
Karel tampak fokus dengan komputer dan beberapa berkas yang ada di meja depannya, pekerjaan memang tidak terlalu banyak, hanya tinggal menulis beberapa laporan dari karyawan dan mencatat di dalam komputer, sebenarnya ini juga tak akan menumpuk seandainya Mora tak sakit.
Gadis itu menelfon nya berulang kali, dan memaksa untuk datang ke mansion Ivander untuk membantu nya, tapi ia menolak karena bagaimanapun Mora baru saja sembuh dari sakitnya. Al hasil kini ia mengerjakan semuanya sendiri, vano juga sedang sibuk dengan pekerjaan nya di kantor. Jadi Karel tak mau terlalu membebankan asisten nya itu.
Tok...tok...tok
Karel mengernyit, tapi mata nya masih menempel pada lembar kerja, ia merasa heran saja, kenapa ada yang mengetuk pintu, padahal ia sudah meminta pa Bai untuk tak menganggu nya.
Tok...tok...tok
Pintu kembali di ketuk, terdengar cepat seolah orang di luar sana tak sabar untuk masuk, mendengar itu membuat karel berdecak kesal.
"Masuk" seru Karel datar, siap mengeluarkan umpatannya, namun ia di buat heran dengan kedatangan orang yang mengetuk pintu.
"Hai bro" Rafka datang dengan wajah tanpa dosa nya, laki-laki itu langsung melenggang dan duduk di sofa di ruangan kerja dengan santai.
"Sini, ngga kangen lu sama kita ?" Karel memutar bola mata nya, mengabaikan keberadaan dua temannya, ia lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Ck kedatangan gue bener-bener ngga di sambut, Gilang kita harus adopsi temen baru" Gilang yang mendengar ucapan rafka hanya memutar bola mata nya malas, laki-laki itu ikut duduk tak jauh dari Rafka sambil memperhatikan Karel yang tampak sibuk.
"Lihatlah lang, dia itu sedang apa sih. ngakunya CEO tapi masih sibuk otak atik berkas. Kaya buruh aja." seru Rafka sambil terkekeh kecil, Karel yang mendengar ucapan Rafka melotot, ia berdiri lalu melangkah di dekat Rafka, bahkan dengan sengaja menginjak kaki temannya itu.
"Aduh, mata lu buta ya" Rafka berteriak sambil mendorong bahu Karel, Karel hanya mengangkat bahu nya acuh.
"Pengganggu" seru nya datar
"Rel gue haus, udah lama ngga minum wine milik lu, lu ngga mau mempersilahkan kita buat minum"
"Baru dateng, ngga usah jadi perusuh"
"Ck"
"Jatuh miskin kayanya temen kita yang satu ini" seru Rafka sinis.
__ADS_1
"Bacot mulu si Rafka" Gilang yang jenuh melempar buku di meja, untung saja Rafka sigap menangkapnya.
"Lu aja kali, gue mah emang gini dari lahir"
"Kasihan emak lu punya anak berisik kaya lu"
"Biarin wlee" Gilang memutar bola mata malas
"Kalian kapan pulang ?" tanya Karel, karena yang dia tahu Rafka dan Gilang pergi ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan mereka.
"Kemarin" bukan Rafka yang menjawab tapi Gilang, karena Rafka kini sudah berbaring dengan mata yang terpejam.
"Lu tau ngga rel, temen lu pagi-pagi datang udah bikin heboh orang di bawah."
"Dia kan emang gitu"
"Malesin banget" Gilang mencibir
"Tapi lu ngga bisa kan jauh dari dia" ejek Karel yang memang benar adanya, Gilang dan Rafka itu ibarat sepaket, dari dulu mereka sudah menjadi sahabat dekat.
"Lu tau ngga rel, dia bahkan langsung kesini cuma karena pengen kumpul sama lu, padahal dia baru aja lembur beberapa hari lalu karena pengen cepet-cepet pulang."
Pembicaraan mereka terhenti saat pintu di ketuk, Karel mempersilahkan orang itu masuk, yang ternyata adalah bibi, wanita itu meletakkan cemilan dan kopi di meja lalu pamit setelah pekerjaan nya selesai.
"Makasih ya bi" seru Gilang
"Sama-sama den"
Gilang mengambil cemilan di toples kaca lalu mulai mengunyah cemilan itu, sedangkan Karel mengambil kopi nya dan menyesap nya perlahan. Mereka mengobrol tentang banyak hal, sesekali mengejek Rafka yang tampak pulas dalam tidur nya.
"Kita ke apart Andra yuk" ajak Gilang
"Kenapa kalian tidak mendatangi dia langsung saja"
__ADS_1
"Dia tidak ada di mansion, pembantu nya bilang kalau beberapa bulan terakhir ini Andra tidur di apartemen nya."
"Oh ya ?"
"Iya, aku nelfon dia buat ajak ketemuan, dia selalu mengaku sibuk" adu Gilang, Karel terdiam, jelas dia cukup tau apa yang membuat Andra sibuk, apalagi dia mengetahui jika Andra sedang bersama gadis cantik yang temannya itu beli waktu lelang.
Jujur Karel masih sangat penasaran dengan keadaan teman nya itu, memang akhir-akhir ini Andra jarang ke mansion nya, entah kesibukan apa yang membuat laki-laki itu betah di apartemen.
"Kaya nya kita sendiri yang harus ke apart nya, gue penasaran kenapa itu anak susah di ajak ketemu, ngga biasanya kaya gitu." seru Gilang, dia benar-benar heran, pasalnya Andra itu selalu bisa jika di ajak ketemu, tapi ini ? laki-laki itu terkesan menghindar malah.
"Padahal kita udah lama ngga ngumpul"
"Yaudah, kita ke apart Andra besok malam, jangan sekarang, lu sama Rafka pasti juga capek kan habis pulang."
"Iya juga sih, yaudah besok pagi kita ke apart Andra, jangan malam soalnya gue ada urusan."
"Tumben lu ada urusan, urusan apa ?"
"Tumben Karel kepo"
"Dih" Karel ikut menyandarkan kepala nya di sandaran sofa, kebetulan sekali habis itu Rafka bangun dari tidur nya.
"Sorry ya gue tinggal tidur" sahut laki-laki itu dengan tampang tengil nya.
"Lu mati juga ngga papa"
"Anjg"
"Gue sumpel pake kaos kaki gue tu mulut, ngomong kasar lagi." seru Gilang kesal.
"Sorry-sorry habis mulut lu jahat sih" seru Rafka terkekeh pelan.
Rafka mengucek mata nya, melihat ada kopi dan cemilan di atas meja membuat laki-laki itu merampas nya, ia menyesap kopi yang masih hangat itu dengan mata terpejam. lalu membuka toples berisi cemilan.
__ADS_1
"Itu mata di buka dulu napa, merem terus" sahut Gilang
"Eh diem deh" seru Rafka menunjuk Gilang, masih dengan mata terpejam.