
Aletta merenggut, menyetir dengan kecepatan rendah, bukannya apa, dia hanya sedang tidak mood untuk menyetir, di samping nya ada seorang pria yang terus memperhatikan nya, terlihat dari sudut mata memandang.
"Bisa tidak jangan melihatku" gadis itu berseru dengan nada sedikit ketus. tak nyaman tentu saja. Apalagi tatapan Alex begitu tajam, seperti malaikat maut jika sedang mengincar nyawa orang.
"Aku punya mata"
"Iyhaa tapi bisa kan lihat yang lain aja, jangan aku" Aletta melirik sekilas, jantung nya juga berdebar terus sedari tadi. Heran, sudah punya istri bahkan anak tapi matanya keranjang. Harusnya di belikan kerangkeng saja biar tidak jelalatan kemana mana.
"Matanya mau nya lihat kamu" Alex menjawab sambil tersenyum tipis, melihat wajah Aletta yang merona membuat pria itu senang menggoda. Sudah lama sekali ia tidak melihat nya.
"CK, dasar mata keranjang"
"Tadi bayar rumah sakit pake uang siapa ?"
"agam" gadis itu hanya menjawab singkat
"Oh, nanti deh Aku ganti uang nya"
"Lagian kenapa sok sok an makan udang, udah tau punya alergi." Aletta menatap sekilas, menunggu jawaban pria itu, penasaran juga dia.
"Biarin aja sih, orang lagi pengin" Alex menatap ke depan, tak berani menoleh pada Aletta sama sekali.
"Ngga bermanfaat banget deh, kalau nanti keluarga mu ngomel ngomel gimana ?"
"Ngga akan" jawab Alex yakin
"ck, lain Kali jangan coba coba lagi, bahaya"
"Kamu khawatir sama aku" Alex mendekati gadis itu, sehingga membuat duduk Aletta tak tenang, apalagi saat ini dia sedang menyetir, apa dia tabrakan saja mobilnya, pikir gadis itu.
"pede banget sih, Aku cuma ngga mau aja keluarga mu susah karena kelakuan kamu yang ngga jelas." elak Aletta yang tak selebihnya bohong.
"Tumbenan peduli banget sama keluarga Ku" Aletta memutar bola matanya, sampai akhirnya dia tiba di apartment pria itu, Alex memberikan alamat di tempat ini.
"Udah turun sana, bisa kan ?" Aletta bertanya memastikan
__ADS_1
"Emang kalau ngga bisa, kamu mau mapah sampai ke dalam ?" ujar pria itu tersenyum devil
"Bowleh"
"Ngga usah langsung pulang aja, kamu pasti cape"
"Sok peduli dih" Aletta mencibir, seharian bersama membuat gadis itu tak lagi merasa canggung, apalagi pria ini sudah tak seperti dulu, yang selalu menggengkang nya.
"Oh ya, ini obat nya bawa saja sekalian" Aletta menyerahkan obat di kresek kecil pada Alex.
"Aku sudah merasa lebih baik, kurasa tak memerlukan itu lagi." Alex memang tak merasakan apapun lagi, hanya lemas saja sedikit. Tapi tak harus minum obat juga.
"Jangan keras kepala deh, mau aku aduin ke istri kamu ?" Aletta sedikit menantang, agar pria ini tak lagi keras kepala, dia bahkan sudah bersiap untuk turun, dan berdiri di depan pria itu.
"Istri ?" beo Alex dengan keryitan di dahi, Aletta melengos, sok menutupi segala, padahal sudah punya anak juga.
"Udah sana masuk, bawa obatnya"
Setelah meletakkan obat itu di tangan Alex, Aletta pun kembali memasuki mobilnya, dia harus segera pergi.
"Pergi dulu bay" Mobil itu melaju, masih dapat Aletta lihat Alex yang berdiri di tempat ya sambil memperhatikan mobilnya. Gadis itu menghela nafas lirih.
Niat hati mau ke perusahaan ayahnya malah batal Karena hari sudah beranjak senja. Gadis itu memilih untuk langsung pulang saja.
Setelah memarkirkan mobil, Aletta berjalan memasuki rumah, arka yang sedang duduk di kursi langsung menyambutnya.
"Kamu tidak bekerja ar ?" tanya Aletta duduk di kursi yang sama.
"Aku kerja dari rumah, mantau perusahaan juga"
"Oh gimana keadaan di sana"
"Masih terkondisikan sih, Aku mau balik ke sana, kamu mau ikut ?" Aletta terkejut, gadis itu tampak berfikir sejenak. Dia ke Russia Karena ingin menghindari Alex, tapi sekarang juga hubungan mereka sudah membaik.
"Aku pikirkan lagi nanti" jawab gadis itu sekenanya, tentu saja dia harus memikirkan matang matang.
__ADS_1
"oke"
Mora datang dengan Karel yang menggendong Liam kecil. Pria cilik itu tampak menatap Aletta dengan mata bulat nya.
"Mau kemana kak ?" tanya Aletta Karena melihat kakak nya yang sudah rapi.
"Mau pulang al, lagian kalian Kan juga ada di rumah, jadi kami mau pulang saja."
"Kok buru buru" arka gantian bertanya, pasalnya dia masih ingin bermain dengan keponakan lucunya itu. Bayi gembul itu begitu menarik perhatian nya.
"Kita udah nginep hampir satu Bulan ar, jadi udah harus pulang"
"Udah izin sama mama papa ?"
"Kalian Bisa ke rumah kalau mau ngajak Liam main bareng" Karel menyahut, seperti paham dengan hati kedua adik ipar nya itu.
"Yah.." Aletta berseru dengan lemas.
Dia belum bisa juga dekat dengan keponakan nya itu, sudah pisah saja, tapi yasudah lah mau apa di buat, kakaknya juga punya kehidupan sendiri.
"Ya udah aku pulang dulu ya, nanti datang saja ke rumah" Aletta dan arka mengangguk serentak.
"Sini sayang, cium aunty dulu" Aletta mendekat pada Liam, berusaha mendekati bocah cilik itu. Namun Liam menggeleng, lalu menjauhkan wajahnya.
"Sayang" Karel langsung menegur nya, namun Liam acuh saja.
"Lihat kak anak mu durhaka sekali pada Kita ya ngga" Aletta mulai mencari pembelaan arka.
"Dia hanya belum terlalu mengenalmu, seiring berjalan nya waktu pasti kalian Bisa dekat."
Arka mendekati Liam, lalu mengecup pipi bocah kecil itu, Liam tak menolak, justru malah tertawa senang, seketika saja Aletta langsung merasa cemburu.
"Apasih cil, ngga adil deh"
Mora tertawa, di ikuti oleh yang lainnya, Aletta menghentakkan kaki nya lalu berlalu menuju kamar, saat berada di dekat Karel, gadis itu langsung mencubit pipi Liam dan menarik nya pelan. Seketika saja membuat pria kecil itu menangis kencang.
__ADS_1
"Aletthaaaaa.."
Alettha tersenyum puas, tak peduli dengan teriakan kakak nya, gadis itu langsung melepas semua pakaian nya dan mandi, habis ini dia berniat untuk istirahat sebentar.