
Jam menunjukkan pukul 8 petang, waktu nya beberapa karyawan perusahaan Ivander untuk membubarkan diri dan meninggalkan pekerjaan nya masing-masing. Shofia, gadis itu berjalan pulang melewati jalan biasa, meski ada banyak taksi yang berlalu lalang, tetapi gadis itu tetap memilih untuk berjalan kaki, karena rumahnya tak begitu jauh dari kantor.
"Itu penjual seblak, astaga kelihatan nya enak banget" shofia mengulum bibirnya, gadis itu berjalan ke arah penjual seblak gerobak di jalan yang sedang di padati oleh pembeli, ia akan ikut mengantri.
Shofia pun duduk di salah satu kursi, menunggu sambil melihat penjual yang tampak sibuk dengan alat masaknya.
Drttt...
Dering ponsel milik Shofia pun menyala membuat gadis itu dengan segera mengambil hp nya.
"Eh anjay, kemana aja lu neng" ucap Shofia dengan kesal.
"Sorry ya sof, baru bisa bales. Soalnya baru sempet"
"Baru sempet gimana dah, lu tu ngga masuk kantor anjay" seru Shofia kembali, nafas gadis itu tampak naik turun karena kesal.
"Iya, maaf ngga sempet kasih pesen soal nya aku juga baru buka hp" ucap seseorang di sebrang sana.
"Sakit apa lu" tanya Shofia mengalihkan perbincangan
"Demam" ucap Mora, suara nya tampak masih terdengar serak.
"Yaelah nyemplung got lu neng bisa demam ?" Mora berdecak gadis itu ingin menjitak kepala Shofia yang bicara seenaknya.
"Kehujanan" sahut Mora singkat
"Oh, yaudah kirim alamat rumah lu, besok aku kesana kalau bisa." ujar Shofia, kini ucapannya terdengar serius. Tak seperti tadi yang menggoda Mora.
"Iya, ntar aku kasih"
"Ya udah, istirahat gih biar ceper sembuh, aku juga dalam perjalanan pulang."
"Oh gitu, yaudah aku tutup dulu ya sof"
"Iya" Telefon pun di matikan, Sofia menoleh ke arah Abang penjual yang masih asik memasak, padahal pembeli sudah habis, mungkin karena ia terlalu lama bertelefon.
__ADS_1
"Bang, mau seblak nya 1, jangan pedes-pedes ya, level 3 aja" ucap Shofia.
"Baik neng"
Shofia memilih untuk duduk di salah satu kursi, gadis itu bermain dengan handphone nya.
Gubrak
Kepala Shofia menoleh dengan cepat saat mendengar suara cukup keras, gadis itu melihat seorang gadis cantik yang tampak ketakutan, wajahnya tampak sangat kotor dengan rambut yang berantakan.
Gadis itu sepertinya habis lari dan menabrak tempat cucian milik penjual seblak yang ia beli sekarang. Shofia pun berfikir untuk menghampiri perempuan itu, karena melihat penjual seblak yang masih sibuk memasak.
"Ehh" perempuan itu menepis tangan Shofia membuat Shofia menelan ludah nya.
"Hey jangan takut, aku ngga ada niat buruk kok" ucap Shofia dengan cepat, ia tak mau gadis di depannya itu salah paham.
"Bantu aku.." gadis itu berbicara dengan bibir bergetar, mata nya juga tampak memerah entah karena apa.
"Kamu kenapa ?" Shofia tampak kasihan melihat gadis itu yang begitu ketakutan.
"Kamu pencuri ya ?" tanya Shofia, gadis itu menggeleng dengan cepat.
"Aku hanya sedang bersembunyi dari seseorang, aku tidak boleh ketahuan. Atau hidupku tidak akan tenang." gadis itu menunduk, lalu terisak pelan.
"Baiklah-baiklah kamu ikut aku saja" Shofia segera membayar makanan nya lalu mengambil bungkusan makanan itu. Lalu gadis itu membantu perempuan di depannya untuk berdiri.
Shofia memilih untuk membawa nya pulang, entah kenapa dia yang biasanya tidak perduli nampak kasihan melihat perempuan di dekatnya itu, seolah perempuan itu memang benar-benar membutuhkan bantuan.
"Kamu duduk dulu ya, aku mau ke kamar bentar" Shofia meninggalkan perempuan itu di sofa ruang tamu, lalu beranjak ke kamar untuk membersihkan diri.
Shofia turun ke dapur menyiapkan makanan yang ia beli tadi, gadis itu datang untuk kembali menghampiri gadis asing yang ia bantu.
"Kamu lapar tidak ?" tanya Shofia dengan lembut, gadis asing itu mengangguk.
"Ikut aku yuk" Shofia membantu gadis itu berjalan ke arah meja makan.
__ADS_1
"Tadi aku membeli seblak, entah kenapa aku menginginkannya. Kita bagi 2 mau ?" tanya Shofia. Gadis itu mengangguk dengan senyum tipis. Shofia pun membagi makanan itu menjadi dua lalu memberikan satu mangkuk kepada gadis asing itu.
Mereka pun makan bersama, sesekali Shofia memberikan nasi di piring gadis asing itu, ia terkekeh saat mendapatkan tatapan polos dari gadis itu.
Setelah selesai Shofia pun mengajak gadis itu untuk berbincang bersama, ia masih sangat penasaran dengan gadis yang ia bantu itu.
"Nama kamu siapa ?"
"Gracel"
"Oh ya, kenapa tadi kamu ketakutan, penampilan kamu juga tampak sangat berantakan." ucap Shofia bertanya.
"Huh, sebenarnya aku sedang lari dari seseorang. Aku takut dia menemukan ku, karena dia selalu berhasil melakukan itu. Aku tidak mau berada di dekatnya." ucap Gracel dengan mata berkaca-kaca, rupanya gadis yang di bantu Shofia adalah Gracella, mantan kekasih Karel.
"Kenapa ?" tanya Shofia
"Karena aku membencinya, entahlah dia seperti dewa kematian untuk ku."
"Apa kamu mendapat siksaan darinya" seru Shofia dengan pandangan mata kasihan.
"Tidak, dia memperlakukan ku dengan lembut. Tapi aku tak suka berada di dekatnya." Shofia mengernyit, namun tak lama kemudian mengangguk, apakah ia sedang mendengar cerita soal obsesi.
"Ya sudah, kamu tidak usah takut kamu akan aman di tempat ini." seru Shofia berusaha memberikan rasa aman pada gadis itu.
"Oh ya, sebelumnya perkenalkan namaku Shofia" Shofia mengulurkan tangannya, yang di balas dengan sebuah senyuman ramah oleh gadis di depannya.
"Terimakasih sudah membantu ku Shofia"
"Ah iya santai saja, kamu bisa tinggal di sini untuk sementara Gracel"
"Benarkah ?" seru Gracel dengan tatapan mata berbinar
"Tentu saja, aku tak akan membiarkanmu bertemu dengan laki-laki itu"
"Terimakasih Shofia, kamu baik sekali" Shofia hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1