekatkan putra nya kembali dengan Gracel, dan hal itu tentu di sadari oleh Karel.


"Aku tidak ingin bertemu dengan dia" seru Karel acuh, sedari tadi ia sama sekali tak menatap mantan kekasih nya itu.


Semua orang hanya diam, Mora menatap gadis yang menjadi mantan kekasihnya itu dengan penasaran, terakhir ia bertemu dengan Gracel, gadis itu tampak sangat cantik, tapi sekarang, wajah Gracel terlihat pucat seolah hidup nya penuh dengan tekanan.


"Dan anda, tidak berhak untuk membentak ataupun menyuruh kekasih saya." seru Karel dengan dingin, tentu ia tadi mendengar bahwa mama nya itu membentak Mora, dan itu membuat nya merasa tak suka.


Tatapan penuh kebencian itu tak terelakkan antara Karel dan mama nya, padahal mereka adalah ibu dan anak, tapi seolah tali kebencian itu sudah melilit hati mereka membuat mereka terikat rasa tidak suka satu sama lain.


"Sebenarnya kenapa kamu kesini Laura" seru tuan Lewis dengan nada datar, padahal ia ingin merekatkan hubungannya dengan sang cucu, tetapi karena kehadiran menantu nya itu, semua nya jadi berantakan.


"Aku kesini karena ingin mengenalkan mu dengan calon cucu menantu mu pa." seru wanita itu dengan wajah yang tersenyum tanpa dosa.


"Karel tak menyukainya" telak tuan Lewis, dia bisa memahami jika mantan menantu nya itu ingin menjodohkan Karel dengan gadis yang bernama Gracel itu, tapi jika Karel tak suka tentu ia tak akan menyetujui hal itu.


Karel nampak menatap dingin ke arah semua orang, tangannya menggenggam tangan Mora dengan erat, bahkan laki-laki itu memberikan kecupan lembut untuk Mora di hadapan semua orang, Mora memperhatikan semuanya, wanita yang bernama Laura dan tuan Lewis tampak menatap nya, kecuali Gracella, gadis itu sedari tadi hanya menunduk sesekali menatap mata nya dengan kosong.


Hal itu tentu membuat rasa penasaran Mora semakin besar, kenapa sebenarnya gadis itu, jika memang menginginkan Karel tentu sikap nya tidak pendiam seperti itu.


"Sudah lah sebaiknya kau pulang saja, kehadiran mu sungguh sangat menganggu." seru tuan Lewis dengan dingin.

__ADS_1


"Tidak apa tuan, saya juga akan segera pergi, kasihan sekali gadis saya terlihat sangat kelelahan." seru Karel sambil mengusap bahu Mora dengan gerakan yang amat lembut.


"Gadis ? selera mu buruk sekali" sahut nyonya Laura dengan sinis.


"LAURA" bentak tuan Lewis, ia menatap menantu nya itu tajam.


"Fakta pa" sahut nya enteng, jelas sekali jika wanita itu tak menyukai Mora.


"Itu bukan urusanmu, Karel punya hak untuk memilih wanitanya" ucapan itu membuat Mora merasa bersalah, gara-gara dia semuanya jadi ribut.


"Maafkan saya tuan Lewis, karena saya anda jadi ribut dengan nyonya Laura. Tapi sekarang kalian tidak usah berdebat lagi, karena saya akan segera pulang." sahut Mora sambil tersenyum, ia mendekat ke arah tuan Lewis, menjabat tangan lelaki itu, yang di balas oleh tuan Lewis.


"Ya memang seharusnya kamu sadar diri" seru nyonya Laura, wanita itu seolah tak ingin menyerah untuk menyudutkan Mora.


"Iya nak, terimakasih ya sudah mau datang bersama Karel. Maaf karena tidak memberikan sambutan yang baik." balas tuan Lewis.


"Sudah ayo" Karel segera membawa Mora pergi, telinganya benar-benar panas mendengar ucapan mama nya itu, hampir saja ia tak bisa mengendalikan emosi nya.


Karel mengantar Mora untuk pulang, di sepanjang perjalanan laki-laki itu nampak diam dengan atensi yang fokus pada kemudi mobil. Sedangkan Mora memilih untuk menyandarkan kepala nya pada sandaran kursi mobil. Dengan mata yang terpejam.


"Maafkan sikap wanita tadi ya" tiba-tiba Karel berucap, membuat Mora kembali membuka mata nya.

__ADS_1


"Aku sama sekali tak memikirkannya" seru Mora sambil tersenyum tipis.


"Aku jadi semakin membenci nya" Mora menoleh, ia melihat wajah kecewa Karel, hal itu membuat Mora bertanya-tanya, kenapa hubungan dua orang ini buruk.


"Kamu tidak boleh seperti itu, seburuk apapun dia tetap mama mu." seru Mora memberikan nasehat nya, ia tak mau jika Karel terjebak oleh rasa benci nya, sehingga membuatnya terus membenci ibu nya.


"Dia tidak pantas menjadi seorang ibu, pikiran nya masih sangat kekanakan dan sangat egois." seru Karel, kini mata nya nampak berkaca-kaca. 25 tahun hidup tanpa kasih sayang orang tua nya, tentu membuat nya merasa sendiri, tak bohong, dia juga ingin mendapatkan kasih sayang, tapi yang di berikan hanya tekanan dan sikap yang menyakiti hati.


Huh sejak saat itu ia menjadi orang yang tak punya hati, seolah sudah terbiasa dengan semua kalimat yang mengoyak itu, hati nya membeku, dan sejak saat itu juga ia menjadi gemar menyiksa seseorang.


Namun hal itu berubah saat ia mengenal Mora, seolah gadis itu mau menerima semua keburukannya, mau mendengarkan isi hatinya, memberikannya kasih sayang, dan selalu menerima apapun yang ada pada dirinya.


Rasanya dia tidak akan pernah sanggup, jika gadis itu meninggalkannya, jika sampai yang ini juga sama, dia tak akan lagi mau percaya dengan yang namanya wanita. Sudah sering di khianati dan di sakiti membuatnya merasa muak.


"Memang tidak gampang menjadi seorang ibu, harus siap secara lahir dan batin, mental dan pikiran, saat sudah menjadi ibu, kita harus berusaha semaksimal mungkin, mengesampingkan apa yang kita mau, demi buah hati kita. keinginan kita tak lagi penting, karena mengusahakan kebahagiaan anak adalah yang utama." seru Mora sambil mengambil tangan Karel dan menggenggam nya.


"Kamu dewasa sekali"


"Tidak juga, ada kalanya aku seperti anak-anak, hal itu yang membuatku merasa belum siap menjadi seorang ibu." seru Mora dengan senyum lembut, ia memeluk tubuh Karel, menghirup aroma maskulin yang ada pada tubuh kekar laki-laki itu.


"Makasih by, jangan pernah pergi hem" seru Karel membalas pelukan gadisnya, ia mengecupi puncak kepala Mora dengan sayang.

__ADS_1


"Aku sayang banget sama kamu, ngerasa beruntung bisa memilikimu" lanjut Karel mengutarakan perasaanya.


"Aku juga ngerasa beruntung, bisa di cintai dengan hebat oleh lelaki sepertimu" seru Mora sambil mengecup singkat bibir lelakinya.


__ADS_2